Shazia terbangun pagi buta dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Rasa mual membuatnya terbangun dan langsung mengeluarkan sisa makan malamnya semalam, tidak lama Azril menyusulnya di belakang sembari membawa segelas air. Dia mengetatkan rahangnya sembari memijit tengkuk istrisnya. Dia tidak tega melihat Shazia muntah dan lemas. Shazia memegang lengan Azril ketika sudah berkumur. Tenaganya langsung terkuras, dia meminum air yang diberikan suaminya dan bersandar di d**a Azril. “Aduh, Nak. Kamu sudah semangat pagi-pagi.” Gumam Shazia sembari tersenyum. Demi melihat senyum Shazia, Azril ikut mengelus perut istrinya dengan sayang. “Pelan-pelan ya nak, kasian bunda.” Shazia tertawa, mereka kembali ke tempat tidur dan berbaring. Dia merasa lucu ketika Azril berbicara seperti itu. Di perutn

