pintu tertutup
Deven menghela nafasnya dalam-dalam
kenapa kakak Ingvar itu bisa cewek yang ia pikirkan tiap malam menghantui setiap pikiran dan mimpi nya
dia gak mungkin sama kakak nya Ingvar
selain karena mereka bekerja di tempat yang sama
level nya berbeda sekali dengan Deven
ya siapa yang tidak tau Ingvar dan kakak nya Ingvar
Ingvar dan kakaknya itu saudara kembar yang punya talenta berbeda
Ingvar di bidang olahraga
Marcha di bidang akademik dan dia sangat kreatif
Marcha dulu nya putri cilik Indonesia yang sampai sekarang masih dikagumi banyak orang
dia masuk di salah satu list wanita terkaya di Indonesia versi beberapa majalah ekonomi dunia
Ingvar yang selalu cerita panjang lebar tentang kakak kembarnya itu
dia begitu membanggakan kakak nya itu
lalu siapa Deven yang masih berharap pada Marcha?
dia cuman wakil direktur rumah sakit yang...
Deven tetap merasa gak sepadan dengan kakak nya Ingvar
"Dev" panggil Ingvar
"ya Var?" tanya Deven kaget dan sedikit panik
"kakak gue kenapa ya manggil lo?" tanya Ingvar "kalau ada masalah sama rapat tadi harus nya khan dia manggil gue, direkturnya"
"ehmmm gak paham juga gue Var" kata Deven
"mungkin laporan yang lo tulis ada yang salah Dev" kata Ingvar
Deven mengangguk "bisa jadi, gue juga gak yakin sama laporan yang gue tulis sih" kata Deven "apalagi lo khan bilang kalau kakak lo perfeksionis Var"
Ingvar mengangguk "pokoknya kalau kakak gue ngomong yang nyakitin hati, lo jangan baper ya Dev... dia emang gitu orangnya"
"ya Var, gak apa" kata Deven "tenang aja, gue bukan orang yang gampang baper"
Ingvar mengangguk "ya udah, yuk kita balik kerja" kata Ingvar "laporan yang dibuat Vincent sama Jeffri kayak nya ada yang gak bener Dev, itu..."
kemudian Ingvar mulai membahas masalah pekerjaan dengan Deven
tapi Deven merasakan tekanan yang tidak ada hubungannya dengan laporan pekerjaan nya
Deven tau jelas kenapa kakak Ingvar itu mau menemuinya
dari awal tatapan tajam itu
Deven sudah merasa berada di dalam masalah.
Siang hari nya.
Deven berusaha menahan rasa gugupnya ketika melihat wanita cantik yang memang mirip bidadari salah alamat itu duduk di dekat jendela
Marcha tersenyum ketika mata nya melihat kedatangan Deven
wanita itu melambaikan tangan nya supaya Deven menyadari diri nya
Deven menahan nafas nya seraya berjalan ke arah Marcha
"hallo" sapa Deven canggung
"duduk Dev" kata Marcha
"iya bu" Deven mengangguk
"kok ibu sih?, lo umur berapa?, bukan nya kemaren lo bilang umur 30?" tanya Marcha
Deven tersenyum, ternyata dia sudah memberikan banyak informasi tentang diri nya kepada Marcha
"ya, saya umur 30" jawab Deven "saya panggil ibu karena anda atasan saya"
"kita lagi istirahat, biasa aja mas bro" kata Marcha "gue umur 27, masa iya lo manggil gue ibu sih?, emang gue setua itu?, gue malah lebih muda dari elo khan"
"hhhmmm" Deven menatap Marcha menilai
tidak seperti yang dibilang Ingvar
kakak nya Ingvar yang memang terlihat sangar ini ternyata bisa santai juga
tapi pertanyaan yang Marcha tanya kan pertama kali benar-benar diluar expetasi Deven
"waktu di Bali itu, lo kenapa ninggalin gue di tempat tidur Dev?" tanya Marcha
Deven langsung menarik nafas nya dalam-dalam
kalau Marcha bukan kakak Ingvar
Deven bisa jawab sembarangan tapi .. karena kakak Ingvar
Deven bingung bagaimana menjawab Marcha
"sorry sebelum nya Cha, sebetulnya gue gak bermaksud ninggalin elo tapi... gue bingung aja waktu itu"
"bingung?" ulang Marcha bingung
"ya, gue gak tau harus gimana... maksud gue, lo tuh udah sempet sadar tapi lo kayak gak merhatiin gue jadi...ya gue yakin nya kalo lo bakalan lupa sama gue" kata Deven "dan lagi... gue sebenernya gak bener-bener inget, apa yang terjadi malem itu, samar gitu"
"lo lupa?" tanya Marcha
dengan polos nya Deven mengangguk
"lo gak lupa sama muka gue tapi khan?" tanya Marcha
"enggak, gue gak lupa kok... gue cuman lupa kejadian hari itu" kata Deven "jujur, gue agak bingung"
Marcha menghela nafas nya berat "lo ada penyakit amnesia jangka pendek kah Dev?, masa malam sepanas itu lo lupa?" tanya Marcha
Deven mengerutkan kening nya bingung
ini pertanyaan jebakan atau gimana sih maksud Marcha?
Deven juga gak paham arah pembicaraan Marcha ini sebetulnya kemana.
"kalau lo gak inget, gue ingetin ya" kata Marcha