AUTHOR POV ——————— "Dandi ... kumohon ... apa yang kamu lakukan sebenarnya? apa maksudmu melakukan ini?" Siska meremas lengan Dandi masih berusaha meminta penjelasan. Sekalipun merasakan sakit di sekujur tubuh, tidak tersirat kebencian dari kedua matanya. Walau begitu, dia tetap ingin selamat, mulutnya berteriak minta tolong— menjerit sekeras mungkin. Dandi mengamati keadaan sekitar. Sejauh mata memandang hanyalah semak-semak belukar. Pencahayaan hanyalah berasal dari rembulan. Dia beruntung samping gedung pertemuannya ditumbuhi banyak pohon untuk menyembunyikan aksi seperti ini. Tidak ada saksi, tidak ada kamera pengintai. Aman. Dia kemudian berkata pada Siska, "percuma disini sepi." "Kita sudah berteman sejak SMA— kenapa? apa maksudmu?" Wajah Siska mulai pucat karena kehabisan darah

