08

2661 Kata
"Nasi kuning aja deh, Beb, masak bakmi sih?" ujar Felix. “Lah, emang kenapa?” tanya Bebita. “Kayak gak cocok aja buat sarapan,” jawab Felix. "Ya, udahlah terserah, yang penting makan, kalau gitu ngapain nanya coba tadi. Terus kamu mau pesen apa?" ujar Bebita. "Nasi kuning juga.” Bebita hanya mengangguk sebagai jawaban. Felix kemudian mengenakan pakaiannya, kaos hitam dan celana training warna abu-abu, ia dari tadi memang belum mengenakan pakaiannya, hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggang. Selesai menggunakan baju, ia lalu duduk di samping Bebita. "Bisa bayangin gak? Kalau ada anak-anak, bakal kayak gimana suasana rumah?” ujar Felix sambil cengar-cengir. “Belum pernah bayangin sih,” ucap Bebita. “Pas aku kemaren beres-beres, entah kenapa tiba-tiba kebayang aja, mungkin karena rumah jadi sepi juga pas kamu tidur,” kata Felix. "Gimana mau punya anak? Kalau kamu aja masih kayak anak-anak?" timpal Bebota, yang membuat Felix mengerucutkan bibirnya. "Tapi yang semalem bakal jadi gak, ya?" gumam Felix. "Enggak, aku lagi gak masa subur,” jawab Bebita, raut wajah Felix langung kecewa. "Yahhh, kok gitu?” "Ya, takdir itu mah. Lagian aku gak mau punya anak dulu, sampai kamu berenti dari profesi kamu sebagai back dancer dan punya rumah," tutur Bebita. Felix melotot kaget. "Emang kenapa sama kerjaan aku? Lagian apartemen aja gak cukup? Justru lebih bagusan apartemen kan? Banyak yang lebih pengen tinggal di apartemen," rentetan pertanyaan seketika keluar dari mulut Felix. "Kamu jadi sering banget keluar negeri, masak aku hamil kamu malah ada jadwal di luar negeri? Kalau kerja kantoran, meskipun ada jadwal di luar kota atau negeri, gak akan selama kalau kamu jadi back dancer. Terus aku gak mau kamu sexy dance lagi, entah itu solo apa lagi sama cewek, enggak! Emang aku gak tau, gara-gara kamu pernah solo sexy dance jadi banyak cewek centil ke kamu. Dan pekerjaan itu bikin kamu rentan cedera. Jadi udah mending berenti, cari kerjaan lain aja. Lagian gak mungkinkan sampe tua mau nari?" papar Bebita panjang lebar. Felix terdiam mencerna perkataan Bebita. "Terus masalah rumah. Aku gak mau ganggu tetangga sama tangisan bayi, kalau tinggal di apartemenkan jadi mepet sama tetangga, kalau rumah enggak," sambung Bebita. "Tapi nari itu hidup aku, Beb," ucap Felix. "Kamu boleh nari, boleh banget. Tapi jangam dijadiin kerjaan tetap, ya? Atau... jangan jadi back dancer, kan nari bisa jadi pekerjaan yang lain selain back dancer, jadi guru tari contohnya,” Felix masih belum menjawab, selagi menunggu jawaban Felix, Bebita pun ikut terdiam sembari mengamati wajah Felix, tidak kebayang kalau ia punya anak, wajahnya saja masih seperti anak-anak. "Eum, gimana kalau aku jadi vlogger aja? Suara aku kan lumayan tuh, bagus pasti kalau ngecover lagu, sama ngecover dance, gimana?" kata Felix kemudian setelah beberapa saat terdiam. "Enggak!" jawab Bebita tanpa pikir panjang. "Kenapa sih? Penghasilan jadi vlogger gede," ucap Felix. "Enggak, enggak, enggak. Kamu cuman jadi back dancer aja, fans kamu banyak, gimana kalau kamu terang-terangan nampangin muka depan kamera? Lagian jadi vlogger gak gampang, untung-untungan, gak bisa sekali ngevlog langsung sukses," tutur Bebita. “Lah, tapi kan kata kamu sendiri fans aku banyak, jadi peluang vlog aku sukses juga besar dong, ngandelin fans-fans aku itu,”timpal Felix. “Yah, tapi... nanti bisa banyak cewek yang ganggu hubungan kita, gak mau ah,” Felix mendengus dan menatap Bebita dengan tatapan malas. "Posesif banget,” gumam Felix, “Gini ya Beb, cari kerja itu susah, aku bisanya dibidang hiburan kayak gitu," ucap Felix. Bebita menghela napas, yah benar apa yang dikatakan Felix, cari pekerjaan susah, hanya saja Bebita tidak rela Felix menjadi artis internet, lalu banyak perempuan yang menempel padanya. "Lagian gak usah lebay deh, belum tentu sukses ini juga jadi vlogger. Kalau pun berhasil, ya kali aku mau kegaet sama cewek lain? Selama ini aku ketemunya sama artis, atau back dancer cewek yang cantik-cantik, sexy, tapi aku jomblo teruskan? Kalau cuman jadi vlogger aku kerjanya di rumah terus lagi, enakan?" ujar Felix. Giliran Bebita yang sekarang terdiam memikirkan perkataan Felix. Tiba-tiba terdengar suara bel serta ketukan pintu, membuat Bebita dan Felix tersentak kaget. "Permisiiii, ada orang gak ya? Saya udah kesemutan berdiri." ••• "Oh atau gini aja, aku ada ide,” ucap Bebita setelah satu suapan nasi kuning masuk ke dalam mulutnya. "Apa?" tanya Felix. "Kita buka studio foto, terus kamu jadi asisten aku kalau pemotretan di luar studio, kayak rumah, pemandangan. Soalnya aku suka kerepotan bawa kamera sama lampu sendiri,” tutur Bebita. "Udah gini aja, kita buka studio bareng, aku jadi asisten kamu tiap ada pemotretan, sekaligus jadi vlogger. Sayang bakat aku, bisa nari tapi gak ada yang liat,” timpal Felix. Bebita terdiam sembari memajukan bibir bawahnya, menatap Felix dengan tatapan tidak rela. "Beb, please deh jangan kekanakan. Aku penuhin ya semua rencana kamu, yang sesuai passion kamu. Jadi sekarang gantian, kamu setuju aku jadi vlogger, oke?" tutur Felix. Bebita menghela napas, setelah berpikir beberapa saat, "Iya, ya udah,” gumam Bebita. "Nah, gitu dong!” seru Felix sembari tersenyum lebar. "Jadi rencananya gini, kita sekarang bikin studio, pakai tabungan aku sama kamu, adakan?" Felix hanya mengangguk sebagai jawaban, karena mulutnya sedang penuh. "Tapi desain studionya gimana?" tanya Bebita "Inget temen aku Jino gak?" ujar Felix setelah menelan makanan yang berada di mulutnya. "Oh inget! Itu kan orang yang sama kamu pas pertama kali kita ketemu," sahut Bebita. "Diakan desainer interior, bisa minta bantuannya, tapi ya kita tetep bayar, kan udah pakai jasanya,” kata Felix. “Bisa minta harga temen?” tanya Bebita. “Jangan dong, harga normal aja. Meskipun aku temennya, gak meringankan kerjanya, jadi yah, jangan minta bayaran yang ringan dong mentang-mentang temen, tenang aja, tabungan kita bakal cukup kok kalau digabung,” “Heumm, iya sih...” gumam Bebita. Bebita kemudian bertepuk tangan senang, membuat Felix tersenyum melihatnya. "Lix, jujur ya, aku tuh sebenernya udah lama banget punya studio foto sendiri, tapi modalnya kan gede," tutur Bebita. "Makanya itu kita harus patungan, selain jadi pasangan hidup, kita juga harus bisa jadi partner untuk hal lainnya, kan?” Bebita tersenyum simpul mendengar penuturan Felix, merasa terharu sekaligus tersanjung, tidak menyangka Felix bisa mengatakan hal manis seperti itu, setelah sebelumnya hanya mengatakan hal-hal yang pahit baginya. Bebita dan Felix kemudian larut dalam obrolan tentang studio foto, jadi rencananya saat Bebita mulai membuka studio foto, Felix pun akan mulai membuat video cover lagu dan dance, kalau Bebita mendapat job foto, ia akan ditemani Felix nanti. Kalau uang sudah terkumpul, baru membeli rumah, atau minimal ngontrak, apartemen dijual, baru rencana akhir