Lay terus mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Sedotan jus apel masih menempel di bibirnya meskipun gelas telah kosong tanpa isi. Netra mengarah pada dinding kaca, menatap keluar menyaksikan tetesan hujan yang terus jatuh mengguyur bumi sejak pagi tadi. Tidak ada pembicaraan yang terjadi sejak menginjakkan kaki di kantin. Lay terlalu terhanyut pada pikirannya sendiri. Sedangkan Kanaya yang menemaninya hanya menatap penuh kebingungan serta curiga mendalam. Bukan curiga jika Lay melakukan kejahatan, tapi curiga jika Lay memiliki masalah serius dan pasti soal Naina. Lay tidak akan seperti terlihat bodoh kalau bukan karena Naina. “Aish!” Lantas Lay yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara meskipun terdengar seperti kekesalan. Kanaya menggelengkan kepala. “Lo bego, ya?” Lay

