Felix memilih tidak berkenalan lebih jauh dengan Amah, ia hanya mau menganggapnya sebagai rekan kerja, bagaimana pun ia harus menghormati statusnya yang sudah menjadi suami. Lagi pula percuma mau mendekatinya, kan dia sudah menikah, ia tidka mau menjadi pria berengsek.
Malah karena sempat tertarik dengan Amah, ia jadi menyadari statusnya sebagai suami, dan tanpa sadar berusaha untuk memperlihatkan statusnya sebagai suami entah pada Bebita atau orang lain. Padahal sebelumnya ia masa bodoh dengan statusnya, bahkan bersikap seperti anak kecil pada Bebita.
Namun sekarang ia malah kepikiran dengan Bebita yang hendak jalan dengan pria lain, padahal ia yakin seratus persen, perasaannya pada Bebita masih abu-abu, belum pasti ia sayang sebagai pasangan.
Tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal dan tidak nyaman. Yah, Bebita memuja idolanya saja, ia sudah kepanasan, apa lagi ini mau jalan dengan pria lain?
Felix seketika merasa menyesal sudah memberi Bebita izin, jadi kepikiran.
"Felix!" tiba-tiba ada yang memanggilnya, membuatnya tersadar dari hiruk pikuk pikirannya sendiri, dan rupanya yang memanggil Amah.
Felix pun bergegas menghampirinya yang sedang memegang dasi yang menjadi bagian atribut perfome, tanpa mengatakan apa-apa, Amah langsung memakaikan dasi tersebut pada kerah baju Felix.
Dan selama Amah memakaikannya atribut untuk tampil, pikiran Felix melalang buana memikirkan Bebita.
•••
Selesai mengenakan riasan, dan berganti baju, Bebita meraih tasnya dan bersiap untuk pergi. Jovin sudah menunggunya di bawah, iya, ia dijemput.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Felix, saat Bebita baru saja keluar dari apartemennya.
From: Suami bulukku
Gak jadi gue kasih izin,
To: Suami bulukku
Lah? Tiba-tiba? Kenapa? Labil banget, temen gue udah jemput tau, lagi nunggu dia,
From: Suami bulukku
Yaa... ya udah deh,
To: Suami bulukku
Kenapa tiba-tiba gak ngizinin?
From: Suami bulukku
Gak tau, kepikiran aja tiba-tiba gue sama lo,
To: Suami bulukku
Cieee... cemburu Mas?
From: Suami bulukku
Pede banget sih Mbakkk... ya udah deh, gue mau latihan dulu,
To: Suami bulukku
Ya udah. Semanget suami bulukku sayanggg...
From: Suami bulukku
Pasti nama kontak gue ada buluknya, ya?
To: Suami bulukku
Hehehehe, gak buluk kok, buat panggilan kesayangan aja,
From: Suami bulukku
Untung Felix yang dirahmati wajah ganteng ini, juga dirahmati kesabaran,
To: Suami bulukku
Apa? Gak kebaca,
From: Suami bulukku
Udah, hati-hati lo di jalan, inget, kabarin gue selalu, titik!
To: Suami bulukku
Iya, sayang.
Bebita kemudian menyimpan ponselnya ke dalam tas, dan buru-buru masuk ke dalam lift untuk ke lantai bawah.
Begitu ia keluar gedung apartemen, ia melihat mobil putih yang kacanya dibuka, jadi ia bisa langsung tahu mobil mana yang harus ia hampiri.
Bebita pun lekas menghampiri mobil tersebut dan mengetuk pintunya, Jovin seketika menoleh dan tersenyum padanya.
"Udah nunggu lama, ya?" tanya Bebita.
"Enggak kok, cuman satu abad," jawab Jovin, yang membuat Bebita mendengus.
"Yee, bisa aja lu," gumam Bebita.
Jovin kemudian mempersilahkan Bebita untuk masuk, gadis itu duduk di samping kursi kemudi.
"Gimana kabar lo?" tanya Jovin setelah Bebita ada di dalam mobilnya.
"Baik, kayaknya kita belum lama deh ketemunya, udah nanyain kabar aja lu. Gue gak akan nanya balik kabar lu, karena gue tau jawabannya baik-baik aja," papar Bebita.
Jovin tertawa mendengarnya. Ia lalu menutup kaca jendela mobilnya, sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan gedung apartemen.
"Lo kayaknya makin kocak ya habis nikah, kebawa-bawa suami atau gimana? Suami lo pasti humoris, ya?" ujar Jovin untuk basa-basi.
"Hahaha, enggak, cuman agak aneh aja orangnya,” jawab Bebita.
"Kapan nih punya momongan?" tanya Jovin.
"Gak tau, belum ada rencana,” jawab Bebita dengan diselingi tawa getir, entah kenapa ia tiba-tiba jadi merasa sedih.
"Kenapa?” respon Jovin bingung sembari melirik ke arah Bebita, melihat raut wajah tidak enak gadis itu, membuatnya jadi merasa bersalah.
"Aahh, maaf ya, gue malah jadi kepo sama hal yang gak seharusnya,” ucap Jovin.
Bebita tersenyum simpul, “Gak papa kok, santai aja, cuman... gue harap gak akan pertanyaan kayak gitu lagi,” Bebita mengucapkan kalimat terakhir dengan nada pelan.
Jovin mengangguk, “Iya, pasti!”
“Btw, gimana selama lo tinggal di sini? Nyaman gak?” tanya Bebita untuk mengalihkan pembicaraan.
“Lumayan, cuacanya sih yang gue suka, siang emang suka panas, tapi gak begitu sering, lebih sering sejuk, terus pas malem dingin, kalau di Jakarta kan, panas terus,” tutur Jovin.
“Haha, iya emang, gue cuman sesekali ke Jakarta aja, suka gak betah.” Kata Bebita.
“Ngomong-ngomong gue kaget banget denger kabar lo nikah, gue gak nyangka lo bakal nikah muda, soalnya pas kuliah lo anaknya bebas banget, kesana-kemari, main sana-sini, gak keliatan kayak orang yang bakal nikah muda gitu,” celoteh Jovin.
“Sebenernya gue juga gak percaya sih bakal nikah, sama sekali gak kepikiran, apa lagi gue belum lama lulus kuliahnya, tapi tiba-tiba aja Tuhan udah datengin jodohnya. Cuman... hah, gak tau ya, gue kadang ngerasa pilihan gue salah,” papar Bebita.
“Loh? Kok gitu? Emang lo gak happy nikah? Lo gak cinta sama suami lo?” tanya Jovin.
“Gak gitu, gimana ya jelasinnya? Pokoknya gue ngerasa ada yang ganjel aja di pernikahan gue,” jawab Bebita.
“Eeumm, gue gak mau ikut campur, tapi gue berharap, semoga pernikahan lo baik-baik aja,” tutur Jovin.
Bebita tersenyum sembari mengangguk, “Makasih ya?”
Jovin membalas dengan anggukkan.
•••
Bebita mengajak Jovin ke tempat-tempat asik yang Bebita tahu, saking asiknya ia sampai tidak mengecek ponselnya sama sekali, foto-foto malah menggunakan ponsel Jovin, habis ponsel Jovin kameranya jauh lebih jernih dari pada ponsel miliknya sendiri.
Tidak terasa ia dan Jovin pergi sampai malam, sampai kisaran jam delapan malam, dan kini mereka tengah antri untuk membeli hot dog.
Saat sedang antri, Bebita baru menyadari kalau ponselnya berbunyi, jadi ia pun pamit pada Jovin dan keluar dari antrian, Jovin menatapnya heran, dan Bebita memberi isyarat kalau ia ada sedikit urusan.
Bebita membuka tasnya untuk mengambil ponselnya, banyak panggilan telfon masuk serta pesan dari Felix, yang membuat gadis itu seketika khawatir, ia pun membuka pesan terlebih dahulu.
From: Suami bulukku
Maaf ini sama istrinya Felix kan ya?
From: Suami bulukku
Felix cedera sekarang masuk rumah sakit.
From: Suami bulukku
Maaf, kok telfonnya gak diangkat-angkat ya?
From: Suami bulukku
Mbak?
From: Suami bulukku
BEEEEBBBBB GUE MASUK RUMAH SAKIT TAU GAK SIHHH!!! LO KEMANA?!
From: Suami bulukku
Lo masih jalan sama Jovin? Lupa disuruh pulang jam berapa?
From: Suami bulukku
Pokoknya gue marah, gue kesel sama lo!
From: Suami bulukku
Gue gak mau ngomong sama lo pokoknya, gue marah.
From: Suami bulukku
Kaki gue sakit banget tau gak? Lo lupa apa punya suami?
Bebita berlari menghampiri Jovin dengan panik, Jovin pun balik menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Kenapa?” tanya Jovin.
“Gue harus pulang sekarang, suami gue masuk rumah sakit,” jawab Bebita.
“Kok bisa? Gimana kondisinya sekarang?”
“Katanya cedera, gue juga gak tau gimana kondisinya, makanya gue mau ke rumah sakit sekarang,”
“Ya udah, oke-oke, lo tenangin diri lo, biar gue anter.”
Bebita mengangguk, Jovin pun kemudian berjalan duluan menuju mobil, lalu Bebita mengikutinya dari belakang.
•••
Begitu Bebita sampai ke rumah sakit, dan memasuki kamar inap Felix, ia langsung disambut dengan tatapan tajam, serta bibir maju suaminya itu.
Bebita menghela napas, yang ia bingungkan sekarang bagaimana caranya mengatasi ‘ngambek’-nya Felix, ia hanya pernah menghadapinya sekali saat pacaran, karena lama membalas chat. Merajuknya Felix benar-benar seperti bocah, membuat Bebita seolah menjadi ibu yang sedang menghadapi anaknya tantrum.
Ia melihat kaki Felix di gips, kakinya pun melangkah mendekati ranjang, dimana Felix terduduk di sana, dengan kepala menyandar ke dinding.
"Kok bisa cedera gini Lix?" tanya Bebita dengan nada lembut.
Felix bukannya menjawab pertanyaan Bebita, malah melipat kedua tangannya di depan d**a, sembari menolehkan kepalanya ke arah lain.
"Maaf, Lix, tadi gue sama sekali gak nge cek hp,” ujar Bebita mencoba memberi pengertian pada Felix.
"Lix, beneran gue minta maaf. Harus apa nih gue biar lo gak ngambek lagi?"
Felix akhirnya menatap Bebita, namun dengan raut wajah yang masih ditekuk.
"Tau gak?" seru Felix tiba-tiba yang membuat Bebita terkejut, sampai rasanya hampir jantungan.
"Tau gak apa? Lo aja belum ngasih tau apa-apa," ucap Bebita sembari berdecak kesal, karena sudah dibuat terkejut.
Felix lalu menunjuk kakinya yang digips. "Sakit tau gak? Huhuhu, sakit banget ini tuhhh... tadi tuh gue lagi latihan di panggung, tapi panggungnya licin. Gue kegelincir berkali-kali. Pertama gak papa, cuman punggung gue agak sakit, yang keempat kali, kaki gue kekilir sampe gak bisa berdiri. Sakit banget huhuhu," oceh Felix diselingi rengekan.
Bebita pun otomati mengelus kepala serta pipinya secara bergantan, "Uuuu sayanggg... ya udah kan yang penting sekarang udah diobatin,"
"Ya, tapi tetep sakit!" keluh Felix.
"Gak usah ngegas dong! Entar sama Tuhan gak mau disembuhin tuh kaki lo," protes Bebita.
"Ya, lagian! Gue nyuruh lo pulang jam berapa? Ditelfonin gak diangkat. Sebel banget gue! Bisa lupa gitu ya sama suami? Ck.”
Bebita hanya bisa ngehela napas, bakal kalah kalau ia adu mulut dengan Felix, apa lagi di kondisinya yang seperti sekarang, ego Felix akan jadi lebih tinggi dari biasanya.
"Ya, sudah sekarang gue harus gimana dong?" tanya Bebita yang jengah mendengar keluhan Felix..
"Peluk atau apa, sakit tau,” gumam Felix.
"Ya udah." Bebita akhirnya menarik tubuh Felix ke dalam pelukannya, kepala Felix ia letakkan di bahunya, lalu ia elus dengan lembut, sesekali juga ia akan menepuk bahunya.
Posisi Bebita, pasti setelah ini kakinya akan pegal. Rasanya seperti antara menghadapi anak atau adik.
Felix tak lama kemudian tertidur. Setahu Bebita Felix memang akan jadi beribu-ribu kali lebih manja kalau lagi sakit, yah, Bebita tidak tahu pasti, tapi pernah saat masih pacaran, Felix sakit flu dan jadi sering menelfonnya, mengadu dan merengek, juga selalu bilang berharap Bebita ada di sampingnya.
Saat itu Felix sedang berada di London, dan pas sekali sedang musim dingin, itu sebabnya Felix jadi flu.
Setelah memastikan Felix benar-benar tertidur pulas, Bebita melepas pelukannya, ia mengangkat setengah tubuh Felix untuk dipindahkan berbaring di atas kasur. Sedikit susah, untungnya tak lama kemudian ada suster yang masuk, dan akhirnya membantu.
Bebita memperhatikan sejenak wajah Felix, ia kemudian menunduk sembari mengangkat poni Felix, bibirnya pun mendarat cukup lama di atas kening pria itu.
Tidak tahu kenapa ia melakukan ini, tak lama kemudian Felix tersenyum samar, tapi hanya sebentar, matanya pun masih tetap terpejam.
Bebita terkadang suka bingung dan ragu terhadap perasannya sendiri pada Felix, ia juga meragukan perasaan Felix terhadapnya.
Tapi ia percaya yang namanya sudah menikah, lambat laun perasaan yang semestinya akan muncul dengan sendirinya, entah itu kapan, tapi ia percaya seiring berjalannya waktu mereka pasti bisa saling mencintai selayaknya pasangan.