punya anak. Saat baru merencanakan memang terasa gampang, tapi saat sudah dijalani akan beda lagi, hasilnya juga belum tentu sesuai rencana, tapi setidaknya dengan ada rencana, membuat perasaan keduanya tenang, terutama Bebita. Masa depannya tidak dibayangi perceraian, tidak seperti sebelumnya. Ada satu hal yang Bebita pelajari, menikah bukan berarti menghentikan mimpi, tapi itu bisa jadi untuk membangun mimpi, padahal sebelumnya ia menyimpan sedikit rasa menyesal karena sudah menikah muda. Kalau ia belum menikah sekarang, kapan ia bisa membangun studio foto? Pasti harus menabung dulu yang lama, atau pinjam uang. Yah, tapi kalau suaminya tidak mendukung, tentu saja tidak bisa, untung saja Felix mau diajak kerjasama, bahkan mendukung. Nasib orang memang beda-beda, dan Bebita kini bersyukur memiliki Felix sebagai suaminya. "Kayaknya aku harus banyak-banyak bersyukur, deh,” ucap Bebita yang membuat Felix meliriknya. "Ya, emang udah seharusnya kayak gitukan?” timpal Felix. "Yaaa... apa lagi setelah dikasih suami yang dukung keinginan aku,” ucap Bebita sembari mengulas senyuman lebar. "Nah, berarti kamu juga harus dukung aku, dong, jangan ngehalangin aku ngelakuin yang aku mau, selama itu baik, dan gak ngerugiin kamu atau rumah tangga kita, malah itu untuk keuntungan keluarga kita. Yah, kamu emang jadi harus korban perasaan sedikit,” celoteh Felix. Bebita menghela napas, “Cemburu itu emang kekanakan sih, harusnya aku percaya sama kamu,” ucap Bebita. “Sebenernya wajar kalau kamu cemburu, tapi jangan egois, aku juga bakal berusaha jaga perasaan kamu kok,” kata Felix. Bebita tersenyum sembari tersenyum lebar, “Iya, makasih ya, Lix, udah mau kayak gitu,” “Aku lakuin semua ini demi kita kok, kalau ada peluang kerja lain yang lebih bikin kamu nyaman, begitu pun sama aku, pasti aku ambil.” tutur Felix, yang Bebita balas dengan anggukkan. ••• Bebita dan Felix hari ini sedang mencari tempat untuk dijadikan studio, dan yah, benar seperti apa yang Bebita pikirkan, membuat rencana itu gampang, tapi susah saat menjalankannya. Mencari tempat tidak semudah itu, ada yang terlalu mahal, tapi ukuran dan kondisinya tidak sesuai dengan harga, ada yang harganya sesuai, tapi kondisi tempatnya benar-benar buruk, dan membutuhkan biaya sangat banyak renovasi, dan masih banyak lagi kendala lainnya. Salah satu kendala yang paling unik, ada tempat yang pernah jadi kegiatan kriminal, padahal harga sewa dan jualnya sudah sesuai budget, dan juga bangunannya masih bagus. Kalau Bebita sih tidak masalah, tapi Felix yang tidak mau, membuat mereka harus mencari lagi ke tempat lain. "Aduh Lix, dilanjut besok aja deh, aku capek,” keluh Bebita, padahal bukan ia yang menyetir, tapi tetap saja rasanya lelah berjam-jam duduk, dan melongo kesana-kemari untuk melihat-lihat kalau saja ada ruko atau bangunan yang disewakan. "Ngebakso dulu aja yuk,” tawar Felix yang langsung Bebita angguki setuju. Tapi ternyata di sekitar mereka berada sekarang, tidak ada warung bakso, jadi terpaksa Felix menjalankan mobilnya lebih jauh lagi hanya untuk nyari warung bakso. Untungnya setelah beberapa saat mencari, mereka akhirnya menemukan warung bakso yang cukup ramai, Felix pun memarkirkan mobil terlebih dahulu, sebelum ia dan Bebita turun. Felix memesan satu porsi bakso, sedangkan Bebita memesan satu porsi mie ayam dengan kuah, mereka kemudian duduk di meja yang berada di baris kedua dari depan, dengan posisi saling berhadapan. Saat sedang menunggu pesanan, Felix sibuk melihat ponselnya dengan raut wajah serius, membuat Bebita jadi penasaran. "Serius amat, Lix,” ujar Bebita. Felix tersenyum samar sembari melirik Bebita sejenak, kemudian matanya kembali fokus pada ponselnya. "Ini temen aku, katanya ada tempat-tempat kosong yang pas buat jadi studio foto, malah gak jauh dari tempat kita tinggal,” kata Felix kemudian. "Yah, kalau itu sih aku juga tau, tapi kan mahal nyewa di sana mah, udah gitu sepi lagi di situ,” timpal Bebita sembari menopang dagunya. "Temen aku yang punya salah satu tempatnya, dia mau kok ngasih harga murah ke kita, asal bayar sewanya selalu tepat waktu. Kalau masalah sepi, yaa... berarti kita harus gencar promosi, kita kan punya banyak kenalan, bisa tawarin ke mereka dulu, kalau hasil kerja kita memuaskan, pasti mereka bakal ngerekomendasiin ke orang lain,” tutur Felix. "Eumm, iya sih, jadi habis dari sini mau kesana?” Felix mengangguk, “Kita liat-liat dulu, srek enggaknya nanti tergantung kamu,” ucap Felix. “Hah, kayaknya mau pas atau enggak sama aku, bakal aku ambil aja, soalnya susah banget nyari tempat,” kata Bebita. “Emang susah sih, tapi aku pengen kamu kerja di tempat yang emang bener-bener nyaman buat kamu, jangan maksain kalau emang gak nyaman,” ujar Felix. Bebita tersenyum sembari mengangguk. Tak lama kemudian pesanan mereka akhirnya tiba, Bebita dan Felix langsung fokus makan tanpa ada yang bicara, keduanya sama-sama sudah lapar dari tadi. Selesai makan dan bayar, mereka langsung bergegas pergi. Di perjalanan Bebita ketiduran, seharusnya ia mengajak Felix ngobrol agar pria itu tidak mengantuk selama nyetir, tapi ia kelelahan. Felix melirik Bebita, ia mengulurkan sebelah tangannya, menggunakan buku tangannya ia mengelus lembut pipi gadis itu. Setelah itu ia menyalakan radio untuk menemaninya selama menyetir agar tetap fokus dan tidak mengantuk. ••• Felix mengamati Bebita yang masih tidur, padahal sudah sampai di tempat tujuan, tapi ia tega membangunkannya, karena sepertinya gadis itu kelelahan sekali. Yah, sejujurnya ia juga kelelahan, tapi ia lebih memikirkan kondisi Bebita dibanding dirinya sendiri. Entah kenapa sejak malam itu, ia merasa ada yang berbeda dari dirinya terhadap Bebita, seperti tumbuh suatu perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya pada gadis itu. Akhirnya Felix memilih keluar mobil sendiri dan menghampiri temannya yang sudah menunggu di ruko yang akan disewakan padanya dan Bebita. Namanya Bintang, teman dekat Felix yang benar-benar dekat, tapi sayangnya jarang bertemu karena keduanya punya kesibukan masing-masing, ditambah setelah Felix, mereka jadi lebih jarang lagi berinteraksi. Felix tidak menyangka ia punya ruko di sini, untung Felix pasang status sedang mencari ruko, jadi Bintang langsung menghubunginya. Setelah basa-basi, Bintang membawa Felix masuk ke dalam ruko untuk lihat-lihat. Tempatnya lumayan luas, ada tiga lantai, dan punya cukup banyak ruangan. “Wah, ini sih bagus banget,” gumam Felix. “Iya, tapi susah cari yang mau sewa atau beli, yah, lo liat aja dari depannya, kayak ruko mahal, jadi orang pasti ragu dan takut buat sekedar nanya harga,” ujar Bintang. “Emang harusnya mahalkan?” tanya Felix. Bintang tertawa kecil sambil menggeleng, “Ini tuh ruko peninggalan bokap, gue gak berniat mengomersialkan, pas banget lo lagi cari tempat, emang rezeki lo ini mah,” Felix tersenyum senang mendengarnya. Setelah itu membicarakan perihal harga, sebenarnya harga sewanya bagi Felix tetap mahal, tapi itu terhitungnya murah untuk bangunan yang terawat, bertingkat dan banyak ruangan. Hanya saja Felix memikirkan biaya dekorasi nanti, sepertinya ia terpaksa harus mencari bahan dekorasi yang lebih murah. Masalah bayaran, Jino bilang tidak perlu terlalu memikirkannya. “Sebenernya gue pengen istri gue liat-liat dulu sebelum ambil keputusan, tapi dia lagi tidur, kayaknya dia bakal suka sih,” ujar Felix. “Lo bisa ambil keputusan nanti sama istri lo, jangan buru-buru, entar kan tinggal ngehubungin gue aja kalau lo emang udah deal,” timpal Bintang. Felix mengangguk, “Oke,” “Lo sama istri lo kayaknya mau buru-buru banget, santai aja kalau lagi buka usaha, kalau gak hati-hati bisa buntung,” ucap Bintang. “Haha, iya, habis gimana, ya? Gue sama istri gue baru kali ini ngerencanain sesuatu bareng kayak gini, sebelumnya kita masih kayak hidup sendiri-sendiri, thanks banget udah ngingetin,” Bintang tersenyum, “Yap, gue siap bantu kalau misalnya lo butuh apa-apa. Semoga usaha lo sukses dan lancar. Tapi kok lo jadi banting stir buka studio foto? Emang lo bisa fotografi, kenapa gak kelas dance aja?" tutur Bintang. "Gue rencanya jadi vlogger, cover lagu sama nari. Kalau studio foto ini permintaan istri gue, diakan fotografer,” jawab Felix. "Jadi vlogger? Serius?” respon Bintang. "Ya, iyalah, emang kenapa? Aneh, norak, alay?" timpal Felix. "Gak gituuu... cuman jadi vlogger nunggu uangnya turun lama, itu juga gak nentu, kalau gak ada iklan, gak dapet,” ucap Bintang. "Iya gue tau, ya, tapi gue pengen coba, gue tertarik soalnya, udah lama pengen bikin cover lagu dan dance, tapi waktu gue kan gak banyak, kalau ada waktu luang dipakai buat istirahat. Tapi usulan lo bagus sih, bikin kelas nari kayaknya boleh juga," celoteh Felix. "Apapun deh yang terbaik buat lo, istri lo dan anak lo nanti. Zaman sekarang harus kreatif, apa lagi lo masih muda, dari susah payah ngelamar kerja buat jadi karyawan atau PNS, mending berkarya sendiri, biasanya hasilnya lebih dari karyawan, tapi ya harus ulet, jangan cuman kerja keras, tapi harus kerja cerdas." Felix tersenyum sembari menganggukkan kepalanya mendengar petuah dari Bintang. “Thanks banget, hah, usaha juga pasti naik-turun, doain gue bisa lewatin,” “Pasti itu!” “Ya, udah gue balik dulu, ya? Kasian istri gue nunggu di mobil," ujar Felix. "Oke, hati-hati, ya? Salam buat istri lo.” Ucap Bintang, yang Felix balas dengan anggukkan. Felix kemudian lekas kembali ke mobilnya yang berada di parkiran, saat ia masuk ke mobil, ia melihat Bebita masih tidur dengan kaki yang naik ke dasbor. Felix menggelengkan kepalanya, sudahlah Bebita hanya mengenakan celana ngatung berwarna hitam dan kaos oblong putih, menggunakan kacamata besar dan rambut dicepol. Riasan wajahnya hanya menggunakan pensil alis, lipstick yang tinggal dipinggiran bibir, karena habis makan tadi. Felix tertawa kecil setelah terlalu seksama memperhatikan penampilan Bebita, tetap terlihat cantik meskipun kelihatan agak konyol. Yang Felix pikirkan, ia belum jadi emak-emak saja sudah semrawut ini penampilannya, bagaimana kalau sudah punya anak nanti? Kayaknya sama sekali tidak akan sempat memperhatikan penampilannya. Ya, ia sebagai suami harus mengerti, karakter Bebita memang cuek, apa lagi masalah penampilan, asal ia tidak jorok dan selalu wangi, agak berantakan juga tidak masalah, bisa Felix bantu rapihkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN