Lusi menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran 3 kaki, setelah memastikan pintu kamarnya terkunci rapat. Dipejamkannya kedua matanya untuk menahan air mata yang hendak menguar. Nafasnya masih terlihat berat dan kasar ketika dihembuskannya. Sekelebat bayangan masa lalu bermunculan di kepalanya, bagaikana potongan-potongan film beralur maju mundur.
Hari ini ia memanfaatkan libur bulanannya untuk cuci mata di mall. Tak ada sesuatu yang mencurigakan sejak kepergiannya. Bahkan setelah hampir 4 jam berada di dalam gedung megah itu, ia tak mendapati hal-hal yang mengacaukan emosi. Tapi justru ketika ia hendak pulang, hatinya seperti dijungkirbalikkan kembali ke masa-masa menyedihkan. Tak sampai 10 menit, dua kali ia harus menahan kakinya agar tidak luruh.
“Kenapa setelah 5 tahun, kami harus ketemu lagi?” Tanyanya entah pada siapa.
Tubuhnya terkapar di atas kasur, matanya menatap sendu ke langit-langit kamar, kepalanya memutar film lama, hatinya mengulang rasa sakit, dan jiwanya terasa ingin meninggalkan raganya. Tak butuh waktu lama ternyata untuk menghancurkan sosok tegar Lusi. Hanya satu orang sudah cukup meluluhlantahkan seutuhnya dirinya, hingga tembok yang coba ia bangun selama ini tersisa puing-puing.
“ARGHHH… SIAL. KENAPA SIH HARUS DIA?”
Teriaknya pecah bersama bulir bening yang menuruni pipi.
“Tuhan? Aku sudah sampai di sini, kenapa sih harus dikasih jumpa sama dia lagi? Masih belum sembuh lho ini.”
Lusi menepuk nepuk dadanya, seolah ia ingin menunjukkan lukanya pada sang pencipta.
“Aku cape lho, sudah lima tahun aku berusaha. Kenapa dia musti nongol?” Ia ingin protes pada nasib yang membawanya, pada semua yang telah dialaminya selama 5 kali angka tahun berganti.
Ia sadar benar, tak seharusnya menyalahkan sang penentu kehidupan. Selama ini ia sudah pasrah pada garis tangan yang digoreskan. Ia tak marah ketika ia harus kehilangan adik tersayangnya, lalu kehilangan kasih sayang sang ibu. Belum cukup sampai di sana, ia juga harus kehilangan sang ayah beberapa hari setelah wisudanya. Belum sempat kering air mata, tiba-tiba dia direndahkan sebegitu hinanya oleh ibu sang kekasih.
Semua luka, rasa sedih, sakit, dan kecewa, tak pernah menjadi amarah. Hanya air mata yang menghapus jejak-jejak kelam itu. Kini, saat ia membangun dirinya, ketika ia merasa tak perlu lagi ada kecewa, sekali lagi ia dihantam pada tembok. Bukan tentang seberapa sakit, tapi betapa menyedihkannya wajah yang dilihatnya dalam pantulan cermin. Dirinya, tak punya apa-apa. Tidak ada siapa-siapa.
Tiba tiba dering telepon menyadarkan lamunan. Dengan malas ia meraih benda persegi dari dalam tas. Ada panggilan dari sang bibi.
“Iya bi?”
“Apa kabar Ana?”
“Baik bi.” Dengan susah payah Lusi menyembunyikan suara serak efek menangis.
“Kamu sakit nak? Kenapa suara kamu kayak serak gitu?”
“Nggak bi, hanya kelelahan baru pulang.”
“Hmmm.. kamu mah gitu. Kerjanya jangan dipaksa kali nak. Kasihan tubuh kamu itu, udah kurus makin kurus.”
Lusi tersenyum mendengar celoteh sang bibi. “Iya bi, Ana nggak akan sakit kok. Bibi apa kabar sama Rati? Sehat?”
“Syukurnya sehat nak.”
“Kenapa bibi tiba-tiba nelpon? Kan belum malam Minggu.”
“Iya, tiba-tiba bibi rindu sama kamu. Bibi kesepian di sini.”
“Rati memangnya ke mana bi?”
“Dia mah keluyuran aja. Nanti pulang dari resto pasti pergi entah ke mana, pulangnya tengah malam.”“Jadi bibi di rumah sama siapa?”
“Sendiri atuh, sama siapa lagi?”
“Kan, Ana sudah bilang kemarin ambil pembantu saja, biar bibi ada teman di rumah.”“Ihh.. Bibi mah nggak mau. Bibi maunya kalian di rumah.”
Lusi terdiam sejenak mencerna ucapan adik dari ayahnya itu. Ada yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri tentang pemikirannya yang hingga saat ini tak hendak kembali tinggal di Bandung.
“Hhhh… Bibi kan tahu, Ana sibuk di sini.”
“Iya, kamu mah selalu bilang gitu. Seolah-olah dokter di sana the cuma kamu. Kalian berdua mah sama saja atuh. Si teteh sibuk sama dunianya, kamu juga sibuk sama duniamu. Nanti kalau bibi meninggal kalian nggak akan tahu.”
“Bi…, jangan bilang gitu. Bibi masih akan hidup sampai 100 tahun lagi. Heheehe..”
