Bu Amirah

1117 Kata
Setelah selesai menyantap sarapannya, Kanya membersihkan meja dan mencuci piring kotor bekas ia pakai. Kemudian ia ke ruang tamu dan berharap bisa melakukan bersih-bersih rumah saat mendengar pintu terbuka dari luar. Kanya berpikir bahwa itu adalah Dimas, namun harapannya pupus saat melihat seorang wanita yang sekiranya berusia sama dengan ibunya masuk sambil menenteng sekantong belanjaan. Wanita itu tampak kaget saat melihatnya, namun sedetik kemudian ia tersenyum dengan ramah. Kanya bisa merasakan kehangatan dari senyum itu dan mengingatkannya pada ibunya. "Tuan Dimas sudah berangkat ke kantor?" Kanya mengangguk canggung. "Iya, benar." Wanita itu kembali tersenyum. "Tidak perlu sungkan seperti itu. Ibu hanya bertugas untuk menyiapkan makanan dan membersihkan rumah Tuan Dimas. Nama ibu Amirah. Kalau perlu apa-apa bilang saja." "Iya, terima kasih. Nama saya Kanya." "Tuan Dimas sudah menceritakannya tadi malam. Katanya kamu akan di sini selama beberapa waktu." Kanya mengikuti langkah Bu Amirah yang berjalan menuju dapur dan mulai memasukkan barang bawaannya ke dalam kulkas. "Biar saya bantu." "Tidak usah. Ini sudah tugas ibu jadi kamu istirahat saja. Oh iya, Tuan Dimas menyuruh ibu untuk memberikan ini." Bu Amirah menyerahkan sebuah tas kepada Kanya yang menerimanya dengan alis bertaut. Melihat wajah bingung Kanya membuat Bu Amirah tersenyum. "Itu adalah beberapa pasang baju yang Tuan Dimas beli untuk kamu." "Dia tidak harus melakukan ini." Kanya menampilkan wajah tidak enak. Diizinkan tinggal di sini saja sudah cukup untuknya, ia tidak berharap diberikan lebih oleh laki-laki itu. "Tidak apa-apa. Bagi tuan Dimas itu hal biasa." "Tapi aku hanya orang asing yang baru ditemuinya." Gumaman Kanya yang hanya ia tujukan pada dirinya itu ternyata dapat didengar dengan baik oleh Bu Amirah. Wanita itu mengusap rambutnya dengan hangat membuat Kanya mendongakkan wajahnya melihat Bu Amirah yang selalu menampilkan senyum hangatnya. "Tidak ada istilah orang asing saat ingin membantu seseorang. Lagipula kalian mengetahui nama satu sama lain saja sudah cukup membuat Tuan Dimas menganggap kamu sebagai bagian dari keluarganya. Kamu pasti sudah tahu betapa baiknya tuan Dimas, kan?" Kanya mengangguk. Tangannya meraih tangan Bu Amirah dan menggenggamnya erat. Meresapi kehangatan yang tersalurkan dari sana. "Iya, saya tidak pernah bertemu orang sebaik dia. Tapi saya juga bersyukur bisa mengenali anda." "Panggil ibu saja dan tidak usah bicara terlalu formal." Kanya mengangguk dan melepaskan tangan Bu Amirah. "Nah, sekarang kamu mandi dan istirahatlah. Ibu akan menyiapkan cemilan untukmu setelah selesai bersih-bersih." "Aku bisa bantu bersih-bersih." "Tidak usah. Ibu masih cukup kuat untuk melakukan semuanya sendirian. Lagipula ibu tidak akan membiarkan tamu istimewa tuan Dimas melakukan pekerjaan kotor seperti itu." "Tapi ...." "Sudah." Bu Amirah mendorong Kanya keluar dari dapur dan menyuruhnya untuk duduk santai di atas sofa. "Kamu duduk saja di sini dan biarkan ibu menyelesaikan semuanya." Ia tersenyum sebentar sebelum beranjak meninggalkan Kanya yang termenung dengan tas pakaian di pelukannya. *** Kanya memperhatikan beberapa mini dress yang dibelikan Dimas untuknya. Bahkan ada beberapa pasang pakaian dalam juga yang mana membuatnya malu memikirkan laki-laki itu memilih sendiri pakaian dalam itu. Setidaknya ada tiga belas baju dan pakaian dalam yang Dimas belikan untuknya. Bahkan melihat dari bahan dan mereknya saja Kanya bisa menebak harga fantastis dari baju-baju itu. Ia menghela napas panjang memikirkan hal itu. Ia tidak akan bersikap tidak nyaman seperti ini jika laki-laki itu hanya membelikan satu atau dua baju. Ia tak pernah berpikir laki-laki itu akan membelikannya pakaian apalagi sebanyak itu. Padahal ia cukup hanya dengan memakai kaos dan celana training yang disiapkan oleh laki-laki itu. Setelah berpikir sejenak ia kemudian memilih untuk mengenakan gaun dengan corak bunga-bunga kecil berwarna krem. Berlengan panjang dan panjang gaunnya di bawah lututnya. Ada sebuah tali yang bisa diikat selayaknya pita di bagian leher memberikan kesan lucu dan menarik. Ia tak pernah berpikir Dimas memiliki selera yang bagus tentang fashion perempuan. Selesai dengan gaun yang dipakainya ia kemudian merapikan baju-baju lainnya dan menyimpannya kembali di dalam tas. Kemudian membawanya keluar dari kamar mandi. Di ruang tamu ia bertemu Bu Amirah yang sedang membersihkan karpet dengan vacuum cleaner. Wanita itu tersenyum dan tampak senang melihat penampilannya. "Baju itu tampak cocok sekali denganmu. Tidak salah Tuan Dimas menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilihnya." Kanya tampak malu-malu. Ia menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinganya dan meletakkan tas berisi pakaian di atas sofa. "Terima kasih. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan Dimas dengan apa." Suara bising yang dihasilkan vacuum cleaner berhenti yang menandakan Bu Amirah selesai dengan pekerjaannya itu. "Tidak perlu khawatir soal itu. Ibu yakin Tuan Dimas tidak pernah mengharapkan apa-apa saat memberikannya. Ibu juga sudah membersihkan kamar yang akan kamu pakai mulai hari ini." Kanya mengikuti langkah Bu Amirah menuju sebuah kamar tepat di samping kamar yang ia tempati tadi malam. Bu Amirah menyalakan lampunya dan Kanya bisa melihat betapa luasnya kamar itu. Tak jauh berbeda dari kamar sebelah yang ia yakini milik Dimas. "Kamu bisa menyimpan baju-bajumu di dalam lemari." Bu Amirah menunjuk lemari besar yang menempel di dinding depan ranjang. "Dan berikan baju kotormu untuk ibu cuci." "Aku sudah mencucinya. Sudah ku jemur juga." Kanya tersenyum canggung kembali mengingat betapa ia kesusahan menggunakan mesin cuci canggih yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Ia hanya menekan beberapa tombol di mesin cuci itu yang menurutnya tombol yang tepat berdasarkan instingnya. Beruntung ia bisa menyelesaikannya dengan baik. Sungguh ia menjadi orang yang sangat norak semenjak tinggal di rumah mewah ini. Bu Amirah tersenyum melihat wajah canggung Kanya. Ia bisa menebak apa yang terjadi hanya dengan melihat ekspresi gadis itu, karena ia juga dulu sempat mengalami hal yang sama waktu pertama kali bekerja di sini. "Ya sudah. Kamu bisa istirahat sekarang. Ibu akan menyiapkan makan siang untukmu. Tuan Dimas tidak akan pulang sebelum jam dua belas malam." Kanya mengangguk dengan senyuman. Ia ingin menawarkan bantuan tapi ia yakin akan mendapatkan penolakan. Jadi ia memilih untuk mendengarkan ucapan perempuan itu dan berbaring di ranjang setelah kepergian Bu Amirah. Ia ingat ia belum memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari dan segera bangkit dari tidur. Ia menggantung baju-bajunya yang bahkan tak bisa mengisi setengah lemari. Setelah merasa puas dengan hasil pekerjaannya dan menutup pintu lemari, ia kemudian berjalan menuju rak buku di samping ranjang. Saat pertama kali memasuki kamar itu matanya langsung tertuju pada rak buku yang tampak penuh dengan buku. Ia memang sangat suka membaca buku sejak kecil. Mulai dari novel, buku motivasi atau pelajaran ia akan membaca semuanya. Setelah menelusuri setiap rak dan buku ia akhirnya memilih untuk mengambil sebuah novel yang tampak mencolok di antara buku lainnya. Sebuah novel romansa percintaan dengan sampul yang menampilkan dua orang laki-laki dan perempuan yang saling tersenyum dengan pakaian pengantinnya. Kanya tidak pernah memikirkan soal pernikahan sebelumnya. Namun, melihat novel itu membuatnya kepikiran dan berharap bisa menemukan laki-laki yang akan menjadi imamnya di masa depan. Ia membuka lembar pertama dan hanya dalam beberapa detik kemudian ia larut dalam bacaannya tak menyadari waktu yang berlalu dengan cepat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN