Tok Tok Tok Lay mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya dengan lembut meskipun memburu. “Pa, Ma, aku mau ngomong!” kata Lay dengan nada sedikit meninggi. Krek Pintu terbuka dan menampakkan Zafran yang mengernyitkan kening. “Soal apa?” “Soal menantu Papa pastinya,” sahut Lay. “Kalau menjelek-jelekkan Naina, mending kamu masuk kamar sana. Papa gak punya waktu.” Lay mengembuskan napas. Apes banget dirinya sejak orang tuanya memiliki Naina sebagai menantu. Yang dibela pasti Naina dan dia selalu kena omel panjang kali lebar layaknya rumus Matematika. “Aku bahkan belum mengatakan apa masalahnya, Papa udah main usir aja.” Lay menggeserkan papanya dari depan pintu agar ia bisa masuk. Lay menggeleng kepala melihat sikap Lay. Sebenarnya sudah biasa, tapi tetap saja ia heran l

