“Kita sampai, Tuan,” ujar Bruno sebelum melangkah turun. Hujan baru saja reda ketika mobil yang membawa Gyan berhenti di kawasan Rue Saint-Sulpice. Begitu Bruno membuka pintu, udara lembap dan dingin berembus mengusap wajahnya. Gyan keluar, berdiri terpaku menatap tetes-tetes air yang masih jatuh dari atap gereja tua di hadapannya. Kubah Saint-Sulpice Church menjulang di antara deretan bangunan klasik. Gereja itu tak seramai Notre-Dame atau Sacre-Coeur, namun justru di situlah daya tariknya. Sunyi, damai, dan seolah menyimpan cerita-cerita yang tidak pernah diucapkan. Langkah Gyan bergema di lantai batu. Aroma lilin dan kayu tua menyambutnya. Ia menurunkan payung, lalu berdiri di tengah nave, di hadapan deretan kursi panjang kosong. Hanya ada beberapa jemaat yang duduk di sudut, berdoa

