CHAPTER 9

1438 Kata
Suara dering telepon memaksa Lusi harus menyadarkan diri dari tidurnya. Kelopak matanya masih enggan untuk membuka, tubuhnya berguling-guling mencari posisi nyaman, dan menutup telinganya menggunakan bantal. Namun panggilan itu tak kunjung berhenti. “Ahhhhkkkk… Siapa sih pagi-pagi ganggu aja.” Sungutnya dengan posisi sudah terduduk. Diraihnya telepon genggam yang berada di atas meja sebelah tempat tidur. Layar hitam menunjukkan nama Pak Rudi. “Hufttt…” Lusi mendengus kecil melihat nama tersebut. “Apalagi kali ini?” Batinnya. Dering telepon sudah selesai, Lusi masih menatap bingung pada layar teleponnya yang semakin meredup. Lusi masih enggan meninggalkan tempat tidurnya, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi di hari Jumat. Setidaknya dia masih bisa menikmati 30 menit bergelung di bawah selimutnya, namun Pak Rudi mengacaukan semuanya. Lusi kembali menyalakan teleponnya, menekan beberapa nomor kode kunci, lalu melakukan panggilan pada nomor Pak Rudi. Beberap saat hanya terdengar bunyi yang menandakan panggilan tersambung. Tak lama kemudian, suara berat khas bapak-bapak terdengar dari tempat yang tidak diketahui. “Halo Na, kamu di mana sekarang?” Cecar bapak 3 anak itu. “Di kasur pak.” Jawab Lusi lemas dengan suara serak baru bangun tidur. “Kamu ini, sudah jam segini masih molor.” Sentak senior kesayangannya. “hmmm.. untung gue sayang.” Lusi membatin kesal padanya. “Aduhh bapak, Ana sudah bangun ini, kalau masih molor tak mungkin bisa ngomong sama bapak.” Jawab Lusi tak kalah kesal. “Iya juga ya. Kamu segera ke rumah sakit. Ada beberapa hal yang perlu kamu jelaskan pada saya.” Lusi mengernyitkan dahinya, ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa dirinya harus menjelaskan sesuatu? “Maksudnya pak?” “Sudahlah, sekarang kamu bergegas.” “Ini masih jam 6 lho pak.” Lusi mencoba mengelak. “Ana???” Baiklah, pertahanan Lusi runtuh. Ia tak akan mampu menolak jika namanya sudah dipanggil seolah menunjukkan nada, “Apa kamu akan menolak?” “Baiklah. Kuharap ini tidak menjadi perjalanan yang sia-sia.” Pria yang ada di sambungan telepon hanya tersenyum membalas keketusan Lusi dalam memberi jawab. Lelaki itu merasa menang karena selalu bisa mengendalikan junior kebanggaannya itu. Bagaimana tidak, Rudi merasa ada gambaran dirinya dalam anak itu, pada Lusi. Sesekali Lusi masih menguap diboncengan tukang ojek. Jujur saja, dirinya masih ingin merebahkan tubuhnya di kasur kecilnya yang cukup empuk. Kalau bukan karena menghargai lelaki yang meneleponnya pagi tadi, ia pasti masih berada di balik selimut. Pasalnya jam masih menunjukkan 06.35 WIB. Lusi bahkan berangkat ke rumah sakit pukul 07.30 jika masuk giliran pagi. Hanya butuh 10 menit di perjalanan, mereka sudah sampai di depan rumah sakit modern. Dilihat dari gaya berpakaiannya, Lusi tidak seperti biasanya. Lusi hanya mengenakan kaos berkerah, dan celana olahraga. Meskipun biasanya Lusi bukan pribadi dengan penampilan rapi ala dokter-dokter cantik, tapi ia tetap berusaha untuk terlihat tidak seperti akan ke pasar, hari ini ia tidak peduli. Perasaannya sedang kacau akibat rasa lelah yang masih bergelayut, dan kantuk yang tak kunjung menyingkir dari alam sadarnya. Usai membayar ongkos, Lusi dengan cepat berjalan memasuki lobi dan tanpa mempedulikan lalu lalang rumah sakit menuju ruangan Pak Rudi. Beberapa perawat menyapanya sambil mendunduk atau tersenyum. Lusi menjawab mereka seadanya menggunakan senyum palsu, ia benar-benar sedang tidak ingin tersenyum ramah. Semua karena Pak Rudi yang menghancurkan jam istirahatnya. Lusi sangat tidak suka jika jam istirahatnya diganggu dengan alasan yang tidak penting, dan tanpa rasa ingin dari dirinya. “Baiklah, apa yang sebegitu penting hingga aku harus kemari pagi-pagi begini?” Lusi mencecar begitu membuka pintu ruangan dr.Rudi. Orang yang diajak bicara hanya menatap Lusi terpaku. Ia sedikit kaget mendengar ocehan Lusi yang begitu mendadak. “Apa kau tidak bisa menyapa terlebih dahulu?” Ketusnya. Lusi memutar bola matanya malas. “Baiklah.” Lusi mengalah. “Selamat pagi dokter Rudi. Bagaimana kabar Anda?” Lusi berusaha menormalkan suaranya, tapi tetap saja terdengar jelas nada mengejek di sana. “Ana, kau baru 2 hari tidak bertemu dengan saya dan kamu sekarang bersikap tidak sopan.” “Lagian, siapa yang nyuruh aku datang jam 6 pagi? Masih ngantuk dibangunin.” “Anak gadis bangun siang, harusnya kamu sudah bangun jam 5 pagi.” “Hmmm… Jadi apa ini?” Lelaki itu segera mengambil sesuatu di bawah mejanya. 2 paperbag berwarna putih sudah di tangannya. “Ini untukmu,” dan disodorkan pada Lusi. Lusi hanya menatap heran dan segera mendekat untuk meraih 2 tas kertas itu. Dilihatnya ke dalam tas dan seketika mulutnya ternganga. “Wahhh… buat saya ini?” “Iyalah, buat siapa lagi, saya kasihnya ke kamu.” “Hmmm… jadi makin sayang dech, makasih. Ini coklatnya ada isinya?” “Mana saya tahu, kan saya nggak dari dalam.” “Ya…tapi kan sebelum beli harusnya ditelusuri dulu.” Omel Lusi. Lusi melihat satu tentengan lain, di dalamnya terdapat sebuah jam tangan yang merknya tak perlu disebutkan, tapi masuk dalam jajaran berkelas. Lusi mengamati jam tangan di dalam kotak tersebut. “Pasti mahal.” Ucapnya. “Sebanding untuk gaji kamu selama menggantikan saya. Tidak ada pasien yang komentar dan operasi berjalan lancar. Itu sudah lebih dari cukup.” Lusi hanya tersenyum manja mendapat pujian dari seniornya. “Dengan senang hati.” Balasnya. “Tadi saja kamu mengomel marah-marah karena dibangunin pagi.” “Iya itukan karena kepagian, lagian selama menggantikan bapak, pekerjaan saya dua kali lipat, sudah itu ada kasus darurat di hari pertama jadi ketiduran di rumah sakit.” Lusi menjelaskan semuanya kepada Rudi. Berharap pria tua itu akan paham situasi melelahkannya. “Baiklah, aku mengerti kamu pasti kelelahan. Tapi ini masih shift kamu.” “Baiklah, bisa saya pergi keluar?” “Iya.” Lusi memang bukan tipe orang yang suka mengobrol panjang lebar. Ia lebih suka menyelesaikan inti masalahnya, lalu pergi. Seperti saat ini, jika kebanyakan orang akan mengobrol, bertanya bagaimana kisah dr. Rudi selama di Singapura, berbeda dengan Lusi. Ia tak pernah mau tahu, karena baginya semua itu akan ditanyakannya pada saat dia membutuhkannya. “Ana.” Sebelum Lusi benar-benar hilang dari balik pintu dr. Rudi memanggilnya kembali. “Iya pak?” Lusi kembali membuka pintu menampilkan wajahnya. “Senin depan kamu masuk shift malam?” “Iya.” “Hari Senin kita akan perkenalan direktur baru, jadi Senin kamu harus tetap masuk pagi.” Lusi mengernyitkan dahi tanda bingung, tapi seketika ia manampilkan ekspresi masa bodohnya. “Baiklah, sesuai perintah Anda kapten. Saya permisi dulu.” Lalu Lusi benar-benar menutup pintu ruangan itu, meninggalkan dr. Rudi yang masih tersenyum melihat kelakuan anak didiknya itu. Hari ini Lusi tidak memiliki jadwal yang padat, hingga jam shiftnya berakhir. Lusi tidak seperti dokter-dokter lainnya yang memiliki tempat prakter sendiri atau bekerja sekaligus di rumah sakit lainnya. Ia mencukupkan dirinya mengabdi di satu rumah sakit. Mampu menyelesaikan seluruh pekerjaannya setiap hari tanpa kesalahan sudah sangat cukup baginya. Ia pernah menerima tawaran kerja sama dari beberapa rumah sakit swasta lainnya, dan tawaran menjadi pembicara di beberapa seminar kedokteran, tapi tak pernah diterimanya dengan alasan sibuk atapaun dia tidak mumpuni untuk itu. Pribadinya yang cenderung tertutup juga menutup semua akses bagi dirinya untuk lebih mengembangkan namanya. Tapi lebih tepatnya ia memilih untuk tidak terlalu fokus mencari rupiah, melainkan menambah pengalaman dalam profesinya serta belajar. Tak heran setiap kali jam kosong, ia membaca buku di perpustakaan rumah sakit, membuat percobaan atau menonton video-video kedokteran. Seperti hari-hari sebelumnya, ia baru keluar dari rumah sakit menjelang pukul 22.00 WIB. Sudah 5 menit ia menunggu ojek yang dipesannya secara daring. Di peta aplikasi harusnya sang tukang ojek sudah datang, tapi batang hidungnya tak kunjung terlihat. “Mbak Ana?” Sebuah suara mengejutkannya, sejak tadi Lusi sibuk mengecek ponselnya hingga tidak sadar kalau ada sepeda motor yang mendekat. “Iya saya bang.” Tak perlu berlama-lama, mereka segera meninggalkan rumah sakit yang sudah tampak sepi. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di area rumah sakit seperti pagi dan siang hari. Mereka mungkin sedang beristirahat menjaga sanak keluarga, atau kembali pulang ke rumah dengan bebannya masing-masing, sama seperti Lusi dan orang-orang di luaran sana. Sepeda motor berhenti di depan deretan rumah-rumah kecil ukuran 6 x 4 meter persegi. Sebuah kontrakan berpintu satu, dengan jendela di depan untuk pencahayaan sekaligus ventilasi. Rumah-rumah itu saling berdempet berbatas tembok. Jalan di depannya cukup untuk memuat 1 mobil. Dan di malam hari seperti ini, lampu jalan bersinar terang menghapus gelap. Kawasan tempat tinggal Lusi memang tidak tergolong menyeramkan, karena selalu ada siskamling yang mondar-mandir tiap malam, dan dikarenakan kawasan kontrakan dan kost-kostan, daerah itu tidak pernah sepi dari anak muda dan pekerja, meski tak sedikit juga yang sudah berkeluarga. Hari ini Lusi selesaikan dengan baik. Tak ada masalah yang perlu dipikirkan. Besok ia masih harus melaksanakan rutinitasnya sebagai seorang dokter. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB ketika matanya tertutup dan terbawa ke alam mimpi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN