Lay mengetuk-ngetuk meja dan menampilkan wajah datar saat ia dihadapkan dengan manajer kafe dan juga dengan Ayu yang berdiri bersedekap. Keduanya, ayah dan anak itu menatap Lay dengan bengis seolah ingin mengulit dan menghakimi Lay saat itu juga. Masalahnya, Lay terlalu santai dan tidak terintimidasi dengan keadaan. Bukankah hal seperti ini sudah biasa ia dapatkan dari kepala sekolahnya. Ia tidak heran apalagi terkejut batin. “Jadi kamu sudah menikah?” Manajer itu bertanya. Plak Memukul meja kuat dengan kedua tangannya. Lay mengulum senyum. Emosi yang terlalu terburu-buru bahkan ia yakin tapak tangan itu memerah dan juga sakit lantaran yang dipukul adalah kayu jati sedangkan tapak tangan bukanlah besi. “Kenapa kamu tidak mengatakan sejujurnya?” Manajer itu kembali berbicara d

