CHAPTER 5

1436 Kata
“Hallo, can I speak to my uncle please?” “Iya Di, ini paman. Kamu malah can I, can I. sudah tahu pasti yang angkat paman.” “Haahhahahah…. I’m sorry pamanku tersayang. Edi lagi membiasakan diri buat kerja kantoran.” “Hmmm…jadi kapan kamu kembali?” “Lusa paman. Pastikan saja ruanganku sudah dibersihkan. HAahahahah….” “Edi, paman serius.” “Edi tidak bercanda paman. Edi akan kembali lusa.” “Bagaimana jika kamu berbohong lagi?” “Kali ini Edi tidak akan berbohong. Edi janji. Jika Edi tidak kembali lusa, mungkin Edi punya urusan penting di sini paman.” “EDI..” Lelaki berusia 55 tahun yang dipanggil paman oleh sosok bernama Edi mulai tidak sabaran. “Hahahaha… Ayolah paman. Jangan terlalu serius, aku pasti pulang. Paman boleh meminta kedutaan untuk mencabut kewarganegaraanku, apabila aku tidak kembali lusa. Bagaimana? Apa paman sudah yakin?” “kamu berkata begitu, karena kau tahu pamanmu ini tidak mungkin melakukan itu.”“Kali ini aku berjanji paman aku akan mewujudkan permintaanmu kali ini.” “Baiklah, paman menunggumu lusa. Paman akan menyeretmu kembali ke Indonesia, jika kamu berani mengingkari janji kali ini.” “SIAP KAPTEN… “ “Baiklah, paman harus mempersiapkan berkas untuk pengalihan direktur. Paman tutup dulu.”“Baik paman, jaga Kesehatan paman.” Sambungan antar negara itu terputus. Masing-masing kembali disibukkan dengan urusannya kembali. Sosok yang bernama Edi mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya kembali ke negara kelahirannya. Sedangkan lelaki tua yang dipanggil paman sedang mengurus pengalihan pemegang jabatan direktur dengan pengacaranya. *** “Hello… Claire, I want talk to you. Can we meet tomorrow morning?” “Yes, where?” “Your office. I will come on 10.00 p.m.” “Okay, see you tomorrow Edi.” “See you.” Edi baru saja menghubungi salah satu temannya. Ada beberapa hal yang harus diselesaikannya sebelum meninggalkan negeri paman Sam ini. Sebenarnya ia enggan meninggalkan negara yang telah ditinggalinya selama 9 tahun terakhir. Tapi ia juga tak berdaya untuk melawan tetua di keluarganya yang meminta dirinya untuk kembali ke tanah air. Terlebih sang paman yang sudah seperti ayah kedua baginya. Edi Lukman, adalah pria dengan perawakan tinggi tegap. Bentuk tubuh proporsional, dengan berat 73 kg dan tinggi 180 cm. Rambutnya dibentuk dengan style ala Noah Centineo, tampak berantakan karena rambutnya bergelombang. Terlebih ketika belum dirapikan, jidat lebarnya akan tertutupi rambut depan. Kulitnya kuning langsat, tapi lebih mengarah ke warna coklat muda. Dia akan masuk 10 pria tertampan di Indonesia, jika saja ada sejenis majalah Forbes di negeri berflower itu. Baiklah, intinya Edi adalah sosok pria gagah, berkarisma, dengan otot kokoh. 9 tahun di negara Barat tidak menjadikan wajahnya seperti bule, masih tampak jelas darah Asia pada fisiknya. Edi merupakan seorang dokter jiwa atau lebih tepatnya seorang psikolog. Tidak heran jika perangainya bisa menjadi lembut, dan juga bisa sangat menghibur dengan lelucon. Karirnya bagus di salah satu rumah sakit jiwa di Boston. Ia sangat menikmati aktivitasnya sebagai seorang ahli kejiwaan selama 4 tahun terakhir. Naasnya semua akan segera berakhir. Tidak, tepatnya sudah berakhir sejak ia mengajukan pengunduran diri dari rumah sakit tempat ia bekerja. Setelah berusaha mengelabui keluarganya selama 3 tahun, ia tak bisa lagi lari dari tanggung jawab sebagai ahli waris. Bukan ia tidak senang mendapatkan jabatan tertinggi dalam susunan keorganisasian suatu rumah sakit swasta berkelas di Jakarta. Tapi bukan itu yang menjadi mimpinya, melainkan menjadi seorang dokter untuk membantu mengembalikan kesadaran emosi orang-orang. Usianya menginjak 28 tahun, dan keluarganya menuntut agar dirinya selaku anak tertua dari orangtuanya segera mengakhiri masa lajang. Namun dirinya belum tertarik untuk menikah. Hingga akhirnya sang paman memberi pilihan sulit, antara menikah atau mengambil alih rumah sakit. Dengan lapang d**a, Edi menjatuhkan pilihan. Daripada menikah dengan perempuan yang tidak dikenalnya nanti, ia lebih suka bermain-main sambil pura-pura menjalankan rumah sakit sang paman. Meskipun hingga H-2 kepulangannya, Edi belum memikirkan masa depan rumah sakit di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 a.m. tapi matanya tak kunjung ingin terpejam. Ada sedikit ketidakikhlasan di hatinya meninggalkan Boston. Kepulangannya memang sebuah keterpaksaan, bahkan jika nanti ia bisa berkompromi dengan keluarga besarnya, ia akan izin untuk memilih jalannya sendiri. Tapi Edi sadar benar, itu akan sangat sulit mengingat hanya ada 3 anak laki-laki di keluarga besarnya. “HUhhh…” Ia membuang nafas frustasi. Bahkan seorang dokter jiwa bisa mengalami stress seperti pasien-pasiennya. Besok ia akan menemui Claire untuk memberitahukan tentang kepulangannya ke Indonesia. Serta kemungkinan jika Boston tidak akan menjadi tempat pulangnya lagi. Setidaknya ia harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. *** Ramalan cuaca hari ini mengatakan bahwa mendung akan menyelimuti Boston. Selama sebulan terakhir, cuaca di tempat itu memang berubah ubah, mulai dari panas menyengat, mendung tanpa hujan, gerimis, hingga hujan deras berganti tanpa bisa diduga. Hari ini pun demikian, langit tampak kurang bersahabat, meskipun suhu udara tidak dingin, tapi tampak orang-orang berlalu lalang sembari membawa payung. Edi melenggang menyusuri trotoar memasuki sebuah Gedung berlantai 3. Bangunan modern dengan cat putih polos, memiliki 5 pintu terpisah. Edi mendekati salah satu pintu kaca yang di atasnya tertulis sebuah papan nama dr. Clarein, psychiatrist (dokter jiwa). Ia segera masuk dan hilang di balik pintu. “Hy Clare..” “Hy..” Clare menunjukkan senyumnya pada pria di hadapannya. Ia baru saja selesai melakukan konseling dengan salah satu pasiennya. Karena sebelum masuk ke ruangan, Edi harus menunggu di luar, karena sang resepsionis berkata Clare masih ada pasien. “Whats wrong?”“No..” “Ohhh.. come on Edi, What do you want to say?” Edi menatap lamat-lamat gadis bule dihadapannya. Wajahnya mengguratkan ekspresi tak terdefinisikan. Ada kesedihan, namun juga seperti seseorang yang sedang merindu. “Edi?? Don’t looked me like that.” Si perempuan yang ditatap merasa canggung ditatap tajam seperti itu. “I will return to Indonesia.” Kata-kata itu meluncur begitu saja secara to the point. Clare hanya membalas Edi dengan mengangguk pelan sebelum mengeluarkan suara. “What time?” “Tomorrow, at 3 a.m.” “So? You need something?” “Can you escort me to airport?” “Edi, you know our relation.” “Maybe I can’t come back again.” Edi menjauhkan pandangannya dari perempuan itu. “But …. Why? You still work in hospital, right?” “No anymore. I resign, and my family want me stay in Indonesia.” Ada perubahan raut wajah pada Clare, tergambar sedikit kekecewaan, rasa sedih yang tak terbelenggu hanya dalam pikiran. “Are you happy?” Pria yang ditanya seketika mematung menghadap Clare. Tentu saja ia tak bahagia meninggalkan Boston, meninggalkan kehidupan 9 tahunnya. Terlebih meninggalkan gadis yang menjadi cinta pertamanya, yang kini berada di depannya. Tapi ia tak bisa mengutarakan seluruh kejujuran itu. Khawatir jika perempuan itu akan merasa bersalah atas kehidupannya 2 tahun terakhir. Claire adalah teman pertama Edi di Boston. Mereka berada di satu kelas selama 5 tahun berkuliah. Edi tak bisa tidak jatuh hati pada gadis tomboy yang selalu menemani kesendiriannya selama merantau. Jauh dari keluarga membuatnya merasa jika Claire adalah sosok pengganti keluarganya selama di negara itu. Namun hubungan mereka mulai renggang setelah 2 tahun lalu, Edi memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya yang berujung penolakan. Claire menganggapnya hanya sahabat, dan tidak akan pernah berubah, terlebih karena dirinya sudah bersama seseorang yang beberapa bulan lalu resmi menjadi suaminya. “I’ll be happy if you want to drop off me. The last request from me.” Claire seperti berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Edi. “Oke. I’ll pick up you.” “Thank you Claire.” Edi memberi senyum lemas yang tulus. Keinginannya sudah terpenuhi, kini tinggal mempersiapkan dirinya sendiri untuk melepaskan kenangannya selama bermukim di tempat kecil itu. “I must back to apartment.” “Oke, be carefull, and please have a rest. Your flight is too far.” Edi mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia lekas meninggalkan Claire dengan lega. Satu urusannya selesai. Edi tidak kembali ke apartemennya, ia berkeliling di daerah tempat tinggalnya serta beberapa tempat yang berkesan baginya. Meski suatu hari ia masih bisa kembali ke tempat itu, tapi ia mungkin tidak akan bebas melakukan itu. Sekalipun belum pernah berkecimpung di dunia perdirekturan, tapi Edi sadar ia akan segera mengemban tanggung jawab yang sangat besar. Ia tahu semua itu, karena sering melihat pamannya sibuk, hingga tak memiliki waktu bersama keluarga. Meski masa-masa mereka berbeda, dulu rumah sakit milik pamannya itu belum semaju sekarang, tapi tetap saja. Jabatan yang tinggi menuntut pertanggungjawaban yang besar, serta pengorbanan yang tidak sedikit. Satu harian hingga menjelang pukul 8 malam Edi menjelajahi daerah-daerah yang kelak akan dirindukannya. Saksi-saksi bisu tentang kebahagiaannya dulu di masa masa bersama Claire. Pukul 8 tepat, ia memutuskan kembali ke apartemen, besok ia masih harus mempersiapkan banyak hal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN