13. Hate To Love

1299 Kata

Parveen menatap rumah bercat putih itu ragu. Ia sedikit tidak percaya diri akan tinggal satu atap dengan bos besarnya ini. Apalagi akan ada Erina yang menyusahkan Tante Scarlett. Meskipun dirinya tahu kalau adiknya itu tidak akan menyusahkan siapapun. Fairel menatap Parveen dengan alis berkerut. “Nggak turun?” “Gue ragu, Kak.” Parveen menunduk lesu, menatap kedua sneakers putihnya yang terlihat sedikit kotor. Fairel menghela napas pelan. Ternyata Parveen selain keras kepala, gadis itu sangat susah dipatahkan keputusannya. Padahal ini untuk kebaikannya sendiri, tetapi entahlah apa yang dipikirkan oleh otak cantiknya itu. Lelaki gagah yang awalnya menyebalkan bagi Parveen mulai bersikap manis. Telapak tangan besar nan hangat itu menyentuh pundak mungil Parveen. Tatapan melembut kala gadi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN