CHAPTER 8

1087 Kata
Setelah melakukan penerbangan selama 28 jam, akhirnya Edi sampai di Bandara Soetta. Dirinya keluar dari bagian kedatangan internasional dengan mendorong barang-barangnya dengan troli. Begitu keluar dari pintu dan mendapati kerumunan orang-orang yang saling bertatapan mencari keluarga masing-masing, mata Edi tertuju pada sebuah kertas yang diangkat tinggi-tinggi. Di kertas putih berbentuk persegi panjang itu, tertulis dengan huruf besar namanya, “EDI RIFALDI”. Edi segera berjalan menghampiri kerumunan itu dan menyentuh Pundak seorang pria berbadan tegak yang masih mengangkat kertas putih bertuliskan namanya setinggi mungkin. Sontak pria itu kaget dan berbalik badan. Melihat orang yang menyentuhnya, ia tersadar jika sosok tersebut yang ditunggunya sejak 1 jam lalu. “Tuan Edi?” “Iya.” “Maaf tuan, saya tadi tidak melihat Anda sebelumnya.” “Baiklah, ayo kita segera pergi, aku lelah.” Pria yang ternyata adalah ajudan pribadi pamannya itu segera mengambil alih troli barang Edi dan mengarahkan Edi menuju keluar jalan keluar dari bandara. Ia juga menelepon seseorang dan menyuruhnya untuk segera datang. “Mobil akan segera datang tuan, mohon tunggu sebentar.” Benar saja, tak sampai 3 menit mobil Pajero sport sudah berhenti tepat di hadapan Edi. Barang-barang Edi kemudian dipindahkan ke bagasi, dan mereka kembali berangkat kembali ke rumah. Sejak menginjakkan kaki kembali di tanah air, Edi belum menyalakan kembali teleponn selulernya. Selama penerbangan ia menonaktifkannya hingga saat ini. Edi memejamkan kedua matanya, perjalanan ke rumah akan memakan waktu hingga 1 jam. Terlebih jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, ini akan sedikit macet karena orang-orang mulai beraktivitas. Matahari sudah cantik menunjukkan dirinya, perlahan hendak naik semakin tinggi ke langit. Kendaraan mulai memadati jalanan, kota ini memang sangat terkenal dengan kemacetannya. Tak peduli dengan keadaan lalu lintas saat ini, Edi masih tidur dengan nyenyak tanpa terganggu suara klakson dari kendaraan yang memekakan telinga. Tubuhnya kelelahan setelah penerbangan langsung dari Boston. Ia sengaja tidak melakukan transit, agar segera sampai dan tidak melulu diganggu oleh sang paman. Pamannya sangat gencar menghubunginya, bahkan lebih dari 3 kali sehari untuk menanyakan persiapannya. Pamannya juga yang mengharapkan agar keponakannya itu segera sampai ke Indonesia. Mobil berwarna hitam itu terparkir rapi di depan sebuah rumah bergaya minimalis. Rumah itu memiliki luas 10 x 20 meter persegi yang berdiri di tanah seluas 1000 meter persegi. Dindingnya terbuat dari beton yang dibentuk seperti sususan batu alam, dengan teras seluas 5 x 4 m. lantai rumah dibust setengah meter dari atas tanah, dan sebagai penghubung ialah tangga di depan rumah dan di bagian samping. Dua pilar penyangga membuat suasana rumah tampak elit. Tak lupa sekeliling rumah yang ditata layaknya perkebunan mini. Terdapat berbagai tanaman, mulai dari sekedar hiasan, beragam bunga warna-warna serta pohon buah-buahan. “Tuan, kita sudah sampai.” Suara ajudan membangunkan Edi dari tidur singkatnya. “Kita di mana?” Tanyanya masih dengan setengah nyawa. “Di rumah tuan besar.” “Baiklah.” Sebentar Edi kembali menyandarkan tubuhnya, dan memejamkan matanya. Karena kurang tidur, matanya kini terasa perih ketika dibuka, dan kepalanya sedikit pusing. Setelah mengembalikan nyawanya, Edi membuka pintu mobil dan keluar, diikuti ajudan yang membuka bagasi mengambil koper. Edi melenggang menaiki tangga menuju pintu utama. “Bibi…. Aku pulang..” Edi berseru mengabarkan kedatangannya begitu pintu dibuka. Sontak pengisi rumah yang sedang asyik menonton TV di ruang keluarga terhenyak dan tergesa menemui sang pemilik suara. “Anakku…” “Bibi..” Begitu melihat wanita setengah abad hendak menghampirinya, Edi merentangkan kedua tangannya, meminta wanita tersebut berjalan menuju pelukannya. Benar saja, wanita yang sudah beruban itu memeluk Edi dengan sangat erat, seolah takut akan diambil orang. Tubuhnya yang tampak berisi sedikit terangkat dari lantai karena pelukan Edi. “Edi kangen banget sama bibi.” Seru Edi tanpa melepaskan pelukannya. “Bibi juga sayang.” Kedua makhluk beda usia itu berpelukan cukup lama seperti sepasang kekasih yang melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. “Jika paman melihat kita berpelukan seperti ini, pasti dia akan cemburu dan mengusirku.” Ucap Edi sambil sedikit mengurai keeratan pelukannya. “Pamanmu masih di rumah sakit.” Edi pun sepenuhnya melepas pelukan sang wanita yang adalah istri pamannya. “Bibi sangat merindukanmu. Pipimu tampak lebih tirus dari terakhir kali bibi melihatmu.” Ucap sang wanita sembari mencubit gemas kedua pipi Edi. Edi balik menangkup wajah sang bibi. “Dan bibi terlihat semakin gendut.” Kemudian nyengir menunjukkan deretan gigi besar yang putih bersih. “Kamu ini, bilang bibi gendut ya.” Sang bibi mencubit pinggang Edi hingga tangannya terlepas dari wajah cantik bibinya. “Bibi bilangin pamanmu nanti kalau kamu baru saja mengejak istri tersayangnya.” “HAHAHAHHAHA….” Yang diancam malah tertawa mendengar ocehan sang bibi. “Paman pasti setuju denganku kalau bibi memang tambah berisi. Sekaligus makin montok dan menggemaskan.” Sambung Edi menggoda sang bibi. “Kamu ini, bibi saja kamu godai, anak gadis sana yang kamu goda biar nikah.” Mereka berjalan menuju sofa di ruang tamu. Edi menghempaskan tubuhnya yang masih butuh istirahat. Ia tak berniat menjawab ucapan sang bibi terkait perempuan. Nanti akan semakin panjang kali lebar kali tinggi, jadilah volume. Sang bibi duduk tepat di sebelah keponakannya. Keponakan yang sudah seperti anak baginya. Laki-laki dewasa yang sekarang ada di hadapannya bukan lagi anak kecil yang 20 tahun lalu merengek minta dibelikan mainan. Anak kecil itu sudah mandiri, tapi tetap saja masih manja. “kamu pasti sangat lelah. Sana mandi dulu.” Edi segera membuka matanya yang tadi terpejam. “Ok bibi sayang.” Edi mencium pipi wanita tersebut dan melenggang pergi menuju kamarnya. Ia memilik kamar khusus, lantai dua dari rumah itu di desain khusus untuknya. Dan selama 9 tahun sudah ditinggalkan. Walaupun demikian, ruangan berdinding kaca itu tetap rutin dibersihkan. Tas yang dibawa-bawanya ditaruh ke atas meja belajar, sedangkan sang pemiliki langsung menuju kamar mandi di sudut ruangan. Sentuhan air dingin berhasil mengurangi Sebagian rasa lelahnya. Cukup lama ia melaksanakan ritual mandinya, karena terakhir kali ia mandi sekitar 32 jam lalu. Daki terasa sudah sangat tebal, dan keringatnya menempel membuat tidak nyaman. Selama hamir 45 menit berkutat dengan sabun dan penggosok badan, Edi keluar hanya melilitkan handuk di pinggang, serta handuk lain tersampir di kepala. Kakinya melangkah menuju koper yang sudah sejak tadi sampai di kamarnya. Memilih satu per satu setelan rumah untuk dipakai. Ia mengeluarkan sebuah kaos polos tanpa kerah, dengan celana olahraga selutut, tak lupa pakaian dalam. Usai mengenakan pakaian lengkap, Edi mengisi daya handphonenya yang tak dinyalakannya sejak keberangkatan dari Boston. Lalu merebahkan diri di kasur, kali ini ia akan membiarkan tubuhnya istirahat hingga bosan. Dan mata besar itu terpejam perlahan, wajah yang keras seketika berubah lembut seperti ketika Edi berhadapan dengan pasien-pasiennya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN