09

1711 Kata
"Beb bangun, udah nyampe," Felix mengguncang tubuh Bebita untuk membangunkannya, tapi gadis itu hanya menggeliat sembari mengerang, kemudian mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan, membuat lipstick-nya makin belepotan. "Beb, ring light lo dibawa orang, Beb!" teriak Felix, yang membuat Bebita sontak melotot, dan menegakkan tubuhnya. "Mana? Mana? Siapa yang berani bawa ring light gue!" seru Bebita, yang membuat Felix tertawa lebar. Bebita pun memukul lengan Felix, sembari menatapnya geram, “Parah lo! Nipu gue!” geram Bebita, yang membuat tawa Felix semakin mengeras. "Makanya bangun!" kata Felix sebelum turun dari mobil. Bebita itu memang paling sayang dengan ring light-nya, katanya karena susah untuk mendapatkannya. Felix berjalan lebih dulu menuju lift, tak lama kemudian ia mendengar suara langkah lari dari belakang, sebuah tangan pun lalu melingkar di lengannya. "Kita gak jadi ke tempat temen kamu?" tanya Bebita. "Udah, tapi kamunya tidur, ya udah aku pergi sendiri," ujar Felix sembari menekan tombol lift, saat mereka sudah tiba di depan lift. "Terus gimana, tempatnya cocok, udah deal?" Bebita kembali melontarkan rentetan pertanyaan. "Aku pengen kamu liat dulu tempatnya kan? Udah aku foto-foto biar kamu liat, tempatnya sih bagus, kayaknya kamu bakal suka, ada tiga tingkat, banyak ruangan juga, nanti kalau kamu udah deal, aku bakal langsung hubungin Jino buat bahas dekorasi.” Bebita jingkrak senang, sembari memeluk Felix dari samping, Felix terkejut sampai tubuhnya membeku, ia masih merasa canggung dan malu untuk melakukan kontak fisik secara tiba-tiba dengan Bebita. Padahal ia sudah serius menganggap Bebita sebagai istrinya, tapi entah kenapa masih selalu terkejut kalau Bebita tiba-tiba memeluknya, atau mereka tanpa sengaja bersentuhan. ••• Felix sudah wangi dan bersih, kaos putih serta celana pendek membalut tubuhnya. Saat ia sedang asik tiduran di kasur sambil main ponsel, Bebita yang baru selesai mandi dan ganti baju, tiba-tiba nyempil ke tubuh Felix, ia menyandarkan kepalanya di atas bahu Felix, dan meraih salah satu lengannya untuk dipeluk. Felix hanya terdiam, dengan mata masih melihat ke arah ponselnya, membuat Bebita mendengus kesal, karena merasa diabaikan. "Ngapain sih?" tanya Bebita sembari melirik ke arah layar ponsel Felix. "Pengen tau aja,” balas Felix dengan sudut bibir kiri terangkat. Bebita tak lama kemudian mengusak-ngusak wajah dan rambutnya ke d**a Felix, Felix hanya diam, meskipun sejujurnya ia agak risih, kenapa juga Bebita tiba-tiba seperti ini? Pikirnya. "Beb, aduh kamu ngapain sih?" tanya Felix, saat ia sudah mulai benar-benar risih. Felix merubah posisinya jadi duduk, kemudian mendorong pelan Bebita untuk menjauh darinya. "Kenapa?" tanya Bebita bingung, ia tentu saja merasa sedih dan sedikit sakit hati karena Felix seperti itu. "Justru aku yang harusnya nanya, kamu ngapain? Tumbenan banget kayak gitu,” ujar Felix. "Emang salah, ya? Aku manja-manja ke suami sendiri? Aku kira gak papa,” ucap Bebita yang membuat Felix bungkam, sepertinya ia sudah membuat kesalahan besar. Bebita berbalik memunggungi Felix, sembari menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut, yang membuat Felix gelagapan. Felix menghela napas, ia kemudian menyentuh bahu Bebita sembari bergumam ‘maaf’, namun Bebita hanya diam saja, tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Felix pun akhirnya berbaring di samping Bebita, dan memeluknya dari belakang. Bebita lagi-lagi tidak memberi respon apapun, membuat Felix semakin merasa bersalah, tapi ia bingung harus melakukan apa, kalau Bebita sudah diam saja seperti ini, tandanya tidak bisa dibujuk bagaimana pun caranya. Jadi Felix harus menunggu sampai Bebita tenang sendiri. “Aku minta maaf udah kayak gitu ke kamu, aku minta maaf.” Bisik Felix. Di dalam selimut Bebita berusaha menahan isakan tangisnya, ia jadi merasa Felix sebenarnya belum menaruh perasaan lebih padanya, ia sudah mencoba untuk tidak berpikir berlebihan, tapi semakin dipikir, penolakan Felix tadi membuatnya benar-benar merasa sakit hati. Ia juga jadi merasa malu sudah bertingkah agresif dengan memeluk dan bermanja duluan pada Felix, sikapnya itu ternyata membuat Felix jadi risih. ••• Di pagi hari Felix menemukan dirinya sendirian di kasur, Bebita tidak ada di sampingnya. Ia turun dari ranjang dan pergi keluar kamar untuk mencari keberadaan gadis itu, telinganya kemudian menangkap bunyi-bunyian dari dapur, ia bergegas ke sana dan menemukan Bebita sedang membuat sarapan. Wajahnya terlihat murung, memangnya kesalahan yang ia lakukan semalam sangat fatal, ya? Sampai-sampai Bebita masih marah pagi ini, atau mungkin Bebita sedang mau datang bulan makanya jadi sangat sensitif? Pikir Felix. Tanpa mengatakan apapun atau menyapa Felix, Bebita duduk di salah satu kursi meja makan, Felix pun langsung mengikuti. Bebita meletakkan nasi ke piring Felix beserta lauknya, namun masih tidak mengatakan apapun. Padahal biasanya ia cerewet kalau Felix belum cuci muka dan gosok gigi, tapi langsung mau makan. "Beb, kamu kenapa, sih? Cuman gara-gara semalem kok ngambeknya sampe sekarang? Aku tau aku salah, aku minta maaf, aku gak maksud kayak gitu, ahh, bukannya cari alesan, pokoknya aku minta maaf, jangan marah terus, ya?” ujar Felix. Bebita terdiam sejenak, ia kemudian tersenyum simpul sembari menggelengkan kepalanya, "Gak papa, aku cuman jadi nyadar aja,” ucap Bebita. "Nyadar apa?" tanya Felix dengan perasaan yang mendadak jadi tidak enak serta berdebar, ia takut mendengar apa yang tidak ingin ia dengar. "Nyadar kalau di sini cuman aku yang sayang sama kamu sebagai suami aku," papar Bebita kemudian yang membuat Felix tercengang. "Kok kamu bisa main nyimpulin kayak gitu? Emangnya kamu tau perasaan aku kayak gimana?" timpal Felix. Bebita tidak menjawab, ia malah mulai makan tanpa mengatakan sepatah kata pun, yang membuat Felix menghela napas putus asa. "Beb," panggil Felix, namun Bebita tetap hanya diam, enggan merespon. Felix jadi merasa bingung, kesal dan tidak selera makan, ia akhirnya beranjak dari kursinya, dan pergi ke kamar, atau lebih tepatnya kamar mandi. Mungkin dengan mandi bisa membuat pikirannya lebih jernih, serta perasannya lebih tenang. •••                                           Felix mengambil kemeja jeans warna putih untuk melapisi kaos hitam yang sudah dikenakan sebelumnya, mandi tidak membuatnya merasa lebih baik, jadi ia memutuskan untuk pergi mencari udara segar. Saat ia berbalik badan sehabis bercermin, ia melihat Bebita sedang berdiri di ambang pintu memperhatikannya. Mereka hanya saling menatap tanpa ada yang bicara, namun tak lama kemudian Bebita pun membuka suara. "Mau kemana?" tanya Bebita. Felix tidak menjawab, sepertinya gantian ia yang akan mendiamkan Bebita. "Marah? Yang harusnya marah itu siapa? Lo bilang gue aneh. Jadi cowok gak peka banget, lo jelas-jelas nolak gue semalem, padahal gue cuman meluk lo," tutur Bebita sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. Felix mengernyit dan menatap Bebita dengan raut wajah kesal, "Cuman masalah kayak gitu mau lo gedein? Lo kekanakan banget, lagian gue udah minta maaf berkali-kali,” ucap Felix. "Lo gak ngerti perasaan gue!" seru Bebita. "Gue ngerti banget perasaan lo! Perasaan lo itu berlebihan!” Bebita membelalakkan matanya mendengar jawaban Felix Mata Bebita seketika berkaca-kaca, ia tidak mengatakan apapun, karena kalau ia bicara, suaranya akan terdengar bergetar dan itu memalukan. Ia kemudian menarik napas dalam, sembari menggeser tubuhnya menjauh dari pintu. "Lo mau pergikan? Pergi aja sono, gak usah pulang lagi sekalian.” Ucap Bebita tanpa menatap Felix. Felix malah jadi tidak ingin pergi kalau Bebita seperti ini, hati kecilnya mengatakan kalau ia tidak boleh pergi, ia harus menyelesaikan masalah ini, bukannya malah kabur. Ya, bodohnya ia, ia kan padahal sudah dewasa, sudah seharusnya menyelesaikan masalahnya, bukannya malah mau kabur. "Lo kenapa sih? Gue minta maaf lagi gue udah nolak pelukan lo semalem, terus gue harus gimana lagi? Itu bukan masalah besarkan?” tutur Felix bingung. "Lix, lo tau lah gue cewek kayak apa, gue bukan cewek yang hobi nempel-nempel. Jangankan sama cowok, sama cewek aja gue hampir gak pernah. Dan gue cewek yang punya gengsi tinggi. Gue meluk lo duluan itu udah keajaiban, dan lo tolak? Itu kayak lo nembak cewek, terus ditolak sambil dikatain," celoteh Bebita panjang lebar. Felix ngehela napas, bingung harus jawab apa, jadi ia hanya terdiam sembari mencubit tulang hidungnya. "Menurut lo itu masalah kecil, menurut gue enggak! Mana gak ada alesannya lagi. Dari situ juga udah nandain, kalau lo gak sayang sama gue sebagai istri!" seru Bebita. Felix menggelengkan kepala, ia memang masih tidak mengerti perasaannya terhadap Bebita seperti apa, hanya saja... "Jangan asal nyimpulin gitu dong. Lagian Bebita yang gue kenal itu gak drama kayak gini. Ya, jadi gue otomatis kaget dong, cuman gue tolak pelukannya lo marah sampe kayak gini? Ada yang salah sama lo. Lo pms, atau kenapa? Lo juga aneh, tiba-tiba manja banget ke gue kayak semalem. Gue kaget," papar Felix. Sedikit berbohong untuk kebaikan, tapi gue bener-bener kaget sama perubahaan sikap Bebita, batin Felix. Bebita terdiam, keningnya mengkerut, alisnya bertaut, dan bibirnya melengkung kebawah. "Beb," gumam Felix dengan bahu turun karena putus asa. "Udah sono katanya lo mau pergi,” ucap Bebita sembari menunjuk pintu keluar kamar. "Gak jadi," kata Felix sembari melepas kemeja yang ia pakai, tanpa sengaja kemejanya menyenggol sebuah  buku yang berada di atas meja, membuat buku tersebut jatuh ke lantai, dan ada isinya yang jadi keluar. Felix otomatis berjongkok untuk memungut buku serta isi yang keluar, tetapi Bebita juga ikutan, ia terlihat buru-buru dan panik saat tangan Felix hampir mengambil sebuah benda tipis yang tadi keluar dari dalam buku. Namun Bebita kalah cepat dari Felix, Felix sudah lebih dulu mengambil benda itu, sebelum dirinya. Ekpresi Bebita langsung terlihat tegang, membuat Felix bertanya-tanya serta curiga. Mata Felix pun kini terarah pada benda yang berada di tangannya, ia seketika terdiam, suasana kamar mendadak hening, suara jarum jam pun tidak terdengar, karena batrainya memang habis. Felix tak lama kemudian berdehem, sebelum bicara. "Sejak kapan?" tanya Felix dengan nada lirih, napasnya sedikit memberat. Ia berusaha tetap bersikap tenang, padahal sebenarnya ia sangat shock, sampai semua benda di sekitarnya seolah berputar. "Gak tau,” cicit Bebita. "Lo bilang kemaren lo lagi gak masa subur, tapi ini?” timpal Felix dengan nada tak kalah lirih dari Bebita. "Gu-gue salah, gue salah liat jadwalnya,” ucap Bebita sembari menundukkan kepalanya, dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bebita hamil, tapi ia selama ini tidak menunjukkan tanda-tanda hamil, seperti muntah-muntah, ngidam, sakit-sakit, atau apapun, ia tampak biasa saja, ia hanya berubah jadi manja dan sensitif. Tak lama kemudian terdengar suara isakan tangis Bebita, yang membuat Felix jadi semakin kebingungan, ia menatap gadis itu dengan tatapan sulit diartikan. "Kenapa nangis?" tanya Felix kemudian. Bebita tidak menjawab, ia hanya terus menangis. Ya, sebenarnya Felix sudah bisa memperkirakannya sendiri, pasti perasaan Bebita hancur karena ia hamil disaat yang tidak tepat dan yang jelas tidak sesuai rencana. Felix sendiri jadi bingung harus bagaimana, ia jadi berpikir rencana yang sudah ia susun bersama Bebita akan hancur berantakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN