07

2183 Kata
Felix mengambil kruk, hendak keluar kamar. Ia melihat Bebita sedang tidur di sofa ruang tengah sambil meluk bantal sofa, ia belum ganti baju ataupun menghapus makeupnya. Bebita sebelumnya tidak pernah marah pada Felix, yah, pernah, tapi tidak pernah benar-benar marah seperti sekarang, ia jadi tahu Bebita kalau sudah benar-benar hanya akan diam. Felix kecewa dengan dirinya sendiri, ia tahu ia yang salah di sini, ia memang ragu dengan perasaannya, dan ia pikir membicarakan tentang cerai tidak masalah, toh, ia belum menceraikannya. Tapi setelah ia merenungi perkataannya sendiri, jelas ia salah, disaat Bebita ingin berjuang mempertahankan pernikahan mereka, ia dengan semudah itu merencanakan cerai. Meskipun ia bukan wanita, seharusnya ia bisa memposisikan dirinya kalau berada di posisi Bebita yang ingin mempertahankan hubungan mereka, tapi pihak lainnya malah dengan santainya merencanakan perpisahan. Felix belum tahu banyak tentang cara memperlakukan perempuan yang benar, ia juga masih belum tahu bagaimana semestinya menjalani pernikahan, bukannya belajar, malah ingin mundur. Padahal pernikahan ini terjadi, akibat kesalahannya yang tidak berpikir panjang, seharusnya ia tegas pada ibunya, kalau ia tidak ingin menikah sebelum siap dan matang. Akhirnya jadi begini. Kasihan Bebita kalau harus jadi janda di usianya yang masih muda, meskipun Felix belum melakukan apapun padanya, tapi statusnya tetap saja janda, dimana stigma itu masih jelek di mata masyarakat. Felix tanpa sadar memukul kepalanya, karena merasa dirinya terlalu bodoh, bagaimana pun caranya ia harus menebus kesalahannya pada Bebita, minta maaf saja tidak akan cukup. ••• Felix memutuskan untuk beres-beres rumah sebagai langkah awal untuk minta maaf, rumah sebenarnya tidak terlalu berantakan, karena belum punya anak kecil, terlebih ia dan Bebita seharian ini di rumah sakit. Felix tiba-tiba jadi membayangkan kalau ada anak kecil di sini yang membuat rumah berantakan, mainan tersebar di mana-mana, bungkus jajanan tidak lupa, lalu disertai suara-suara ocehan anak kecil yang lucu. Felix tanpa sadar jadi tersenyum karena membayangkannya. Bagian yang paling berantakan hanya meja di bawah televisi, dvd game bertumpuk secara tak beraturan, Felix pun menyusunnya satu persatu, ia memisah dvd mana yang masih sering dimainkan, mana yang sudah jarang, dan mana dvd game favoritnya, juga yang mana dvd game favorit Bebita. Mudah-mudahan anaknya nanti tidak suka game, karena ini melalaikan, batin Felix. Selesai menyusun barang yang terlihat tidak teratur, ia beralih membersihkan karpet dan selipan-selipan rumah menggunakan penyedot debu, sedikit susah, karena ia menggunakan kruk. Bebita nyenyak sekali tidurnya, sampai-sampai tidak mendengar suara penyedot debu yang cukup berisik, pasti kelelahan karena mengurus Felix yang rewel dari kemarin, ditambah harus makan hati karena perkataan Felix. Felix kemudian membereskan dapur, setelah ruang tamu dan tengah sudah selesai dibereskan. Tapi dapur tidak benar-benar berantakan, Bebita selalu langsung membereskan dapur sesuai memasak. Karena itu Felix pun akhirnya berinisiatif memasak makan malam, hanya masak nasi dan menggoreng telur d**a, lumayan lah. Telur dadanya spesial kok, menggunakan daging asap, daun bawang dan cabai keriting, hanya saja ternyata sedikit keasinan. Selesai memasak, Felix pergi ke kamar untuk membereskan kamar yang lagi-lagi tidak begitu berantakan, kemudian mandi. ••• "Beb, bangun Beb, mandi, udah hampir malem," Bebita mengerang kesal kemudian menepis tangan Felix yang sedang mengguncang bahunya. "Beb, bangun dong...” nada suara Felix melembut, kemudian Bebita merasakan elusan di pipinya. Ck, ini Felix apa-apaan sih? pikir Bebita. Beberapa detik kemudian ia merasakan wajahnya diusap menggunakan kapas yang setengah basah, juga tercium aroma seperti pembersih makeup, membuatnya dengan terpaksa membuka matanya. Begitu matanya terbuka, yang ia lihat pertama kali adalah wajah Felix, jaraknya wajahnya tidak begitu jauh darinya, pria itu kemudian tersenyum padanya, dan kembali mengusap wajah Bebita menggunakan kapas yang ada di tangannya. "Felix, apa-apaan sih?" protes Bebita sembari menepis tangan Felix yang berada di wajahnya. "Gue bersihin muka lo, gue tau lo paling males bersihin makeup, makanya biar gue yang bersihin," ujar Felix. Bebita terdiam, iya benar, ia memang paling malas membersihkannya riasan wajahnya, hanya sedang memakainya. Akhirnya ia pasrah, dan membiarkan Felix membersihkan wajahnya sampai benar-benar bersih. "Udah bersih, mandi gih, gue udah siapin makan malem,” ucap Felix. Bebita menatap Felix sambil mengernyit, "Lo beli makanan di luar? Lo kan lagi sakit, gimana sih?" tuding Bebita. "Enggak, gue masak telur dadar," timpal Felix. "Emang bisa?" tanya Bebita dengan nada sedikit meremehkan. "Bisalah! Cuman masak telur ini. Gue jamin lo bakal suka.” jawab Felix sambil tersenyum lebar. Bebita mengangkat keduanya alisnya, merasa antara percaya dan tidak, ia kemudian bangkit dari sofa, memutuskan untuk lekas mandi. Sikap Felix aneh, biasanya kalau ia remehkan, pria itu tidak akan terima, dan mereka akan berakhir adu mulut hal yang tidak penting. •••                                                                                          Selesai mandi Bebita pergi ke dapur, ia melihat sudah ada telur dadar di atas meja, warnanya terlalu coklat seperti hampir gosong. Ia mencomot sedikit untuk dicicip, dan rasa asin yang agak kuat seketika menyapa lidahnya. Felix tak lama kemudian ikut masuk ke dapur, ia memasang senyuman lebar dan menatap Bebita dengan raut wajah berseri. "Enak gak?" tanya Felix dengan nada antusias, merasa tidak sabar mendengar komentar Bebita tentang masakannya. Bebita jadi tidak tega untuk berkata yang sejujurnya, kalau masakannya terlalu asin, sebenarnya masih bisa dimakan, tidak terlalu buruk rasanya. Tapi rasanya membuat terkejut di awal. Selain tidak tega, Bebita ingin menjaga perasaan Felix dan menghargai usahanya yang sudah membuat makan malam meskipun hanya telur dadar, tapi pasti ia kesusahan membuatnya, karena pria itu sama sekali tidak bisa masak, ditambah kondisinya sekarang yang sedang sakit. “Lumayan,” ucap Bebita akhirnya, untuk menjawab rasa penasaran Felix tentang pendapatnya terhadap masakannya. Felix ngehela napas lega, ia kemudian mendekati Bebita, menarik salah satu kursi meja makan, lalu menekan bahu gadis itu sebagai isyarat menyuruhnya duduk. Bebita menurut, dan akhirnya duduk. Setelah ia duduk, Felix mengambil nasi untuknya, dan juga untuknya sendiri. Mereka mulai makan dengan keadaan hening, jujur saja, Bebita masih malas bicara dengan Felix, nanti yang dibahas soal cerai lagi. Pernikahan mereka masih seumur jagung, tapi pembahasannya sudah soal perceraian. "Beb," Felix tiba-tiba memanggil, dan Bebita menyahutnya hanya dengan melirik ke arahnya. "Gue minta maaf,” ucap Felix dengan raut wajah bersalah. Bebita tidak menjawab, ia hanya diam saja sembari menatapnya tanpa ekspresi, ia masih sangat kecewa. Selesai makan, Felix tiba-tiba langsung mengambil piring kotor milik Bebita, dan membawanya ke cucian piring. Ia langsung mencuci piring bersama alat masak yang tadi digunakannya, kruknya ia apit di ketiaknya, padahal jelas-jelas kesusahan, tapi ia tetap memaksakan diri. Bebita pun hanya terdiam, tidak berniat membantu, ia mengamati sejenak punggung Felix, lalu memutuskan untuk pergi ke kamar, istirahat. Rasanya hanya ingin berbaring sambil memainkan ponselnya sekarang, untuk memperbaiki mood-nya yang masih jelek. Baru beberapa saat Bebita memainkan ponselnya, Felix masuk ke dalam kamar, gadis itu hanya melirik ke arah pria itu tanpa mengatakan apapun. Felix naik ke atas kasur, kemudian duduk di samping Bebita yang posisinya berbaring, ia mengulurkan satu tangannya dan tiba-tiba mengelus kepala Bebita, yang membuat gadis itu terkejut tapi hanya bisa mematung. Jantungnya entah kenapa jadi berdebar. "Beb, gue bener-bener minta maaf. Sumpah gue gak akan ngomong soal cerai-cerai lagi, gue mau mertahanin pernikahan kita kok, sumpah,” ujar Felix kemudian. Bebita melirik Felix sembari menghela napas. "Beneran?" tanya Bebita, Felix mengangguk sembari mengangkat jari kelingkingnya. "Beneran.” Pungkas Felix, "Lo ragu ya?" "Lumayan." Gumam Bebita. Mereka kemudian saling terdiam beberapa saat, tapi tak lama kemudian Felix menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Bebita, yang membuat Bebita sontak menghindar. "Bebita, aku serius." Ucap Felix, Bebita tercengang mendengar Felix memanggil dirinya sendiri dengan ‘aku’. Bola mata Bebita bergulir kesana-kemari, kemudian kembali menatap mata Felix untuk mencari apakah ada kebohongan di sana, namun sepertinya pria itu benar-benar serius. Tatapan matanya lembut, dan berbeda dari biasanya. Bebita akhirnya merengkuh punggung Felix, sampai Felix otomatis berbaring di atasnya, pria itu ikut memeluknya erat. “Aku minta maaf, aku emang bukan suami yang becus, seharusnya kalau aku emang belum siap jadi suami, aku ambil langkah sebesar ini, jadinya nyakitin kamu,” tutur Felix. Bebita tidak bisa menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya sembari memejamkan matanya. Felix tak lama kemudian merenggangkan pelukannya, ia menatap Bebita, sebelum menghapus jarak wajahnya dengan gadis itu. ••• Bebita membuka matanya dengan susah payah, seolah matanya itu lengket, ia kelelahan dan matanya mengeluarkan banyak air mata semalam. Saat matanya berhasil terbuka, ia menoleh ke samping, dan melihat Felix masih tertidur. Ia curiga aslinya Felix tidak cedera, semalam kakinya seperti baik-baik saja, aneh. Bebita menutupi wajahnya dengan selimut, merasa malu mengingat kejadian semalam, bisa-bisanya mereka malah melakukan hal itu setelah ada perselisihan. Bebita mendesis pelan saat ia bangkit duduk, ia ingin ke kamar mandi sebelum Felix bangun, tidak siap untuk melihatnya dalam kondisi bangun. Tapi saat hendak turun dari kasur, ia sedikit kesusahan merasa sakit di bagian bawahnya, tetapi ia tetap berusaha memaksakan diri untuk turun, sembari meraih kaosnya yang ada di lantai, untung kaosnya berukuran besar, bisa menutupi tubuhnya sampai setengah paha. Saat sedang berjalan dengan hati-hati menuju kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara Felix, yang membuat langkah Bebita terhenti, dan sekujur tubuhnya membeku. “Bisa jalan?” Telinga Bebita seketika seolah dipenuhi oleh suara ‘nging’, dan kepalanya jadi sedikit pusing saat mendengar suara Felix, terlebih suara Felix yang berat dan habis bangun tidur. "Bisa kok,” jawab Bebita tanpa menoleh sedikit pun ke arah Felix, kemudian melanjutkan langkahnya. Felix beranjak duduk, ia mengambil celananya yang ada di lantai, kemudian mengenakanya di balik selimut. Setelah itu Felix menghampiri Bebita, dan tanpa aba-aba menggendongnya, yang membuat gadis itu memekik tertahan karena terkejut. "Kalau sakit mah gak usah dipaksain kali,” ucap Felix sembari membawa Bebita ke kamar mandi. Wajah Bebita merah padam, ia kemudian menatap Felix dengan tatapan sengit. “Sakit juga gue bisa sendiri kok!” seru Bebita. “Kok pakai gue-lo lagi sih? Aku-kamu dong! Lagian gak usah sok-sok-an, sekalipun bisa sendiri, pasti lebih enak digendong kayak gini.” Bebita mendengus, dan akhirnya tidak mengatakan apapun lagi. Setibanya di kamar mandi, Felix meletakkan tubuh Bebita di atas bath up, ia menyalakan kran air hangat, sambil menunggu air di dalam bath up terisi penuh, ia mengambil sampo serta sabun. “Kenapa masih di sini?” tanya Bebita. “Bantuin kamu mandi,” jawab Felix sembari menuangkan sampo ke atas telapak tangannya, “Oh ya, kaosnya dilepas dulu,” “Ih, aku bisa sendiri!” “Sekali-kali aku manjain, gak mau?” “Enggak,” “Oh ya udah.” Felix hendak pergi dari kamar mandi, tapi Bebita buru-buru menarik celananya. “Iya, iya mau, hah.” Ia berusaha mengesampingkan rasa malu serta gengsinya, karena kapan lagi Felix begini? Yah, mudah-mudahan sih ia sering begini, tapi kalau dari awal saja ia sudah menolak tawaran baik Felix, takutnya Felix jadi tidak punya inisiatif lagi untuk melakukannya. ••• Bebita duduk manis di pinggir ranjang, menunggu Felix yang sedang memilihkan pakaian untuknya, Felix sepertinya benar-benar sedang ingin memanjakan dan melayaninya, jadi ya sudah, sekalian saja Bebita benar-benar bermanja-manja padanya. Tiba-tiba ia baru terpikir ada sesuatu yang janggal. "Lix, kamu kok bisa jalan sih? Bahkan tadi gendong aku, bukannya kaki kamu lagi sakit, ya?" tanya Bebita. Felix terdiam, kemudian ia melihat ke arah kakinya yang masih digips. "Lah iya, ya? Aku bahkan hampir lupa kalau pakai gips," ucap Felix. "Kamu gak pura-pura sakitkan?” ujar Bebita curiga. Felix mendengus, “Ya kali, ck, mana aku tau bisa kayak gini, kekuatan cinta kali,” “Ih!” "Udahlah ngapain dipusingin? Entar aku tinggal ke rumah sakit, ngomong sama dokter yang kemaren nangangin aku. Ini sebenernya masih agak nyeri, cuman udah lebih mending dari kemaren, yah, emang mengejutkan sih bisa tiba-tiba baik-baik aja,” ujar Felix sembari berjalan mendekati Bebita dengan membawa pakaian di tangannya. Jalannya Felix memang masih agak pincang, tapi tetap saja Bebita terkejut tiba-tiba pria itu bisa berjalan tanpa kruk, bahkan bisa bolak-balik menggendongnya. "Efek semalem juga kali, makanya sekarang gue udah sembuh,” kekeh Felix yang membuat Bebita tersadar dari lamunannya. "Dih," cibir Bebita sembari mengambil pakaian yang di tangan Felix. "Mau dipakein sekalian gak?" tawar Felix. "Gak, makasih,” ucap Bebita sembari membuka lipatan baju, ia seketika terkejut, melihat baju seperti apa yang Felix ambilkan untuknya. “Ih! Lix, kok lo pilihin gue baju yang kayak gini sih?” protes Bebita, Felix mengambilkannya daster yang modelnya seperti daster anak-anak, ada renda-renda dan gambar boneka beruang di depan. Baju itu pemberian budhe –ibu gede (panggilan bibi untuk kakak ibu atau ayah)- Bebita, tidak pernah Bebita pakai karena modelnya yang seperti itu, ditambah warnanya ungu, warna yang paling tidak ia sukai. "Emang kenapa? Lucu tau. Kan lo belum bisa pakai celana juga,” tutur Felix. "Siapa yang bilang belum bisa pakai celana?" sungut Bebita kesal. “Lah, emang iyakan?” "Bisa kali! Ngarang,” ucap Bebita. "Ya tapi gak nyamankan pasti? Udah pakai aja, gak usah banyak protes,” sahut Felix. Bibir bawah Bebita otomatis, “Ih, kamu jadi galak,” gumam Bebita. "Lo jadi sensian,” timpal Felix. "Tadi nyuruh pakai aku-kamu, sekarang pakai lo-gue lagi, labil banget sih,” kata Bebita. "Oke, aku minta maaf, ya... Sekarang dipakai bajunya, entar masuk angin. Mau sarapan apa? Entar dipesenin," ucap Felix. Bebita terdiam untuk berpikir sembari mengenakan pakaiannya, ia akhirnya pasrah untuk menggunakan daster tersebut. "Cepet...” kata Felix tak sabar sembari mengambil ponselnya untuk memesan makanan. "Bakmi aja,” ucap Bebita kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN