Aurara menghela dan mengembuskan napasnya perlahan. Dia menunduk, menatap jar memory dalam genggamannya lamat-lamat. Perlahan Aurara membuka tutupnya, di dalamnya terlihat beberapa stickey notes. Tadi Aurara sudah memasukkan 'kenangannya' lagi dalam sana. Aurara tersenyum. Ini pemberian pertama Kaka setelah mereka resmi pacaran. Tidak mewah, namun tampak sangat berharga karena akan menjadi penampungan kisah-kisah mereka yang entah akan berlanjut atau tidak. "Andai hati gue nggak buatan Tuhan, mungkin udah hancur lebur sekarang," gumam Aurara sedih. Terlalu banyak luka untuk hatinya. Hatinya bekerja keras akhir-akhir ini. Aurara mulai berpikir jika orang-orang tak memberinya waktu untuk bahagia. Tiba-tiba ponsel di atas ranjangnya berdering, menandakan jika ada telpon masuk. Aurara memb

