CHAPTER 3

1554 Kata
Flashback on Sebulan sebelum wisuda, aku memperkenalkannya kepada orangtuaku. Dengan hati berbunga-bunga aku membawanya ke rumah, kebetulan kedua orangtuaku sedang berada di rumah. Aku ingin memastikan restu mereka. Ku genggam tangannya erat, menyalurkan hangat yang sedang kurasakan. Aku tak ingin dia terkena serangan jantung karena terlalu gerogi bertemu calon mertua. Sungguh waktu itu, pukul 19.00 WIB, aku berada pada saat paling membahagiakan dalam hidupku. Namun memang sial, sepertinya keadaan sedang tidak berpihak pada kami. Selama 30 menit aku, Lusi, ibu dan ayah mengobrol di ruang tamu. Ibuku bertanya banyak hal pada Lusi, mulai dari keluarganya, pekerjaan orangtuanya, dan rencana karirnya. Lusi menjawab apa adanya, seperti perempuan yang ku kenal. Ayahku tak angkat bicara sedikitpun, hanya ibu yang selalu nyerocos. Hingga pada akhir pembicaraan. “Maaf nak Lusi. Sepertinya saya tidak bisa merestui hubungan kalian. Kalian tidak berada di jajaran yang sama.” Jleb, seperti sebuah pisau belati dileparkan dan tepat menusuk hatiku. Ku tatap perempuan yang telah melahirkanku itu dengan mata sedikit melotot. Tapi beliau bahkan tak memindahkan pandangan merendahkannya dari Lusi. Tak menerima balasan, aku mengalihkan mataku ke gadis di selahku. Tangannya saling meremas, wajahnya berubah pias. Senyum yang menahan gugup setengah jam lalu tak lagi kulihat. Kini ekspresinya kaku. “Edo, sebaiknya kamu antarkan nak Lusi pulang. Dan mulai besok kalian tidak usah memiliki hubungan apa apa lagi.” Ibuku menekankan setiap ucapannya, seolah itu adalah sebuah perintah mutlak yang tak boleh dilanggar. Mulutku terkunci, ada banyak hal yang ingin kuutarakan, tapi tak bisa. Kupandang ayahku mengiba, tapi lelaki panutanku itu hanya membuang muka. Aku kalap, kutarik tangan Lusi kasar dan membawanya keluar menuju mobil. Ia bergerak tanpa ekspresi, tangannya terasa sangat dingin. Aku memandunya untuk masuk ke kursi penumpang di sebelah supir. Kuraih keduan tangannya setelah aku berada di dalam mobil. Tangannya seperti baru saja menggenggam es batu, sangat dingin. Matanya tak juga mengarah padaku, ia masih terpaku memangan lurus ke depan dengan tatapan kosong. Kemudian air mata terjun bebas membasahi pipinya. Kulepaskan tangannya dan kutangkup wajanya hingga memandangku. Selama 3 tahun kami menjalin hubungan, tak pernah sekalipun aku melihatnya menangis. Dan sekarang, dihadapanku ia menjatuhkan kesedihan itu setelah menghadapi ibuku. “Lus, maafkan ibuku ya.” Pintaku dengan mengiba. Aku tahu, tak sepantasnya ibuku mengucapkan kata-kata tadi. Lusi masih menatapku, dan air matanya tak jua berhenti. Tak ada jawab atas perkataanku. Ia hanya menatapku tajam sembari sesenggukan. Setelah beberapa saat hanya menatapku, ia buka suara. “Lalu sekarang kita harus bagaimana?” Tak ku sangka pertanyaan itu akan meluncur dari bibirnya. Aku tak punya jawabannya, aku bingung disaat bersamaan. Kutarik nafas. “Aku tidak peduli bahkan jika orangtuaku tidak merestui kita. Aku mencintaimu, dan aku tidak akan melepaskanmu.” Ku tatap manik matanya yang masih berkilau akibat air mata yang masih mengalir. Ku bawa tubuhnya kedalam pelukanku, dan tangisnya semakin pecah. Tak ada kata-kata yang keluar, tapi aku paham benar jika Lusi benar-benar sedih. Aku mengakhiri pelukanku, dan mengantarkannya pulang ke rumah kostnya. Hingga sebulan kemudian, kami menjalani hubungan sebagaimana biasanya. Aku berusaha mengembalikan suasana hati Lusi yagn kacau akibat ucapan ibu. Semua baik-baik saja hingga tiba-tiba dia menghilang setelah mengirimkan pesan singkat padaku. Do, maaf jika aku tak bisa lagi bersamamu. Sungguh aku mencintaimu, sangat. Tapi masa depanmu lebih penting daripada hubungan ini. Maaf aku tak menepati janjiku untuk terus menemanimu. Jangan mencariku lagi ya, ku mohon. Aku tak sanggup menerima penolakan ibumu. Ku harap kau menemukan orang lain yang bisa diterima oleh orangtuamu. Bagai disiram air panas, hatiku memanas menahan amarah, kali ini apalagi ulah ibuku? Aku yang baru saja selesai membaca pesan dari Lusi segera mencari ibu. “IBUUU…” Aku tak peduli jika pembantu menatapku heran karena berteriak. “IBUUUU…” sekali lagi kupanggil, tapi tidak ada sahutan. “Ibu sama ayah pergi kak.” Diana menyahut dari lantai dua. Emosiku semakin terbakar, dan sebuah vas bunga di meja kulemparkan sebagai pelampiasan. Semua yang melihat sontak kaget. Aku keluar menuju mobilku yang belum selesai dibersihkan oleh Mang Didit. Kuminta kunci dan kukemudikan dengan kecepatan tinggi. Suasana pagi di akhirn pekan membuat jalanan tidak terlalu ramai, sehingga aku bebas memacu kecepatan. Aku ingin menemui Lusi, memastikan apa yang baru saja dikirimkannya padaku. Tanpa pikir panjang, aku menggedor pintu kamar kost Lusi sesaat setelah aku sampai di kost-kostan berlantai 3 itu. Taka da jawaban dari dalam, justru beberapa kepala perempuan menyembul dari balik pintu lain. Aku masih berkutat memukul pintu kamar Lusi dan memanggil-manggil namanya. “A, teh Lusinya udah pindah dari 2 hari lalu.” Sebuah suara mengagetkanku. Bukan karena ia tiba-tiba bicara, tapi apa yang disampaikannya yang membuatku terlonjak heran. “Apa?” Aku ingin memastikan jika yang kudengar barusan tidak salah. “Teh Lusi pindah A.” “Pin.dah ke.ma.na?” Ucapku terbata menahan air mata. “Maaf A, saya nggak tahu atuh. Si Teteh nggak ada ngasih tahu, rahasia katanya.” Tubuhku melemas, aku berusaha mempertahankan posisiku dengan berpegangan pada dinding. Aku mencoba mengatur nafas dan menenangkan sarafku yang mendadak tegang. Perlahan kulangkahkan kakiku gontai menuju mobilku, setelah mengucapkan terima kasih pada perempuan tadi. “Ke mana aku harus mencarimu Lus?” lirihku hampir tak bersuara. Ada ratusan jarum yang rasanya menusuk ulu hatiku. Aku putus asa dalam sekejap. Hubungan yang kukira bisa tetap kuperjuangkan apapun resikonya, justru pupus tanpa persetujuanku. Hatiku hancur berkeping keping. Kubuka pintu mobil, lalu kututup kembali dengan kasar setelah berada di dalam. Berulang kali kupukulkan kepalaku ke setir, berharap rasa sakit itu bisa menghilangkan rasa sakit di hatiku. Tapi nyatanya tidak mengubah apapun. Aku menangis sejadi jadinya untuk beberapa waktu. Kulampiaskan amarahku dengan memukul kemudi hingga tanganku memerah dan kepalaku yang terbentur terasa perih. Aku sampai di rumah dengan lemas. Namun tiba-tiba amarahku memuncak sesaat setelah melihat ibuku sedang asyik membaca majalah. Segera saja kuhampiri dan kuhujani dengan pertanyaan. “Apa yang ibu lakukan kali ini pada Lusi?” Namun bukannya memberi jawab, ibu malah sibuk membolak balikkan majalahnya. “BU…” tanpa sadar, aku meninggikan suaraku berterika. Dan mata ibu pun menatapku kaget. “Kamu kenapa sih Do?” “Apa yang ibu lakukan pada Lusi?” Tanyaku lagi dengan suara lebih rendah. “Kamu tanya saja padanya.” “Aku tak perlu bertanya pada ibu, jika aku bisa bertanya padanya.”setiap kata kutekankan agar lebih jelas jika aku sedang tidak baik-baik saja. Sekilas kulihat adikku berdiri di dasar tangga, menatapku yang bersitegang dengan ibu. Aku masih menatap ibu tegas meminta penjelasan. Hingga akhirnya ia meletakkan majalah yang sedari tadi menjadi kesibukannya. Dibuangnya nafasnya kasar, ada kepasrahan dan kekesalan yang terasa. “Ibu sudah meminta kalian untuk mengakhiri hubungan yang tidak seimbang itu sejak bulan lalu. Tapi apa? Kamu tidak mendengarkan ibu. Jadi jangan salahkan ibu jika melakukan dengan cara ibu sendiri. Ibu memberinya apa yang dia inginkan, dan sebagai balasan dia harus pergi dari hidup kamu selamanya. Dan dia sudah menerima kesepakatan itu.” Ibu memberi penjelasan panjang kali lebar. Tapi tetap saja aku tidak menemukan titik fokus apa yang sudah dilakukan ibu pada gadisku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Stress, kepalaku semakin sakit memikirkannya. Saat aku hendak mengajukan pertanyaan lagi, ibu justru sudah pergi meninggalkanku yang masih tidak bisa berpikir jernih. “Arghhhh…” “Kak.” Diana menyentuh lenganku, dan mencoba menarikku untuk mengikutinya. Aku masih tepekur hingga mengabaikannya. “Kak, aku ingin menunjukkan sesuatu, tentang kak Lusi.” Ulangnya. Sontak kutatap wajah polosnya. Dan segera saja mengikut seperti seekor anjing yang ditawarkan daging oleh sang pemilik. Ia membawaku ke kamar. Setelah memeriksa tidak ada siapapun yang mengikuti kami, ia menutup pintu kamar dan memastikannya terkunci. Aku hanya menatap Diana dalam bingung. Diambilnya sesuatu dari dalam laci meja belajarnya. Sebuah amplop putih panjang cukup tebal mencuat di dalam genggamannya. Aku mengerutkan dahiku penuh tanya. “Ibu memberikan ini pada kak Lusi 3 hari lalu. Ibu membuat janji dengan kakak itu, lalu ibu memberikan uang itu dan menyuruh kak Lusi pergi.” “Dari mana kau mendapatkan ini?” “Aku ada di sana kak, menemani ibu. Uang itu ditinggal di atas meja bersama kak Lusi yang tak ada ekspresi waktu itu. Aku juga berpikir kak Lusi akan menerima uang itu, karena taka ada balasan apa-apa dari kakak itu. Tapi besoknya, amplop itu diantar kak Lusi langsung ke sekolahku. Ia menungguku pulang sekolah dan memberikannya. Kakak itu bilang untuk memberikannya pada kakak.” Kini semua terasa jelas, apa yang membuat Lusi hilang mendadak tanpa aba-aba. Ia sudah pasti merasa sakit hati akibat perbuatan ibu. Bagaimana seseorang bisa melakukan hal serendah ibuku? Aku bahkan tak habis pikir dimana hati dan etika orang yang telah membesarkanku itu. Aku menerima amplop dari tangan Diana. Seketika kakiku melemas, air mataku tak lagi mampu terbendung. Aku tahu hal terburuk sudah terjadi. Dan ketika seharusnya hubunganku dengan Lusi bisa lebih baik, kini hancur bagai gelas pecah. Dipecahkan oleh perempuan paling kuhormati seumur hidupku. Aku tahu betul pribadi Lusi, ia adalah sosok dengan harga diri yang sangat tinggi. Diperlakukan layaknya pengemis bukanlah hal yang sepatutnya dia terima. Aku terduduk bersandarkan ranjang, seolah tiba-tiba separuh darahku baru saja disedot dan meninggalkanku yang kedinginan. “Kak?” Diana berjongkok di hadapanku, memegang pundakku dan berusaha memberi kekuatan. Tapi hatiku sudah terlanjur tak berbentuk. Jika aku saja yang hanya bisa membayangkan ketika ibuku mengucapkan berbagai kata yang merendahkan Lusi bisa merasa serapuh ini, bagaimana dengan Lusi sendiri? Dia pasti sangat terluka direndahkan seolah dia hanya mengincar materi dariku. Aku lulun lantah. Flashback off ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN