CHAPTER 10

1708 Kata
Edi terbangun saat jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, tubuhnya terasa lebih ringan setelah tidur sepanjang hari. Tiba-tiba saja perutnya berbunyi, ia belum mengisi lambung kecilnya sejak sampai di rumah. Dengan mulut yang sesekali menguap, Edi berjalan lesu menuju dapur, berharap ada sesuatu yang dapat dikonsumsi oleh anak-anaknya. Edi menuruni anak tangga satu per satu dengan lambat, ia tak ingin mengeluarkan suara yang bisa saja akan membangunkan seisi rumah. Edi menyuapkan makanannya ke dalam mulut. “Gimana mau punya anak, punya pacar aja belum.” “Makanya kamu tuh cari pacar. Usia kamu sudah mau 29, tapi masih saja betah sendiri.” “Ya… abis mau gimana lagi. Nggak ada yang mau sama Edi.” “Kamu sih, nyarinya di luar negeri, di dalam negeri banyak. Nanti bibi carikan, kasih tahu aja mau yang gimana.” Mendengar tawaran sang bibi, Edi hanya tersenyum geli menatap perempuan itu. Ia tak lagi menjawab bibinya, takut kalau-kalau pembahasan krusial itu akan semakin menyudutkannya. Edi menyibukkan diri dengan menyuapkan sedikit semi sedikit nasi dan kawan-kawannya ke dalam mulut. Sedangkan bibinya hanya menatap sayang kepada pria dewasa di hadapannya. “Tak terasa kamu sudah besar ya. Rasanya baru kemarin kamu pindah ke rumah ini, diantar jemput ke sekolah, makan ice cream. Hmmm… secepat inikah waktu berlalu?” Edi menatap sekilas wajah yang sudah keriput itu, kasih sayangnya masih tergambar jelas di wajah yang selalu terhiasi senyum manis tersebut. Perempuan yang menganggapnya anak, dan merawatnya sejak usia 8 tahun. Bagaimana mungkin Edi tidak sangat menyangi perempuan yang semakin renta itu, ia adalah ibu baginya, meskipun bukan yang melahirkannya. Usai menghabiskan seluruh makanan yang disediakan sang bibi, mereka beranjak ke kamar masing-masing. Sebelum menaiki tangga, Edi menyempatkan diri untuk mencium kening sang bibi. “Edi sayang banget sama bibi.” Ia memeluk erat perempuan itu seperti takut kehilangan. Sedangkan yang dipeluk hanya tersenyum sambil menepuk nepuk punggung Edi. “Sudah sana tidur!” “Selamat malam ibu ratu. Semoga mimpi indah.” “Selamat malam.” Mereka pun menghilang di balik pintu kamar masing-masing. Ruangan yang tadi sempat terang benderang kembali menggelap. Masing-masing penghuni mengistirahatkan tubuh mereka. Namun Edi belum bisa terlelap, karena seharusnya di Boston masih pukul 1 siang. Waktu untuk beraktivitas, sedangkan ia kini ada di Indonesia dengan perbedaan waktu 11 jam lebih cepat. Tangannya berselancar ria di media social, membalas pesan-pesan dari teman-teman seprofesinya di Boston. Ada Claire yang menanyakan penerbangannya. Ia lupa mengabari perempuan itu jika ia sudah sampai. Sebentar saja, ia sudah mengirim balasan pesan untuk Claire. Lalu ada 100 pesan dari sang paman sejak 2 hari lalu, ada 50 panggilan tak terjawab. “Woww… pamanku akan mengalahkan rekor muri penelepon terbanyak dalam sejarah hidupku.” Edi tertawa kecil melihat rekam jejak nama pamannya di HP nya. Edi sibuk membuka i********:, twiter, dan melihat poto-poto teman-temannya yang ditinggalkannya di Boston. Tak lupa juga akun Claire yang selalu diperhatikannya baik-baik. Sekalipun takdir berkata lain untuk cerita mereka, tapi Claire adalah sahabat terbaik bagi Edi, ia mungkin tak bisa menjadi pasangan hidupnya, namun ia akan selalu menjadi sahabatnya seumur hidup. Waktu sudah menunjuk pukul 4 pagi, matanya mulai lelah dan perih menatap monitor HP nya. Edi memutuskan untuk menutup aplikasi media sosialnya, lalu mencoba tidur. Ia harus dengan cepat membiasakan diri dengan pola tidur di Indonesia, karena hari Senin ia sudah harus mulai bekerja. Bisa gawat jika di jam kerja ia tertidur, sedangkan saat yang lain tidur ia justru terbangun. Maka setelah 1 jam berguling-guling di kasur besarnya, Edi akhirnya terlelap. *** ` CHPTER 11 Edo berusaha membuka matanya yang masih mengantuk. Semalam ia begadang mempersiapkan materi presentasi untuk minggu depan, serta membaca beberapa berkas. Jam 3 subuh ia baru tidur dan sekarang jam 7 pagi ia harus bangun karena suara bising dari telepon genggamnya. “Aduh… kayaknya aku nggak buat alarm pagi dech.” Diraihnya HP di atas kepalanya, alis kirinya terangkat kesal melihat tampilan layar gawainya. Ada nama “My sweet baby” di sana. “Huhhh” Edo membuang nafas malas, sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut. “Iya Nel?” “Kamu baru bangun ya sayang?” “Iya, aku begadang semalam, baru tidur jam 3 pagi. Kenapa?” “Yahhh… kamu pasti masih ngantuk, maaf ya. Aku mau ngajak kamu jalan ke Senayan City. Aku mau beli sesuatu.” Edo sempat berpikir sebentar. Ia tak tega menolak permintaan tunangannya tersebut. Karena hanya akhir pekan Edo memiliki waktu untuknya, dan selama ini Nella tak pernah protes akan kesibukan Edo. Bahkan jika di tengah makan bersama, Edo sering meninggalkan Nella untuk urusan perusahaan. Beruntungnya, gadis itu tak pernah menuntut banyak hal darinya. “Bagaimana kalau sore saja ya, jam 3 nanti aku jemput.” Terdengar suara sumringah dari seberang sana. “Oke sayang, silakan lanjutkan bobonya. Bye bye..” “Bye..” Akhirnya panggilan itupun terputus dan Edo kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur. Matanya terpejam berusaha kembali memanggil para mimpi untuk mampir, namun yang terlintas justru ingatan tentang kejadian minggu lalu. Hingga sontak Edo kembali melebarkan matanya. Wajah Lusi terlintas begitu saja di khayalannya. Bukan ekspresi ketika dulu mereka bersama, bukan juga ketika ia direndahkan oleh sang ibu. Tapi tatapan yang menunjukkan kesedihan. Ada kesenduan yang dilihatnya di mata Lusi ketika mata mereka bertemu beberapa saat. Edi mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak mengerti keadaan ini. “Bagaimana jika besok kami bertemu lagi?” batinnya. Ia meraih kembali telepon genggamnya yang ada disampingnya, dibukanya media social i********:. Kemudian diketikkannya nama Lusi Anata si kolom pencarian, sebuah akun muncul namun Edo tidak membukanya. Ia kenal akun itu, sudah 5 tahun lalu tidak digunakan lagi. Selama ini Edo menyempatkan waktu mencari-cari akun media social Lusi, tapi seolah perempuan itu menghilang dari peradaban semenjak kisah sedih hubungan mereka. Edo menyerah, ia tahu kali ini pun tak akan ditemukannya apa-apa tentang jejak Lusi. Dalam hatinya yang terdalam, ia masih menginginkan perempuan itu. Bagaimanapun tak ada kesalahan dalam hubungan mereka, namun karena strata ekonomi yang dilihat ibunya, mereka harus terpisahkan. Niatnya untuk kembali tidur kini hilang sudah. Matanya mendadak segar begitu mengingat mantan kekasihnya. “Apa kabar dia sekarang? Apa kamu baik-baik saja Lus?” Edo bergumam seolah sedang bicara pada seseorang. Namun hanya ada dirinya di ruangan itu, yang termenung menatap langit-langit kamarnya. “Aku masih rindu Lus.” Edi berbisik sedih, berharap ucapannya dapat sampai kepada orang yang dirindukannya. Namun hal itu tak mungkin terjadi, bahkan orang yang dimaksud di saat yang bersamaan sedang fokus mempersiapkan diri untuk bekerja tanpa sedikitpun memikirkan Edo. Sebenarnya Edo bisa saja menyuruh orang untuk mencari keberadaan Lusi, terlebih sekarang ia tahu jika Lusi ada di Jakarta. Tapi ia urung melakukannya, ada rasa takut yang masih bergelayut dalam lubuk hatinya. Kekhawatiran yang menindih rasa cintanya pada perempuan masa lalunya tersebut. Setelah sekian lama tanpa kabar, haruskah ia kembali mengungkit kisah lama? “Entah kini dia sudah memiliki orang lain, aku tak mungkin menghancurkan sesuatu yang sudah 5 tahun dibangunnya.” Lagi-lagi Edo menyerah pada pemikiran dan rasa bersalahnya. Dan lagi, Edo sudah memiliki Nella sebagai