Edo POV
Aku tak percaya akan melihatnya hari ini, di tempat ini, dengan situasi seperti ini. Ada rasa bahagia bisa bertemu dengan teman lama. Sudah lebih dari 5 tahun kami tak berjumpa setelah pertemuan terakhir kami di kota Kembang, Bandung.
Apa aku harus menyebutnya teman lama atau seorang mantan?
Tiba-tiba saja aku mengenang setiap peristiwa sebelum perpisahan tak menyenangkan itu. Bagaimana kami bisa bertemu secara tidak sengaja di kampus, lalu berteman, hingga akhirnya menjalin hubungan asmara. Ada begitu banyak kenangan yang kami lalui.
Tadi aku sedang menemani Nella kekasihku berbelanja, kami berada di eskalator menuju lantai 2. Baru beberapa langkah beranjak dari tangga berjalan, tanpa sengaja tanganku tertabrak pada paper bag seseorang. Mungkin karena tidak dipegang dengan kuat, paper bag itu terjatuh. Terlebih situasi mall yang cukup ramai membuat sulit untuk tidak bergesekan dengan pengunjung lain.
“Maaf..” Ucapku hendak memungut paper bag itu, namun diduluani oleh sang pemiliknya yang seorang perempuan.
“Iya, gk apa.” Jawabnya dengan lembut.
Aku memperhatikannya ketika menunduk mengambil barangnya, lalu setelah itu dia mendongak menatapku kembali. Perempuan itu adalah orang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupanku. Orang yang pernah kucari, tapi tak kunjung kutemukan.
“Lusi?” Suaraku seperti seseorang yang sedang mengiba. Entah kenapa. Namun bukan sambutan hangat yang kuperoleh, melainkan orang yang kusebut namanya pergi cepat mengubah langkah, meninggalkanku yang masih heran.
“Kamu kenal dia?” Suara Nella membuatku tersadar. Tapi tak kunjung kulepaskan pandanganku dari perempuan yang kini telah hilang kembali.
“Hmmm??” Aku masih belum berpikir jernih, apakah benar itu Lusi yang ku kenal, atau orang lain? Atau aku hanya sedang berhalusinasi?
“Nel, coba cubit aku.”
“Hah??” Nella balik bertanya, ia pasti bingun dengan perintahku. Akhirnya aku menampar pipi kananku sendiri.
“Aku tidak mimpi. Jadi itu pasti Lusi.”
“Ikhhh… kamu kenapa sih?” Nella menarik tanganku menjauhi arus bolak-balik pengunjung menuju depan toko sepatu. Aku yang masih berpikir tak melawan barang sedikit.
“Aku cuma kaget nengok perempuan tadi.”
“Kenapa? Mantan kamu?”
Pertanyaan yang telak dari bibir kecil itu membuatku melotot. Namun ekspresiku segera kuubah menjadi datar kembali.
“Hmm, mirip. Tapi kayaknya aku salah orang.” Aku berkilah agar tak terjadi masalah. Berhubung Nella tipe perempuan posesif cenderung cemburuan. Bukan hal yang baik jika aku memberitahukannya segala yang ada dikepalaku saat itu.
Kusembunyikan kegundahan hatiku dalam diam. Memasang ekspresi senormal mungkin selama menemani Nella. Syukurnya gadis yang masih menggandeng tanganku itu tidak memperpanjang masalah itu.
“Yang, aku ke toilet bentar ya.”
“Oke.”
Nella berjalan mendahuluiku menuju toilet. Sedangkan aku mengekor tak jauh dari belakang. Aku baru saja berdiri di depan toilet laki-laki ketika aku kembali melihat Lusi. Matanya terlihat sembab, tampak jelas jika ia baru saja menangis. Entah kenapa hatiku bergetar melihat sisi rapuhnya. Dan lagi-lagi dia hampir menabrakku, hingga membuat mata kami beradu. Aku tak kuasa tidak memanggil namanya, seolah hanya itulah yang bisa keluar dari mulutku.
“Hy Lus…”
Tapi dia hanya menatapku sekilas, lantas membuang muka, lalu mengucapkan maaf yang entah untuk apa. Kemudian sekali lagi meninggalkanku yang juga tak melakukan apapun. Setidaknya aku bisa meraih tangannya untuk menahannya barang sebentar. Tapi aku hanya membiarkannya pergi, menatap tubuh kurusnya hingga tak terlihat lagi.
Aku masih terpaku menatap Lorong yang ia lewati. Hingga Nella menepuk lenganku.
“Heyy… Ada apa?” Tanyanya penuh selidik sambil melihat ke arah pandanganku. Sepertinya ia penasaran dengan apa yang membuatku sempat terdiam beberapa saat.
“Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran kantor.” Dalihku mengalihkan suasana.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Nella mengetahui tentang masa laluku. Terlebih di tengah hubungan kami yang sebentar lagi akan melangkah ke jenjang pernikahan, ia lebih mudah curigaan. Bahkan ia pernah memarahi sekretarisku yang berdiri terlalu dekat denganku, padahal kami memang sedang membahas pekerjaan. Akan lebih rumit masalahnya jika ia mengetahui tentang Lusi.
Sepanjang hari hatiku tidak tenang, tubuhku ditarik Nella ke sana ke mari dengan pasrah, dan akal sehatku sedang drop dan tak bisa berpikir dengan baik. Nella berulang kali menanyakan keadaanku, tapi lagi-lagi aku mengatakan jika tidak terjadi apa-apa. Hingga jam menunjukkan pukul 20.00 WIB, ia akhirnya selesai dengan semua euforianya.
“Kita makan malam di mana?” Tanyanya sambil terus menggandeng tangan kiriku. Sedangkan tangan kananku penuh dengan paper bag belanjaannya.
“Hmmm…. Di mana ya?” Aku berpura-pura berpikir, walaupun sebenarnya aku sedang tidak memikirkan hendak makan di mana. Toh perutku juga tidak meminta makan.
“Kita ke Pizza Hut aja yu..”
Sebelum aku memberi jawaban, ia sudah terlebih dahulu menyeret tanganku ke arah restoran fast food tersebut. Mau tidak mau, aku harus menurutinya.
Selera makanku hilang sejak makan siang tadi. Tepatnya setelah perjumpaan sekejap dengan Lusi. Jika bukan karena takut Nella marah, mungkin aku akan memilih pulang dan tidur saja. Mungkin aku tampak seperti pengecut yang tak berani menghadapi kekasihnya. Kalian boleh berpikiran demikian. Tapi aku tak bisa menghadapi perempuan yang satu itu kalau sudah marah. Ia akan menguruh diri di kamar, tidak makan dan tidak minum. Lalu ia akan mengadu pada ibuku, dan ibuku akan menceramahiku hingga berjam-jam. Aku lebih memilih mengurus pekerjaan kantor hingga lembur daripada harus mendengar ocehan ibuku.
Aku mengantarkan Nella hingga ke rumahnya. Tanpa keluar mobil aku menatap tubuhnya menghilang di balik pagar besi setinggi 2 meter. Kemudian aku membanting setir untuk kembali ke apartemenku. Hanya butuh 10 menit untuk sampai di tempat parkir.
Selama perjalanan hingga menuju kamar, adegan pertemuan tadi masih berputar di kepalaku seperti film. Ada rasa rindu yang tidak bisa kupungkiri untuk perempuan itu. Aku menatap langit-langit kamarku, dan air mata tak sanggup lagi ku tahan. Aku seperti bayi besar yang cengeng sekarang.
Mataku masih tetap menatap warna putih langit kamar. Kenangan sebelum tragedi 5 tahun lalu terlintas begitu saja dalam benakku. Ada dia di sana, gadis berkulit kuning langsat dengan rambut ikal hitamnya yang teruari setengah punggungnya. Dia tersenyum begitu manis sambil menopangkan dua tangannya menahan dagu.
Sesekali aku menatapnya sambil geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, aku sedang sibuk mengerjakan tugas mata kuliah bisnis, sedangkan dia hanya menatap wajahku sambil meledek. Aku merindukan gadis itu, sosok yang membuatku lebih bahagia. Aku yang merasa selalu kesepian, seolah diberikan teman baru. Dia selalu menyempatkan diri menemaniku jika tak sedang kuliah. Padahal fakultas kami memiliki jarak yang jauh satu sama lain. Dia di fakultas kedokteran, sedangkan aku di fakultas ekonomi dan bisnis.
Pertemuan kami berawal dari seorang teman yang memperkenalkan kami. Aku yang pendiam merasa nyaman dengan pribadinya yang selalu bisa memecah keheningan. Dia tidak jaim seperti perempuan pada umumnya jika berada di dekat laki-laki. Hingga setelah berteman beberapa bulan, aku memberanikan diri menyatakan perasaanku. Kami pacaran selama 3 tahun, hingga menjelang waktu wisuda.