Rabu yang suram, langit tampak mendung-mendung tak jelas. Tidak hujan, tapi juga tidak menunjukkan matahari. Suhu udara juga cukup dingin padahal bukan menjelang musim dingin. Edi sudah siap dengan semua barang-barangnya. Dua koper besar untuk semua pakaian dan sepatunya, 1 ransel untuk barang-barang berharga, hanya itu. Laki-laki itu memang sederhana, bahkan masih banyak barang yang ia tinggalkan di apartemen. Dia hanya mengepak barang-barang yang tidak bisa didapatkan di Indonesia, selain itu ditinggalkannya agar tidak merepotkan.
Edi melirik jam yang melingkar di tangannya, jarum pendek sudah menunjukkan angka 12. Dia hanya perlu menunggu Claire untuk menjemputnya, perempuan itu berjanji akan datang 1 jam lagi. Edi menyibukkan diri dengan telepon genggamnya untuk menghabiskan waktu. Edi melihat berkas yang dikirim oleh pamannya kemarin, surat yang menunjukkan pengalihan jabatan.
Pemilihan Edi sebagai direktur rumah sakit memang rasanya kurang demokratis. Seharusnya ia pulang, kemudian dilakukan rapat pemegang saham untuk menentukan regenerasi. Namun karena 75% saham rumah sakit tersebut adalah milik keluarganya, maka semua berjalan tanpa hambatan. Edi hanya perlu kembali dan langsung memulai aktivitasnya sebagai pimpinan tertinggi.
Waktu terus bergulir selama pria muda itu membaca berkas-berkas rumah sakit yang pernah dikirim oleh sang paman. Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi, sekilas ditatapnya jam tangannya dan tersenyum tipis. Ketika pintu dibuka, dugaannya tepat jika Claire yang ada di balik pintu.
“Are you ready?” Perempuan itu langsung bertanya begitu melihat Edi.
“Yah… sure.”
Edi membawa kedua kopernya, satu di tangan kiri, dan satu lagi di kanan, sedangkan ranselnya sudah berada dipunggungnya.
“I’ll take one.” Seru Claire meminta satu koper dari tangan Edi.
“No, it’s ok. You can handle the door please.”
Claire segera menekan saklar lampu, dan menutup pintu apartemen Edi.
“Nothing leave?”
“No.”
Mereka turun menggunakan lift sehingga koper besar Edi tidak merepotkan. Sesampainya di depan apartemen, sebuah mobil Subaru Forester silver terparkir indah dengan seorang pria di kursi kemudi. Melihat sosok itu, Edi sempat kecewa, namun menutupi hal tersebut agar tak memicu kecurigaan Claire maupun suaminya. Melihat pria dan sang istri keluar dari Gedung, si pengemudi keluar dari mobil hendak membantu Edi untuk memasukkan barang ke dalam bagasi.
“Hy Ethan, how are you?” Tanya Edi basa-basi.
“As you see, I’m ok.”
Mobil pun segera melaju menembus jalan raya menuju bandara. Ada Claire di sebelah suaminya yang sedang memegang setir. Sedangkan Edi sibuk dengan kegundahannya di kursi penumpang, sendirian sambil memeluk tas ranselnya, seolah takut benda itu akan diambil darinya.
“Why you go Ed?” Ethan memecah keheningan yang terjadi.
“My parents wishes.” Jawab Edi singkat.
“Did you come back to here?”
“I don’t know, but I’m sure it will be difficult. Maybe I’m only holiday if come again.”
Terlihat raut sedih di wajah Ethan. Ethan dan Edi tidak terlalu dekat, tapi mereka sempat saling mengenal dan berteman seadanya cukup lama. Itupun karena Claire. Selama status pertemanan mereka, Edi tak pernah menyangka jika Ethan adalah pria yang dicintai oleh Claire. Sedangkan Ethan?
Ethan adalah seorang anak pemilik restoran terkenal di Boston. Mungkin kekayaannya orangtuanya tidak sebanyak milik orangtua Edi, tapi Ethan merupakan pengusaha yang cukup sukses di usia muda. Mereka beda fakultas sekalipun kuliah di kampus yang sama. Ethan mengambil jurusan bisnis dan ekonomi, sedangkan Edi dan Claire mengambil kedokteran jiwa. Permainan takdir memang sebercanda itu. Edi yang selalu terlihat justru kalah oleh Ethan yang hanya sesekali berjumpa dengan Claire, setidaknya sepengetahuan Edi.
Perjalanan yang terasa sangat lama itu berakhir setelah mobil Ethan sampai dijalur pengantaran untuk keberangkatan. Ethan dan Edi menurunkan koper besar, sedangkan Claire menunggu hingga bagasi kembali ditutup. Ethan pamit untuk parkir, dan akan menyusul. Edi dan Claire berjalan bersisian dengan koper sebagai pembatas. Tidak ada yang membuka pembicaraan, mereka menuju bangku tunggu. Masih 30 menit lagi sebelum boarding time.
“Claire.”
“ya?”
“Do you feel happy with Ethan?” Entah mengapa Edi menanyakan hal konyol itu. Tentu saja Claire bahagia dengan lelaki pilihannya.
“What do you ask about? Ofcourse I’m happy Ed.”
“It’s good.”
“What?” Claire yang tidak mengerti pola pikir sahabatnya itu bertanya meminta penjelasan.
“Nothing, I just want you to be happier Claire. I ever wish you to be mine, you are the first.” Edi memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya yang sudah ditahannya sejak lama. “And I don’t know if I can love again.” Akunya dengan suara hampir berbisik.
Claire hanya menatap pria yang baru saja mengucapkan keputusasaan itu dengan rasa bersalah. Claire tahu jika Edi memiliki perasaan padanya, tapi ia terlanjur menjatuhkan hati pada Ethan. Mungkin lebih tepatnya, Claire terlambat menyadari perasaan yang hadir diantara mereka.
Ethan kemudian hadir memecah keheningan anta Edi dan Claire. Suasana sudah sempat tegang, Edi tak bisa mengucapkan apa-apa setelah menciptakan ketidaknyamanan, sedangkan Claire masih berkutat dengan perasaannya.
“What time your flight Ed?”
“At 3 a.m.”
“And your boarding time?”
“For 20 minute.”
“What do you do in Indonesia? Still be a doctor?”
“No.”
“Why? Your carrier is good in here, and you can work in a hospital in there.”
“I still work in a hospital, but not to be a doctor.”
“So???”
“I’m a director.”
“wow… I’m so surprised. You are a CEO? A hospital?”
“Yes, I am.”
“You are a lucky man.”
Edi hanya tersenyum membalas ucapan Ethan. Sedangkan Claire tak memberi tanggapan apapun. Entah apa yang dipikirkan gadis seusia Edi itu.
Tanpa terasa 20 menit berlalu dengan obrolan kecil antara Edi dan Ethan. Mereka tampak seru membicarakan hal-hal yang tak penting, tentang teman-teman, pekerjaan, serta pengalaman Edi selama di Boston. Bahkan rencana Edi untuk rumah sakitnya kelak tak luput dari pertanyaan Ethan. Maklumlah, ia juga seorang pengusaha yang tentu memiliki ambisi untuk membuat kreasinya sendiri pada usahanya. Mereka juga sudah chek in di tengah-tengah perbincangan mereka tadi.
Edi berdiri, mengambil ranselnya. Melihat sahabatnya akan segera boarding, Claire ikut berdiri dan memberikan tangannya untuk menyalam Edi. Edi menyambut tangan kecil perempuan itu, dan membawa Claire ke dalam pelukannya.
“Bahkan jika aku tak bisa memilikimu, izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali.” Bisik Edi. Claire yang tidak memahami apa yang sedang diucapkan Edi, hanya menepuk punggung kekar pria dipelukannya. Setelah mengurai pelukannya, Edi memeluk Ethan.
“Don’t miss me.” Edi mengucapkannya sembari menatap wajah Claire, yang dialas dengan setitik air mata.
“Your request is too hard Ed.” Ucap Claire sembari berusaha menampilkan senyum di sela air matanya.
Melihat sang istri yang menangis, Ethan merangkul Claire dan mengusap lengannya. Ethan tidak cemburu, yang ia tahu Edi dan Claire bersahabat. Edi pun segera berpaling dan meninggalkan pasangan suami istri itu.
Tak lama menyelesaikan semua prosedur boarding time. Edi segera saja merasakan sepi di ruang tunggu keberangkatan. 45 menit lagi ia harus sabar menanti. Pandangannya kosong menatap ke depan, setiap kenangan berkelebat bagai film di kepalanya. Ia akan merindukan negara itu, meskipun tak bisa dipungkiri luka itu juga masih basah. Edi berusaha untuk mengabadikan kebahagiaan saja, ia tak ingin mempermasalahkan cinta tak berbalasnya.
Siapapun memiliki hak untuk mencinta. Entah itu berbalas atau tidak. Atau bahkan waktu yang seolah bercanda tentang keterlambatan untuk mengungkapkan. Semua kembali pada garis takdir. Sesuatu yang memang bukan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu, sekalipun semua upaya sudah dilakukan.
“Selamat tinggal cinta pertamaku.”
***