tunangannya. Gadis itu begitu sabar dan baik menghadapi Edo selama ini. Ia tak mungkin menyakitinya hanya karena keegoisan perasaannya. Ia tak akan sanggup melihat air mata gadis itu jika hubungan mereka pupus. Biarpun hingga detik ini tak ada rasa cinta dihatinya untuk Nella, tapi ia tetap berusaha memperlakukan Nella sebaik mungkin. “Lus, bagaimana caranya untuk melupakanmu? Ajari aku!” Tak ingin terus menerus mengingat akan cinta lama, Edo bangkit dari tempat tidur dan mandi. Apartemennya yang sederhana memiliki luas 10 x 10 meter yang terbagi menjadi kamar tidur lengkap dengan toilet, ruang tamu yang bersatu dengan dapur, serta satu kamar mandi tepat di sebelah dapur. Edo tinggal menyendiri di sana semenjak kepergian Lusi. Ia kecewa dengan ibunya atas apa yang dilakukan. Tentu saja dulu bukan dia yang membeli apartemen tersebut, bagaimanapun pada saat itu ia masih pengangguran. Pertama kali meninggalkan rumah, Edo menumpang di rumah salah satu temannya di kampus, kemudian menghubungi sang ayah yang waktu itu berada di Surabaya. Setelah menjelaskan kondisinya pada sang ayah, maka dengan berat hati ayahnya membelikannya sebuah apartemen. Akan tetapi dengan sebuah syarat bahwa Edo harus bekerja di perusahaan. Walaupun Edo mengambil jurusan bisnis, bukan berarti ia tertarik meneruskan perusahaan sang ayah. Alasannya justru karena sang adik yang tidak tertarik dengan perusahaan dan langsung mencetuskan jurusan pilihannya, menyisakan Edo yang diam saat ditanya sang ayah 9 tahun lalu. Terlebih, dibandingkan sang adik, Edo memang lebih pintar dibagian matematika, wajar jika ayahnya sangat berharap putra sulungnya itu kelak akan menjadi pewaris. Mereka 3 bersaudara, tapi hanya dirinya dan Diana yang terbiasa dengan kedua orangtuanya. Adiknya yang satu lagi sudah diangkat oleh keluarga dari ayahnya sebagai anak. Jelas kehidupan adiknya itu berbeda, karena ia dibesarkan dengan kehidupan orang-orang rumah sakit. Berbeda dengan Edo dan Diana yang lebih diperkenalkan dengan bisnis sang ayah dan kehidupan sosialita sang ibu. Dua tahun lalu tepatnya Edo mengambil alih seluruh perusahaan sang ayah, karena sang adik laki-lakinya sama sekali tidak tertarik dan menyerahkan semuanya pada sang kakak. Adik perempuannya, Diana memilih untuk melanjutkan pendidikannya di bagian kuliner dan membuka restoran sendiri. Jadilah Edo seperti pewaris tunggal harta keluarga Nugraha, sebuah perusahaan yang bergerak di bagian pertambangan minyak dan gas, serta pemilik saham di salah satu perusahaan kelapa sawit di daerah Kalimantan. Meski berkantor pusat di Surabaya, tapi Edo mengendalikan perusahaannya dari Jakarta. Setiap bulan ia akan berada di Surabaya selama seminggu. Sisanya ia serahkan pada wakil direktur. Ayahnya tidak terlalu peduli dengan bagaimana Edo menjalankan perusahaan, ia cukup yakin akan kemampuan putranya. Terbukti selama 2 tahun terakhir, tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Edo. Edo menelepon seseorang setelah siap dengan kemeja lengan pendek berwarna biru dan celana jeans hitam, serta sepatu sneakers berwarna hitam. Penampilannya sederhana namun tetap kaku dan terlihat formal. Begitulah penampilan Edo setiap hari, seolah sudah di setel untuk selalu berpakaian rapi. Tatanan rambutnya yang klimis dan disisir ke sebelah kiri menambah kesan casual. “Halo Nel, aku berangkat sekarang ke rumah ya.” “….” “Aku tidak bisa tidur setelah kau ganggu, jadi temani aku mencari sarapan dulu.” “….” “Baiklah, jangan lama.” Panggilan terputus, karena gadis yang ditelepon meminta izin untuk berkemas. Edo turun ke lantai parkiran setelah memastikan apartemennya aman untuk ditinggalkan, seperti misalnya mematikan keran air, kompor (walaupun dia hampir tidak pernah menyalakannya), dan memastikan semua lampu padam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN