Bebita saat ini sedang membantu Felix ke kamar mandi, dia mau buang air kecil. Masih pagi sekali, tetapi Felix sudah rusuh mau ke kamar mandi, mata Felix sendiri masih belum sepenuhnya terbuka. Untung kalau Bebita sudah bangun dari subuh, ia bahkan sudah cuci muka dan gosok gigi. Bangun subuh karena teringat ada kerjaan yang belum selesai.
Bebita mendudukkan Felix di atas closet, setelah itu ia hendak keluar dari kamar mandi, tetapi Felix buru-buru meraih salah satu tangannya, tidak membiarkan Bebita pergi.
"Tungguin," ucap Felix.
"Ya, gue nunggu di luarlah, masak di sini?" respon Bebita.
"Aaa~ disini saja..." rengek Felix.
Bebita mendengus, kemudian menolehkan kepalanya ke belakang, "Ih, Lix, yang bener aja?"
Felix menatap Bebita dengan tatapan memohon, membuat Bebita jadi tidak tega.
"Ya udah, tapi gue berdiri di situ, ya?" ujar Bebita sembari menunjuk ke pojokan kamar mandi.
Felix mengangguk, Bebita pun pergi ke sana, dan memunggungi Felix.
Ada-ada saja permintaannya, batin Bebita.
Beberapa menit kemudian, Felix bilang ia sudah selesai. Jadi Bebita langsung berbalik badan menghampirinya, kemudian membopong Felix keluar kamar mandi.
"Mau sarapan apa? Bubur ayam aja, ya? Gak suka makanan rumah sakitkan?" ujar Bebita seraya membantu Felix untuk naik lagi ke atas ranjang.
"Iya, ya udah mau bubur ayam, pakai sate usus, ya?" Bebita mengangguk mendengar pesanan Felix, ia meraih ponselnya yang berada di atas meja, dan bersiap untuk pergi, namun sebelum pergi, Felix memegangi tangannya.
"Jangan lama-lama,” ucap Felix.
"Iyaa... manja banget sih.” Balas Bebita.
Bebita pun lekas pergi untuk membeli sarapan, Felix menatap punggung gadis itu dengan tatapan tidak rela.
•••
Felix sekarang minta Bebita menyuapinya, padahal tangannya tidak baik-baik saja, tapi karena dia merengek minta, akhirnya Bebita pun mau tidak mau menuruti permintaannya.
Kata Dokter, Felix sudah bisa pulang. Cederanya sebenarnya tidak begitu parah, tapi minggu depan ia harus ke rumah sakit lagi untuk kontrol.
"Tau gak?" celetuk Felix.
"Gak," jawab Bebita sembari menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Felix, Felix terlebih dahulu menerima suapan, sebelum melanjutkan perkataannya.
"Gue ngerasa kita malah jadi kayak kakak adek dibanding suami istri,” ujar Felix.
Bebita terdiam sejenak, ia kemudian mengambil tisu untuk mengelap bibir Felix.
"Gue lebih ngerasa kita kayak ibu sama anak,” timpal Bebita kemudian.
Felix terdiam sebentar, kemudian mengangguk-angguk, "Ya, dua-duanya, tapi meskipun gue kayak adek lo, kalau adek cowok-an biasanya tetep ngelindungin Kakak perempuannya," tutur Felix seraya tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
"Ya, tapi lo kan suami gue, Lix, masak malah mau jadi kayak adek gue sih?" jawab Bebita, yang membuat Felix melunturkan senyumannya, "Yang gue butuhin gak cuman dilindungi sama lo, tapi juga dibimbing, disayang kayak pasangan, kalau adek sayang ke kakak, caranya kan beda lagi, aneh banget lo malah lebih pengen hubungan kita kayak kakak adek, padahal status kita jelas loh, nikah,”
Felix bungkam, kemudian bergumam minta maaf. Suasana mendadak jadi sedikit mencengkam dan canggung, tidak ada yang bicara, tapi Bebita tetap tidak berhenti menyuapi Felix.
Tak lama kemudian, Bebita mengajukan pertanyaan, yang membuat Felix langsung menatapnya dengan tatapan serius.
"Lo gak bisa, ya?” tanya Bebita.
"Gak bisa apa?" sahut Felix.
"Gak bisa perlakuin gue kayak... ya, sebagai istri?" d**a Bebita entah kenapa terasa sakit saat ia melontarkan pertanyaan itu.
Felix mengernyit, "Emang sikap gue selama ini ke elo kayak gimana? Gak kayak ke istri gitu?" tanya Felix.
"Enggak,” jawab Bebita jujur, "Sikap lo itu... ya, sikapnya lebih kayak adek ke gue, bahkan lo gak ragu nyeritain cewek lain ke gue. Gue emang gak nunjukkin gue cemburu, yah, karena... karena gue juga emang gak tau cemburu atau enggak, tapi yang jelas itu ngeganggu dan gak normal, kayak gak wajar gitu lo nanya pertanyaan kayak gitu ke istri lo. Sebenernya perasaan lo ke gue tuh kayak gimana?”
Felix terdiam, tidak langsung menjawab perkataan Bebita, gadis itu pun ikut diam, menunggu jawaban Felix.
"Emang perasaan lo sendiri gimana ke gue?" bukan jawaban, Felix malah balik melontarkan pertanyaan.
"Gue sayang sama lo, meskipun... gue gak yakin rasa sayang disini, maksudnya kayak kepasangan, temen, kakak atau adek,” papar Bebita dengan sejujur-jujurnya tanpa ragu, Felix tercengang, matanya mengedip tidak percaya, tapi ia kemudian mencoba terlihat biasa saja.
"Ya, sama," gumam Felix, "Jalanin aja dulu, kalau perasaan kita emang masih gini-gini aja, dan hubungan kita masih kayak kakak adek, gak ada peningkatan. Mending... kita cerai aja. Gimana? Kayaknya kita nikah juga terlalu buru-buru deh,"
Bebita dengan ragu-ragu mengangguk, entah kenapa ia tiba-tiba ingin menangis rasanya, dadanya sesak, segampang itu Felix bilang ‘cerai’, yah, tapi ia tidak bisa menyalahkan Felix seratus persen, ia sendiri punya perasaan yang sama seperti Felix, tidak jelas.
Sebenarnya siapa yang salah di sini? Yang membuat hubungan mereka jadi terasa seperti kakak adik itu siapa? Ia tidak tahu, Felix pun juga tidak tahu. Saat pacaran, meskipun tidak ada rasa cinta yang pasti, tapi ada kok rasa tertarik. Setelah menikah, kenapa rasanya malah jadi aneh?
"Maaf ya, Beb, gue gak bisa jadi suami yang baik. Gue gak bisa mimpin lo, gak bisa manjain lo, denger keluh kesah lo, dan dengan entengnya cerita tentang cewek lain ke elo, gue juga terlalu manja dan kekanakan.” Tutur Felix.
Bebita hanya tersenyum samar sebagai tanggapan, ia kemudian malah menawarkan makan lagi pada Felix, enggan melanjutkan topik ini. Felix juga merasa tidak nyaman untuk melanjutkannya, dan akhirnya memilih diam menerima suapan Bebita.
•••
Hari ini Felix sudah bisa pulang, tapi lututnya masih digips, minggu depan dia harus balik ke rumah sakit lagi untuk kontrol, kalau posisi tulangnya sudah benar, gipsnya bisa dilepas.
Jadinya Bebita yang menyetir sekarang, sebenarnya ia lebih bisa mengendarai motor dari pada mobil. Ia suka kagok kalau nyetir mobil, khawatir takut menyenggol kendaraan lain karena mobil besar, tidak seperti motor yang bisa menyalip sana-sini.
Jadi selama menyetir Felix suka memberi komando kalau ia tiba-tiba kagok, dan hampir menyenggol kendaraan lain atau bangunan.
"Hati-hati, Beb!" seru Felix sembari memegang tangan Bebita yang berada di atas stir, ia lalu membantu Bebita memutar stir untuk menjauh dari mobil lain yang berdekatan dengan mobil mereka.
Entah kenapa Bebita jadi berdebar, padahal Felix hanya memegang tangannya, padahal kan sudah sering, tapi biasanya tidak ada reaksi seperti ini.
"Jangan ngelamun, fokus sama jalan," kata Felix sembari menepuk bahu Bebita.
Bebita merespon dengan menganggukkan kepalanya.
Felix kemudian menyalakan radio mobil, pas sekali lagu Halsey Without me sedang disetel disalah satu channel radio, lagu favorit Bebita, lagu yang berhasil membuatnya menangis saat awal mendengarnya.
"Suka lagu ini gak?" tanya Felix.
"Iya suka,” jawab Bebita singkat.
Bebita tiba-tiba jadi terpikirkan sesuatu, setelah menghayati setengah lirik dari lagu tersebut. Ia kemudian memanggil Felix, yang membuat pria itu sontak menatapnya.
"Jangan kayak cerita di lagu ini,” ucap Bebita.
Felix mengernyit, "Maksudnya?" tanya Felix.
"Ya, gue harap lo gak lupa, gue yang selama ini ada pas lo sakit, dan down, jadi jangan tinggalin gue,” tutur Bebita, kemudian ia menelan ludahnya secara kasar, takut perkataanya terdengar aneh dan menggelikan.
Felix hanya merespon dengan tertawa kecil, tidak menjawab iya atau pun tidak, yang membuat perasaan Bebita seketika jadi tidak karuan. Yah, mungkin perkataannya memang aneh dan menggelikan, batin Bebita. Ia jadi malu sudah berkata demikian.
Ia dan Felix memang belum lama pacaran sampai akhirnya memutuskan untuk menikah, mereka belum mengenal jauh satu sama lain, bukannya Bebita merasa orang yang paling berjasa pada hidup Felix, tapi memang kenyataannya, dari awal ia mengenal Felix, ia selalu menemaninya saat sedang banyak masalah dan tidak ada siapapun di sampingnya, meskipun terkadang Bebita hanya bisa menemaninya lewat telfon atau video call karena mereka yang sering terpisah jarak.
Bebita tidak lupa saat Felix menelfonnya malam-malam dan menangis, karena baru bertengkar dengan rekan-rekan kerjanya, ia dituduh melakukan hal yang tidak-tidak waktu itu, ia juga pernah dituduh menjalin hubungan dengan penyanyi paruh baya, dimana kala itu ia sedang menjadi back dancer untuk penyanyi itu. Itu skandal Felix yang paling parah, yang membuatnya sampai berani meminum alkohol untuk melupakan masalahnya, dan Bebita yang dihubungi saat ia sedang mabuk berat untuk menjemputnya di bar.
Bebita memang tidak banyak membantu sebenarnya, tapi setelah Felix mengucapkan kalimat ‘cerai’ kalau misalkan hubungan pernikahan mereka tidak ada peningkatan, itu membuatnya takut dan ingin Felix tidak melupakan apa yang sudah ia lakukan untuknya meskipun tidak seberapa.
Felix bukan pria berengsek, Bebita tahu. Tapi ia belum mencintai Bebita, jadi kapan saja ia bisa meninggalkannya. Meskipun Bebita sendiri belum yakin mencintai Felix, namun ia sama sekali tidak terpikir untuk meninggalkan Felix.
•••
Felix meringis saat Bebita mengangkat kakinya ke atas kasur, membuat Bebita jadi sedikit khawatir.
"Masih sakit banget, ya?” tanya Bebita.
"Dikit," gumam Felix.
"Mau mandi gak? Udah sore,” ujar Bebita.
"Entar aja, baru juga naik kasur, gue mau istirahat dulu,” kata Felix.
Bebita mengangguk, ia kemudian berjalan ke pintu balkon untuk menutup tirai serta gorden.
"Lo sakit hati ya sama kata-kata gue di rumah sakit?" celetuk Felix.
"Huh? Kata-kata yang mana?" tanya Bebita.
"Yang gue bilang cerai,” jawab Felix.
Bebita terdiam, posisi tubuhnya masih menghadap ke arah balkon, yang otomatis membuatnya jadi memunggungi Felix.
"Sorry, kalau kata-kata gue nyakitin lo. Kalau pun misalnya kita cerai, gue gak akan ninggalin lo kok. Kita bisa jadi temen, atau yahh kakak adek, hehe. Karena sekarang hubungan kita juga kayak kakak adekan?" tutur Felix dengan raut wajah sulit diartikan, ia bingung apakah yang dikatakannya bisa memperbaiki suasana diantaranya dengan Bebita, atau malah memperkeruh.
Bebita masih terdiam, ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya sebelum menjawab perkataan Felix.
"Gue sama mantan pacar aja gak pernah ngehubungin lagi, apa lagi sama mantan suami?" ujar Bebita.
Sekarang Felix yang terdiam, Bebita berbalik badan menatap pria itu yang tidak tahu melihat ke arah mana.
"Kok omongan lo dari kemaren kayak gak mau mertahanin pernikahan kita, sih? Atau... lo emang udah gak pengen jalanin pernikahan ini? Cerai mulu yang lo omongin, padahal gue udah berusaha buat gak ngungkit.” papar Bebita dengan nada suara yang berusaha ia tahan agar tidak meninggi.
Felix tidak bisa menjawab, Bebita menghela napas kecewa, dan akhirnya memutuskan untuk keluar kamar, ia benar-benar merasa marah sekarang, sampai tidak bisa mengatakan apapun lagi. Padahal rasanya ingin berteriak dan membanting sesuatu di depan Felix, memintanya untuk mengatakan kalau ia mau mempertahankan pernikahan mereka.