“Kamu mah nggak usah menghibur, nggak mungkin atuh bibi hidup 100 tahun lagi.”
“Tak ada yang mustahil bagi Tuhan bibi.” Lusi tersenyum membayangkan wajah cemberut perempuan di seberang sana.
“Kamu mah ada-ada saja. Memangnya kalau bibi hidup 100 tahun lagi, buat apa? Nggak ada yang bibi tunggu juga toh.”
“Ihhh.. ada atuh, nunggu kami.”
“Nunggu biar sama-sama gitu? Bibi mah sudah nyerah sama kalian. Tadinya bibi mau nunggu cucu, ehhh… dua anak gadis bibi kayaknya nggak suka laki.”
Hati Lusi mencelos mendengar perkataan sarkas sang bibi. Padahal dirinya dan sepupunya yang satu lagi, Rati bukan memiliki perbedaan orientasi seksual. Mereka hanya belum bisa membuka hati untuk lelaki di luar sana.
“Bi, Ana mau mandi dulu ya. Sudah sore, nanti malah ketiduran.”
“Ihh.. kamu mah selalu, tiap bahas itu pasti menghindar.” Kesal sang bibi di balik telepon.
Ana yang tak tahu harus menjawab apa hanya tersenyum, seolah-olah sang bibi dapat melihat ekspresinya dari kota Bandung menembus Jakarta yang padat merayap.
“Yaudah atuh, jaga diri baik-baik, jangan lupa istirahat, makannya dijaga ya. Sering-sering pulang, jarak cuma 2 jam, tapi pulang sekali setahun. Kasihani bibimu yang sudah tua ini.”
“Iya bibiku sayang.” Jawan Lusi dengan manja, untuk merayu sang bibi agar tidak lagi marah-marah.
“Ya sudah, bibi tutup ya.”
“Iya bi. Bibi juga sehat-sehat ya. Ana sayang bibi. Mmmuachh..”
“Hmmm..” hanya gumaman yang menutup panggilan tersebut. Lagi-lagi Lusi tersenyum sedih menatap layar teleponnya yang sudah kembali menunjukkan wallpaper.
Perempuan yang baru saja menghubunginya membuat rasa sedihnya beralih dari kejadian sore tadi ke masalah lain yang tak kalah menyayat. Dihempaskannya telepon genggamnya ke kasur, memejamkan mata mencoba menghilangka semua rasa suntuk di kepalanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Tubuhnya masih enggan untuk beranjak dari kasur, padahal alasannya menutup panggilan sang bibi adalah untuk mandi. Tapi seolah niat membersihkan diri hilang sudah. Rasanya ia akan kedinginan membayangkan air saja. Lalu teleponnya kembali berdering, menunjukkan nama ‘Pak Rudi’.
“Huffttt…”Digesernya ikon hijau di gawainya.
“Iya pak.”
“Ana, besok kamu tolong ambil alih operasi pagi atas nama bu Silvina ya. Saya harus berangkat ke Singapura besok pagi, ini pemberitahuan dadakan.”
“Tapi pak, kenapa harus saya? Besok janji chek up saya ada pak.”
“Tolonglah Ana, hanya kamu yang bisa saya andalkan. Lagipula, hanya kamu yang tahu kondisi bu Silvina selain saya.”
Lusi berpikir, benar dia yang memeriksa kondisi bu Silvina untuk pertama kali. Sebelum akhirnya pak Rudi, sang dokter senior mengambil alih.
“Jam berapa pak?”
“Jam sembilan, untuk prosedur tidak perlu saya jelaskan lagi kan?”
“Siap pak.” Jawab Lusi lemah.
“Terima kasih Ana, nanti saya bawakan oleh-oleh dari Singapura, chat saja kamu mau dibelikan apa.”“Saya mau kerja di sana saja pak, boleh?” Lusi justru menjawab sekenanya.
“Hahahaah… kalau kamu pindah ke Singapura, nanti siapa yang bantu saya?”
“Iya kan, ada dokter lain pak. Bukan cuma saya dokter bedah kan pak.”
“Sampai sekarang, saya belum menemukan sainganmu. Kalau sudah ketemu, baru nanti kamu boleh pindah rumah ya.”
“Ishh… si bapak.”
“Ya sudah, saya tutup ya.”
“Iya pak.”
Rudi, pria berusia setengah abad yang menjadi panutan Lusi di rumah sakit tempatnya bekerja. Lelaki itu ramah dan humoris, sekalipun terlihat tidak serius, tapi beliau sangat profesional jika sudah menyangkut pasien-pasiennya. Sejauh ini memang Lusi menjadi anak kesayangan pak Rudi. Hubungan mereka bahkan sudah seperti anak dan bapak. Lusi yang sudah lama kehilangan sosok ayah, merasa terisi lagi meskipun tidak sepenuhnya. Rudi juga yang memberinya banyak wawasan selama bekerja menjadi dokter. Lusi sangat banyak berhutang budi pada pria itu, hingga ia tak tega jika menolak permintaan bapak 3 anak itu untuk menggantikannya.
“Baiklah, toh juga cuma operasi ringan.” Lusi memejamkan mata, kepalanya beroperasi untuk memperhitungkan waktu yang harus diatur ulangnya besok. Tapi matanya justru kembali terbuka, “Kayaknya aku harus mandi dulu.”
***