Dandi tertawa keras- Dandi menggila- Ya, seperti biasa sebenarnya. Tidak ada yang istimewa. Suara tawanya mulai membosankan bagiku. Dia menghampiri korban ke sepuluh, Ferdinand, yang bersandar pada tembok. Dia sengaja menarget orang itu akhir-akhir. Sambil berjongkok tepat di hadapannya, dia kelihatan mengatakan sesuatu. Kudekati mereka sambil berkata, "Dandi, sudah bunuh langsung saja." "Jangan dong," tolaknya mulai menggores kulit wajah Ferdinand. Pipi, hidung, dahi, semuanya tersayat perlahan. Tangannya benar-benar lihai kalau masalah sayat-menyayat. Jujur saja, aku ngilu melihat pemandangan ini- karena pada dasarnya aku tidak suka menyiksa. Harusnya langsung dibunuh saja. Selesai. Kulihat darah mulai membasahi wajah itu. Dia begitu mengerikan. Seluruh tubuhnya juga mulai diiris-

