bc

Perpisahan di Ujung Nafas

book_age16+
17
IKUTI
1K
BACA
BE
family
forced
goodgirl
doctor
drama
tragedy
sweet
bxg
serious
campus
office/work place
civilian
like
intro-logo
Uraian

Mencintai adalah hak setiap orang, bukan? Tak ada siapa pun yang berhak melarang orang lain untuk memendam rasa, entah itu pada pasangan orang lain atau sosok yang berada di level berbeda. Kamu tidak pernah salah karena mencintai seseorang. Tapi bagaimana jika sesuatu yang begitu abstrak tersebut hadir di tengah situasi yang tidak memungkinkan? Memilih bertahan dengan rasa sakit, atau melepaskan untuk terluka? Ahh.. tidak ada pilihan yang tepat. Bagaimana jika berakhir dengan keabadian? Bukan cinta yang menguatkanmu, tapi cinta menjadi alasanmu untuk menjadi kuat.

chap-preview
Pratinjau gratis
CHAPTER 1
Matanya menatap lekat ke depan. tubuhnya seolah terpaku dan tak bisa digerakkan. Melihat sosok yang ada dihadapannya sedang berdiri dengan gagah membuat jantungnya berdegup kencang. Bukan karena terpesona, apalagi efek jatuh cinta. Jauh dari itu, si perempuan sedang menahan sakit tak tertahan menyaksikan pribadi itu berdiri begitu megah dengan seorang perempuan di sebelahnya sedang menggandeng tangannya mesra. “Lusi?” Sang pria yang juga tak kalah kaget bertemu perempuan itu memecah keheningan dengan memanggil namanya. Mendengar itu, perempuan yang dipanggil tersadar dari stroke mendadaknya. Bola matanya tampak tak bisa diam menatap sekitar, tapi tak pernah tertuju pada pria yang menyapanya. Lalu dengan hitungan detik berjalan dengan cepat meninggalkan lokasinya terdiam tadi serta orang tersebut. Dia berjalan terus tanpa peduli suasana mall yang ramai, dan hampir saja menubruk pengunjung yang ada. Suasana hatinya mendadak tidak enak. Dadanya sakit menahan emosi yang ingin segera diluapkan, tapi takt ahu harus dilampiaskan pada apa. Tak mungkin ia teriak di tengah mall itu. Ataupun memarahi petugas kebersihan atau satpam atau orang-orang yang mungkin menghalangi jalannya. Dia masih cukup waras untuk tidak mempermalukan diri sendiri. Biarpun gejolak di hatinya sedang berusaha membendung air mata, agar tak kebablasan keluar. Merasa tak sanggup lagi, ia berjalan tergesa gesa mencari toilet. Kelopak matanya sudah tak kuat untuk menahan lebih lama, dan mulutnya sudah tak sanggup tertutup. Hanya membuat dadanya semakin sakit hingga ke ulu hati. Tangis pilu membuncah, dan isak juga tak terelakkan lagi. Di balik salah satu pintu toilet ia melepaskan beban hatinya. Beban yang telah ia kubur dalam-dalam selama ini, namun mampu mengapung lagi ke permukaan hanya karena menatap wajah itu sepersekian menit. Ia tak peduli jika orang-orang di sana mendengar suaranya, ia hanya ingin sesak itu segera berakhir. Butuh waktu 15 menit untuk mengakhiri emosi tak terduga itu. Kini perasaannya sudah mulai bisa diajak berkompromi, meski belum sepenuhnya normal. Setidaknya nafasnya yang sempat tersengal karena tertahan air mata, sudah lega. “Setelah 5 tahun menghindar, aku harus melihatmu lagi? Dan aku bahkan masih belum kuat.” Lirihnya. Dia tak hendak membayangkan masa lalu di toilet itu. Segera disudahinya acara sedih sedihannya dan melihat pantulan dirinya dikcermin. Matanya tampak sembab bekas linangan, jejak air mata juga masih tampak jelas membentuk garis garis di wajahnya. Diambilnya tissue basah dari dalam tas dan mulai membenahi penampilannya yang terlihat tak wajar. Setelah merasa lebih baik, dia beranjak meninggalkan toilet. Tapi BUUUM, mereka bersitatap lagi. Entah nasib sial apa kali ini yang sedang mengikutinya. Hari ini dia memang tidak mengecek ramalan zodiaknya. Hari Rabu yang sial, dan memang selalu jadi hari langganan tak menyenangkan baginya. “Hay Lus…” Lagi-lagi pria itu menyapanya. Dari semua toilet di mall sebesar ini, kenapa juga makhluk ini harus ke toilet ini? Tapi yang disapa justru membuang muka. “Maaf…” lalu berpaling setelah kata singkat tanpa makna itu. Lelaki yang ditinggal menatap punggung perempuan yang dipanggilnya Lusi itu, hingga hilang di belokan. Dia masih termangu membayangkan sikap gadis itu. Sedang Lusi berjalan dengan cepat, tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya aneh karena langkah yang seperti dikejar. Ia ingin segera pergi jauh, tak ingin mendapat kesempatan naas untuk berjumpa dengan lelaki itu lagi. Tidak, ia sungguh tak ingin. Lusi akhirnya sampai di pinggir jalan setelah berjalan menembus keramaian mall, ia berjasil keluar dari gedung 5 lantai tersebut. Tak menunggu lama, dijulurkannya tangan tanda menghentikan angkot. Sebuah angkot warna merah berhenti tepat di depannya yang langsung ia naiki. Setelah dihempaskannya pantatnya ke kursi angkot ia menghembuskan nafas kasar. Sengaja ia memilih duduk di bagian paling belakang, tempat paling tenang menurutnya. Kepalanya masih sibuk membayangkan kejadian tak terduga tadi. Matanya terarah menembus kaca menatap kosong pada lalu lintas. Perasaannya tak menentu, ingin rasanya dia teriak melampiaskan semua sisa kecewa yang masih sangat besar. Selama lima tahun dibenamkannya perasaannya, berusaha untuk menutup celah apapun tentang lelaki itu. Bukan perkara mudah, dan ia tersadar, upayanya selama 5 tahun tidak berguna hanya karena sebuah tatapan singkat yang bahkan tak sampai 30 detik. Diusapnya wajahnya dengan kasar, ia benar-benar stres sekarang. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan, tanda tanya, keraguan, kemarahan, yang berakhir kesedihan. Hampir saja ia tak kuasa membendung air mata. Namun kesadarannya segera kembali saat angkot yang ditumpanginya tiba-tiba saja direm mendadak. Terdengar sang supir mengumpat pada mobil sedan silver di sebelah, beberapa penumpang juga menjadi ikutan heboh. Lusi yang tidak tahu menahu, tidak mau ambil pusing. Kepalanya sudah cukup pusing sekarang, ia hanya ingin segera sampai di kost dan tidur. Berbeda dengan respon Lusi begitu bertemu dengan Edo. Pria yang terpaku bertatapan dengan Lusi itu justru merasa bahagia. Terlihat jelas dari sorot matanya yang begitu merindu. Bagaimana tidak, setelah sekian tahun penuh duka yang ia coba hadapi hari demi hari. Ia bisa kembali menikmati wajah yang begitu dalam membekas di relung hatinya. Tapi ia bingung, apa yang harus dilakukannya. Siapa dia saat ini bagi perempuan di depan matanya itu? Ada pergolakan singkat dalam benaknya. Mendadak ia meragu. Ia bukan lagi sosok yang dulu, meski rasa itu masih ada. Kini dia tidak bisa lagi sembarangan bernostalgia sekali pun ada sesuatu yang ingin dia perjelas selama ini. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Desahan Sang Biduan

read
55.8K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
4.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.6K
bc

After We Met

read
188.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook