Lusi baru saja menyelesaikan acara mandinya di toilet rumah sakit. Tadi malam ia tidak kembali ke rumah, beruntung perlengkapan berupa pakaiannya selalu tersedia di loker. Hari ini ia masih bekerja di shift pagi. Jadwalnya tidak sepadat kemarin, sehingga ia tak perlu terburu-buru, toh juga sudah ada di rumah sakit. Jadwal pertamanya adalah konsultasi rutin jam 10.
Lusi melenggang di koridor rumah sakit menuju kantin. Perutnya sudah mulai memberi alarm untuk sarapan. Sejenak ditatapnya situasi kantin yang sedikit lebih ramai dari subuh tadi. ada bapak-bapak yang berbincang-bincang, ibu-ibu, remaja, bahkan anak-anak. Di meja mereka terlihat gelas-gelas kopi, the manis, s**u, bungkus-bungkus roti, makanan ringan, serta piring-piring. Suasana kantin di pagi hari yang saban hari diperhatikan Lusi. Orang-orang yang menjaga keluarga mereka akan mengisi lambung kecilnya di kantin itu. Tempat itu juga menjadi kesukaan bagi para perokok, karena hanya di kantinlah batang nikotin itu boleh berasap, selama mereka berada di kawasan rumah sakit.
Kemudian matanya menyusur setiap etalase makanan, berpikir hendak sarapan apa. Pilihannya jatuh pada nasi gurih, sejenis nasi lemak kalau di film Upin-Ipin, tapi ala Indonesia. Sejak sore kemarin perutnya belum menerima sebutir nasi, hanya ada roti.
Ia memilih kursi di bagian sudut ruangan, sendiri menyenderkan kepalanya ke dinding. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong. Sebelum akhirnya tersadar karena pesanannya sudah sampai di meja. Sepiring nasi gurih berlaukkan telur dadar, berteman sebotol ai mineral. Segera saja disantapnya makanan itu setelah berdoa mengucapkan syukur pada sang khalik.
Tak butuh waktu lama, hanya 15 menit tertinggal piring dan sendok. Lusi kemudian membuka telepon genggamnya, melihat pesan-pesan yang masuk. Ada pesan dari sang bibi, dan 1 pesan dari pak Rudi.
Ibiku
“Ana, jangan lupa Minggu depan ke Bandung ya. kangen mama.”
“Datangnya cepat ya, kamu sambil cek kerjaan Rati. Bibi mah teu ngarti.”
Ana hanya menyunggingkan senyum mebaca pesan dari sang bibi. Kemudian membalas pesan tersebut.
“Iya bibiku bawel. Ana juga kangen mama.”
Kemudian ia mengembalikan pesan dari sang bibi, menyusul membaca pesan dari seniornya yang sedang di Singapura.
“Na, besok bapak baru kembali. Tolong kamu gantikan jadwal bapak ya, minta tolong.”
Ini adalah pesan paling membuat Lusi malas. Bagaimana tidak, dia harus mengambil alih jadwal senior kesayangannya itu satu hari lagi. “Hmmm… jangan lupa uang lembur ya pak bro.” Ketik Lusi di papan chat, lalu menekan tanda pesawat kertas.
“oke, aman.” Tak sampai 2 menit muncul balasan dari sang senior.
Pesan itu hanya dibaca oleh Lusi, tak ada yang perlu di balas lagi. Lusi segera beranjak dari kursinya untuk membayar makanannya, kemudian kembali ke gedung rumah sakit. Ia menuju bagian informasi menanyakan jadwal dr.Rudi. menganalisa jam-jam yang tertera di sana dan memperhitungkan kondisinya dengan jadwalnya sendiri.
“Ini saya bawa ya, dr. Rudi tidak hadir hari ini, jadi jadwalnya saya yang menggantikan.”
“Baik dok.” Balas perempuan yang menggunakan pakaian perawat tersebut.
Lusi pun meninggalkan meja informasi kembali ke ruangan konsultasi. Tempat di mana orang-orang akan mengunjunginya untuk memerikasakan dirinya, apakah memiliki penyakit jantung atau penyakit dalam lainnya. Dr. Rudi adalah salah satu dokter favorit yang jadwalnya cukup banyak untuk bagian konsultasi, dan hari ini Lusi kembali dipusingkan untuk mengatur beberapa jadwal, karena waktunya yang sangat dekat. Satu jadwal pemasangan keteter, dan 1 pemeriksaan pasien cangkok jantung.
“Baiklah Kamis, mari kita selesaikan dirimu dengan baik.” Lusi mengangkat tangannya ke atas hingga lurus, ia melakukan peregangan.
“Jadwal pertama, pukul 9 ya. Hmm… bentar lagi. Baiklah.”
Lusi merapikan ruangannya sembari menunggu pasien pertamanya. Lebih tepatnya pasien dr. Rudi. Tak lama berselang, suara ketukan terdengar dari luar pintu.
“Masuk.”
Seorang perawat muncul dengan seorang ibu-ibu yang usianya kisaran 50 tahun, bersama perempuan muda. Berdasarkan tebakan Lusi, itu adalah ibu dan anak.
“Halo, selamat pagi, dengan ibu Silvia?” Sapa Lusi dengan ramah, berbeda dengan ekspresi pada mode normal.
“Iya dokter.” Jawab perempuan yang lebih tua.
“Ada yang bisa kami bantu ibu?”
Si Ibu mulai menjelaskan kondisinya dan Lusi dengan telaten melakukan pemeriksaan dibantu perawat. Demikian terus hingga jadwal dan pasien yang harus ia tangani konsultasi selesai. Kemudian Lusi langsung bergerak menuju kamar VIP. Sebuah ruangan rawat inap. Ia harus memeriksa seorang pasien yang baru beberapa hari melakukan cangkok jantung. Kondisinya memang harus rutin diperiksa, karena pasien dengan penanganan demikian sangat sensitive dan lemah, terlebih ini masih dalam tahap pemulihan. Dr. Rudi biasanya akan memeriksa keadaan pasiennya sesering mungkin. Namun berhubung beliau sedang di luar negeri, jadilah Lusi yang memeriksanya sesuai arahan. Tidak lama, hanya perlu memastikan ritme detak jantung, tekanan darah dan yang dirasakan oleh pasien.
Perut Lusi berbunyi meminta jatah, jam tangannya menunjukkal pukul 1 siang. Ia menyempatkan diri memeriksa beberapa pasiennya yang masih rawat inap tadi. Syukurnya tidak ada hal-hal aneh yang terjadi dengan pasien-pasiennya. Lusi termasuk dokter yang teliti dan jeli dalam memeriksa kondisi pasien di bawah pengawasannya. Ia tak ingin terjadi kesalahan, karena penyakit jantung adalah penyakit yang suka buat kaget, tiba-tiba membuat pingsan, tiba-tiba buat sakit kayak ditusuk di d**a, dan lebih parah tiba-tiba membuat orang kehilangan nyawa. Resiko pekerjaannya sangat berat, beruntung panutannya dr, Rudi banyak memberi pengalaman berharga selama dirinya menjadi internship.
Pukul 18.10 WIB, jadwal terakhir pemasangan kateter telah selesai. Lusi lekas membersihkan diri begitu keluar dari ruang operasi. Pasien sudah dibawa ke ruang ICU untuk pemulihan. Operasi berlangsung selama 45 menit karena adanya kendala dari kondisi tubuh pasien. Bahkan pasien dengan pemasangan kateter yang biasanya dapat segera pulang, untuk pasien ini belum diperbolehkan hingga esok hari melihat kondisi pasien.
Malam ini, Lusi tidak memilih untuk menunggu hingga pukul 10 malam seperti biasanya. Ia bergegas merapikan barangnya dan lekas kembali ke kostnya. Jarak rumah sakit dengan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan 15 menit berjalan kaki. Dan tentu saja Lusi akan menikmati perjalanannya, sekedar menghirup udara bercampur polusi di kota besar itu. Walaupun demikian ia tetap lebih suka memperlelah kakinya yang sudah lelah berdiri dan berjalan di rumah sakit dengan mengajaknya menyusuri trotoar. Lusi sampai di kamarnya saat jam menunjukkan pukul 19.20 menit. Ia cukup lama keluar dari rumah sakit, dan mampir membeli makan di warteg depan rumah sakit.
Lusi menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah lengket karena keringat. Aliran air yang sejuk juga berhasil mengurai letih di badan rampingnya. Tak berapa lama ia sudah segar kembali, lalu memakan nasi bungkusnya sebelum merebahkan diri dan tidur. Ia sudah sangat kelelahan selama 2 hari ini, sekalipun matanya terpejam kemarin malam, tapi tubuhnya tidak nyaman dengan kondisi di rumah sakit. Jadilah ia melampiaskannya malam ini. Masih pukul 20.15 ia sudah tidak sadarkan diri.
***