“Iya, aku sebentar lagi sampai di rumah sakit. Aku baru sampai di parkiran,” ucap Bastian sembari membuka pintu mobil dan menutup pelan. Kakinya melangkah pelan ke arah bangunan di depannya. Bahkan, masih banyak sekali orang berlalu-lalang, seakan sang penghuni tidak pernah terlelap sama sekali. “Cepatlah, Bas. Aku sudah lapar,” sahut Albert dari seberang. “Iya, Pak Dokter,” ucap Bastian sembari memutar bola mata kesal. Dia memilih mematikan panggilan, enggan mendengar gerutuan Albert mengenai kondisi perutnya kali ini. Rasanya lelah karena sejak tiga puluh menit yang lalu, dia sudah mendengar hal yang sama. Keluhan Albert yang merasa lapar di malam hari. “Dasar dokter gila. Kenapa harus masakan mamanya coba, kan? Padahal dia bisa makan masakan rumah sakit,” gumam Bastian sembari memuta

