Bebita dan Felix tidak bisa tidur karena sore tadi sudah tidur, pasutri lain mungkin akan memanfaatkan kesempatan ini untuk saling berbagi kehangatan, tapi berbeda dengan kedua sejoli ini yang malah main game.
"Cemen amat lo, Lix," ucap Bebita karena Felix kalah lagi dalam permainan.
"Lo curang!" seru Felix tak terima,
"Gue gak curang! Ya-yah! Elo yang curang!"
Felix mengambil segenggam tepung, kemudian ia mengotori wajah Bebita dengan tepung tersebut, sesuai kesepakatan, yang kalah akan dicoret tepung wajahnya. Tapi seharusnya tidak sebanyak yang Felix lakukan.
Bebita langsung terbatuk-batuk, ia tidak terima, dan ingin membalas, namun Felix sudah dulu menangkap tangannya, ia menggelengkan kepalanya, sembari menyeringai.
"No babe." Ucap Felix menggunakan suara beratnya, yang membuat Bebita merinding mendengarnya.
"Harus sportif dong, kalau gue belum kalah, ya lo gak boleh ngasihin gue tepung,” kata Felix.
Bebita berdecak kesal, mereka kemudian melanjutkan permainan yang sudah memasuki ronde ke delapan, dan yang paling banyak kalah Bebita.
Padahal di awal ia banyak menang.
Lanjut ke ronde berikutnya, kantuk pun mulai menyerang keduanya.
"Ngantuk ya, Lix,” gumam Bebita sebelum menguap.
Bukan jawaban yang ia dengar, ia malah mendengar suara dengkuran di sampingnya, Bebita pun menoleh dan menemukan Felix tidur dengan kepala mendongak di pinggir ranjang.
Bebita menghela napas, tangannya masih memegang konsol, sepertinya memang sudah waktunya tidur.
Bebita mematikan televisi, dan membereskan konsol game. Ia mengambil tisu basah bayi untuk membersihkan tepung pada wajah dan leher Felix. Tanpa sadar matanya terpaku melihat wajah Felix.
Ia jadi teringat apa yang membuatnya pertama kali terpesona pada pria itu, bukan wajahnya, tapi suaranya. Suaranya berat dan menjadi ciri khas, padahal wajahnya manis.
Tanpa disadari jarak wajahnya dengan Felix jadi menipis, kepala Felix yang sebelumnya menengadah, tiba-tiba menoleh ke samping, atau lebih tepatnya ke arah Bebita yang berada di samping wajahnya, membuat pucuk hidung mereka bertemu.
Felix tak lama membuka matanya, namun tidak terbuka seluruhnya. Ia merapatkan tubuhnya pada Bebita, sebelum ngeraih tengkuk gadis itu, bibir mereka pun bersentuhan, tapi benar-benar hanya saling menempel.
Beberapa detik kemudian, Felix akhirnya menjauhkan bibir mereka, namun tidak dengan jarak wajah, wajah mereka masih saling berdekatan, Felix menatap Bebita dengan matanya yang sayu karena mengantuk.
"Kita sebenernya... bener-bener saling suka gak, sih?" tanya Felix.
Bebita terdiam tidak bisa menjawab. Salah satu tangan Felix tiba-tiba merengkuh pinggang Bebita, ia memeluknya cukup erat sembari menenggelamkan wajahnya pada bahu Bebita.
Felix memejamkan matanya setelah itu, sementara Bebita tidak bisa berkutik, ia hanya diam, dan merenungi pertanyaan Felix.
•••
Felix hari ini ada jadwal, jadi pagi-pagi Bebita sudah bangun buat menyiapkan baju, air hangat untuk mandi, serta sarapan. Felix juga bangun lebih pagi meskipun lebih dulu Bebita.
Ia langsung buru-buru bersiap, karena nanti ada mobil yang jemput. Shownya di luar kota, tapi Felix tidak akan menginap. Pulang acara ia akan langsung balik, padahal Bebita sudah bilang untuk menginap saja di hotel, karena acaranya malam, acara bisa selesai jam sebelas, dua belas, atau bahkan jam satu, nanti sampai ke rumah bisa subuh atau bahkan sudah pagi.
Tapi pada akhirnya Bebita menyerahkan keputusannya di Felix, dia mau bagaimana.
Semalam, Bebita terpaksa menyeret tubuh Felix untuk naik ke atas kasur, padahal sudah Bebita bangunkan untuk pindah, tapi Felix tidak bangun-bangun, bahkan saat diseret tidak ada reaksi.
Yang menjadi pertanyaan Bebita tentang kejadian semalam, apakah Felix ingat dengan ciuman itu? Dan juga apa yang ia katakan, jangan-jangan ia hanya mengigau.
Tetapi jujur, ciuman itu semalam berkesan untuk Bebita, menurutnya itu penuh dengan perasaan.
Felix tak lama kemudian muncul ke dapur, ia sudah rapi dan wangi. Ia lalu duduk di salah satu kursi meja makan, dan tidak pakai protes seperti biasanya, ia langsung mengambil garpu untuk nyantap brokoli dan daging yang dipotong kecil-kecil, lalu direbus bersama bumbu.
Felix makan tanpa bicara apapun, di tengah aktivitas makannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi, Felix pun mengeceknya. Beberapa saat dari melihat ponselnya, Felix langsung bangkit berdiri.
"Udah dijemput, gue berangkat dulu, ya?" ujar Felix.
"Ya udah, hati-hati.” Ucap Bebita.
Felix mengangguk, kemudian lekas pergi dari dapur. Tetapi tiba-tiba ia kembali, yang membuat Bebita mengernyit kebingungan.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Bebita.
Felix tidak menjawab, ia mendekati Bebita, kemudian mendaratkan ciuman di atas kening gadis itu, yang membuatnya tersentak kaget dan mematung.
"Dah Beb. Bebeb, hehe, hati-hati di rumah." Setelah berkata demikian, Felix dengan terburu-buru pergi agar Bebita tidak melihat wajahnya yang merah padam.
Bebita di dapur memegangi bekas ciuman Felix di keningnya, perasaannya campur aduk antara terkejut, malu, bingung dan senang.
•••
Felix tidak tahu apa yang sudah merasukinya sampai melakukan hal tadi, mencium kening Bebita, dan bilang dengan panggilan ‘bebeb’ pula, yang biasa diartikan ‘sayang’, tapi ada rasa senang yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata setelah melakukannya. Apa lagi melihat raut wajah terkejut serta tersibu Bebita.
Soal kejadian semalam, Felix antara sadar dan tidak.
Saat ia baru akan masuk mobil, Felix dikejutkan dengan adanya seorang perempuan di dalam mobil, bersama dancer dan manajer.
Itu perempuan yang kemarin Felix tabrak, tanpa sadar Felix malah jadi mematung di depan pintu mobil.
"Woy! Kok bengong sih? Masuk!" lamunan Felix seketika buyar karena diteriaki salah satu rekannya.
Felix pun bergegas masuk ke dalam mobil, seraya melirik perempuan itu yang duduk di belakang, terus beralih menatap rekan-rekannya.
"Siapa?" tanya Felix dengan nada berbisik.
"Yang mana?" respon rekannya yang ditanyai.
"Itu, yang pakai jilbab itu, gak mungkin gue tunjukkan?” ujar Felix, masih dengan menggunakan nada yang sama.
"Amah namanya, dia stylish kita hari ini.”
Felix menganggukkan kepalanya mengerti, “Oh gituu...”
•••
Karena Felix sedang kerja, Bebita pun ikutan kerja. Ya, walau hanya duduk di depan laptop, buat memilih-milih foto-foto yang ia ambil beberapa minggu lalu sebelum nikah, setelah itu nanti ia edit sedikit dan tinggal kirim ke klien-nya.
Kalau untuk pameran Bebita biasanya tidak memotret orang, tapi jika temanya harus menggunakan orang, ia akan menyewa model atau influencer yang namanya belum terlalu besar untuk menghemat budget. Tetapi belakangan ini ia sudah jarang ikut pameran, selain karena sibuk mengurus pernikahan, sedang jarang ada yang mengadakan pameran. Mungkin kalau dana lebih, Bebita akan membuka galerinya sendiri.
Sebenarnya, seharusnya menjelang menikah, Bebita tidak mengambil job, tapi namanya juga Bebita dan Felix, mereka berbeda dari kebanyakan orang biasanya, menjelang hari H pernikahan, tetap saja keduanya bekerja.
Lima foto untuk satu klien-nya sudah selesai ia kerjakan, Bebita pun mengirimnya lewat email, dan selesai dikirim ia kembali melanjutkan mengedit foto-foto untuk klien yang lain.
Tak lama kemudian ada email balasan dari klien pertama yang foto-fotonya sudah dikirim.
Tinggal transfer sisanya ya?
Isi pesan email tersebut, Bebita pun menjawab dengan singkat.
Yoi.
Dia teman lama Bebita sebenarnya, temannya saat kuliah, namanya Jovin, satu fakultas dan jurusan, tapi tidak terlalu dekat, karena laki-laki juga soalnya. Dengan perempuan saja ia jarang bisa akrab, temen zaman kuliah hanya tiga orang, dan itu perempuan semua. Apa lagi dengan laki-laki, sama sekali tidak ada yang dekat.
Kembali Jovin mengiriminya email.
Lunasinnya gak usah transfer ya? Gue bayar dimuka aja.
Bebita mengernyit membaca pesannya, ia pun mengetik pesan balasan.
Kenapa?
Langsung dibalas dengan cepat.
Biar reuni sekalian,
Gue sebenernya lebih pengen tau kota ini. Gue kan baru pindah kerja ke sini, belum tau banyak. Jadi sebenernya lebih pengen lo temenin gue jalan-jalan gitu, yang udah lama tinggal di sini.
Bebita berpikir sejenak, menimang permintaan Jovin, sebelum memberi jawaban.
Berarti lo harus kasih gue bonus dong?
Tulis Bebita, Jovin pun kembali membalasnya dengan cepat.
Gampang.
Bebita pun akhirnya mengiyakan permintaan Jovin, setelah berpikir cukup lama, tapi tentu saja ia hendak izin terlebih dahulu pada Felix, kalau Felix melarang, ia tidak akan jadi bertemu dengan Jovin.
Gue izin suami gue dulu, ya?
Setelah mengirim email tersebut, Bebita mengambil ponselnya untuk menghubungi Felix.
Bagaimanapun Felix itu suaminya, apa-apa ia tetap harus izin dengannya, apa lagi ini ia mau jalan keluar bersama pria lain. Kalau tidak ada izin suami, ia merasa kurang beretika, seolah-olah jadi sedang selingkuh.
"Halo," ucap Bebita begitu panggilan telfonnya diangkat.
"Halo, kenapa nelfon? Gue lagi latihan nih," ujar Felix dari seberang sana.
"Maaf ganggu, gue mau minta izin,"
"Minta izin apaan?"
"Gue mau jalan-jalan sama temen lama, temen kuliah dulu,"
"Cewek, cowok? Namanya siapa?"
"Cowok, namanya Jovin,"
"Jam berapa mau perginya?"
"Jam empatan sore,"
"Jam tujuh udah harus pulang. Kirim bukti entar,"
"Iya...”
"Eh, eh. Btw gue udah tau loh nama cewek yang kemaren gue tabrak,"
"Siapa? Gimana bisa tau?"
"Namanya Amah, dia jadi stylish buat dancer, haha, gak nyangka,"
"Oohhh... lo udah kenalan?"
"Enggak ah, ngapain?"
“Kayaknya kemaren lo tertarik sama dia,”
“Hahaha, gue emang sempat kayak woah gitu pas pertama kali liat, karena jujur, emang cantik, tapi kan gue udah punya istri, dan istri gue lebih cantik dong, uwu, uwu!”
“Ih, apaan sih? Dari pagi aneh lo, nyium, terus sekarang bilang gue cantik,”
“Emang gak suka gue bilang cantik? Dari pada gue bilang cewek lain cantik, mending muji istri gue sendiri lah, lagian kenyataan kok, lo cantik,”
Bebita tersipu, untung tidak ada Felix di depannya yang bisa melihat raut wajahnya yang memalukan.
"Ya udah, udah dulu, gue masih harus latihan nih,"
"Oke,”
"Kasih semanget dong"
"Semangat my Piliksku sayanggg..."
"Ih geliii,”
"Tadi katanya lo minta disemangetin. Gimana sih?"
"Hahaha, iya dehh, makasih semangatnya. Lo nanti hati-hati, kabarin gue terus,"
"Iya, pasti. Ya udah, kalau udah,”
"Lo tutuplah telfonnya,"
"Lo aja deh yang tutup,"
"Yang nelfon duluan siapa?"
"Gue,”
"Jadi yang harus nutup?"
"Elooo... kan gue udah yang nelfon, nah gantian, elo sekarang yang tutup,"
Felix mendengus, tapi kemudian tertawa.
“Ya udah, gue tutup ya, dadah...”
Bebita menjawab dengan gumaman, namun sambil tersenyum. sambungan telfon pu berakhir, Bebita menatap layar ponselnya dengan raut wajah tidak rela.