CHAPTER 11

1230 Kata
Dua puluh menit berlalu, Edo sampai di depan rumah keluarga Suhendra di kawasan Kemang. Sebuah rumah bergaya American Classic berdiri megah dengan nuansa putih. Seorang lelaki berusia kisaran 40 tahun berbadan tegap membuka gerbang dan mempersilakan Edo memasuki halaman rumah. Penjaga rumah sudah akrab dengan Edo, berhubung sudah hampir 2 tahun hubungan antara majikkannya dengan Edo terjalin. Edo masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar. Ia sudah tidak segan lagi berkeliaran di sana, karena seisi rumah sudah mengenalnya. Dilihatnya calon ayah mertuanya sedang duduk di kursi di taman samping rumah. “Selamat pagi paman,” sapa Edo menghampiri pria seusia ayahnya itu. “Lho.. nak Edo kok pagi-pagi sekali kemari?” Cecar ayah Nella begitu melihat kekasih sang putri hadir di hadapannya. “Iya paman, tadi Nella ngajak jalan-jalan.” “Ohh.. kamu memangnya tidak ada kesibukan? Jangan kamu selalu nurutin kemauan Nella, namanya perempuan itu selalu maunya jalan-jalan tiap hari.” Celoteh pria yang wajahnya sudah terlihat tua namun tetap ceria itu. “Tidak paman. Lagian minggu depan Edo harus ke Surabaya, jadi minggu ini tak apalah liburan sama Nella. Toh hanya tiap Sabtu, Minggu kami bisa keluar.” “Anak zaman sekarang, paman saja dulu sekali sebulan bisa jalan berdua sama bibimu sudah syukur.” Edo yang mendengar curhatan sang paman hanya tersenyum. “Itu kan papah dulu, sekarang kan zamannya Nellan sama mas Edo.” Dua pria berbadan kekar itu dikejutkan oleh suara Nella yang sedikit cempreng nyeletuk di tengah pembicaraan mereka. Sang kekasih hanya menatapnya sambil tersenyum. Nella mengenakan kemeja tipis berwarna putih yang menunjukkan tangtop putih di dalamnya, serta rok jeans hijau pucat dengan panjang sedikit di bawah lutut. Penampilannya sederhana namun tetap manis. “Mas, mau sarapan di sini atau di luar aja?” “Kita keluar saja ya.” “Pah, kamu pergi ya.” Pamit Nella sambil mencium tangan sang ayah. “Iya, hati-hati, jangan kemalaman pulangnya.” “Siap bos.” Jawab Nella sambil memberi hormat layaknya berhadapan dengan komandan pasukan militer. “Paman, Nellanya saya pinjam dulu ya.” “Iya, hati-hati bawa mobil ya.” “pasti paman.” Pasangan itupun meninggalkan lelaki tua tersebut di taman, dan segera meninggalkan kawasan komplek mencari tempat makan. *** Lusi sedang menikmati makan siangnya di kantin rumah sakit, ketika segerombolan perempuan berbaju warna biru datang mengganggu ketenangannya dengan membawa nampan masing-masing. “Hy mbak Ana. Kita boleh gabung kan?” Seru salah satu perempuan dengan sumringah. “Hmmm…” Ana bergumam sambil mengunyah makanannya. Kelima perawat rumah sakit itupun mengambil posisi nyaman, 3 di hadapan Ana, dan 2 lagi di sebelah kirinya.satu per satu mulai menyantap hidangan yang tersaji, Lusi masih berkutat dengan hidangannya yang tinggal setengah porsi. “Ehh.. pada tahu nggak, kita bakalan kedatangan direktur baru lho.” Salah satu perawat mlai membuka pembicaraan. Dari badgename yang dikenakannya, Lusi mengetahui nama perawat bertubuh mungil itu Sofi. “Ahh.. masa iya? Direktur yang sekarang kan masih sehat.” Perawat lain dengan tubuh lebih berisi dan cukup jenjang bernama Oci Nurlela memberi tanggapan. “Iya, ntar kamu salah dengar lagi Fi.” Balas yang lain bernama Riri. “Aku rasa nggak. Kemarin aku diminta dokter Rudi ke ruangannya mengurus berkas pasien. Terus tiba-tiba ada telepon dari direktur. Soalnya dokter Rudi langsung nyebut nama bapak itu. Dan mereka bahas supaya Senin para dokter dan staf rumah sakit hadir sekalipun bukan shiftnya, untuk menyambut pemimpin baru.” Sofi menjelaskan setiap detil yang didengarkannya dengan tenang. “Wah.. apa jangan-jangan anak bapak itu ya?” Riri mencoba menerka-nerka. “Biasanya sih. Tapi yahh.. kita hanya akan tahu haru Senin. Mbak Ana tahu sesuatu tentang direktur baru?” Tiba-tiba Lusi menjadi sasaran pertanyaan. Sendok terakhir baru saja akan memasuki mulutnya, namun harus diurungkan karena pertanyaan perawat tersebut yang mendadak. “Nggak tahu.” Lusi menjawab dengan polos sembari memberi senyum kecil, untuk menjaga kesan. Padahal dirinya sama sekali tidak peduli dengan siapapun nanti yang menjadi direktur. Toh ia akan tetap bekerja sebagai dokter jantung. Direktur baru tidak akan mengubahnya menjadi kepala departemen penyakit dalam. “Yahh… padahal aku baru berencana mau tidur sampai siang, hari Senin. Kan kita shift malam.” Karen mengeluh sambil menatap tak semangat pada makanannya. Kabar yang disampaikan Sofi seperti mengambil selera makannya. “Hmmm.. iya ya. Semoga saja acara penyambutannya nggak lama.” Sambung Suci yang berada tepat di depan Lusi. Para perawat yang lebih muda dari Lusi itu kemudian berganti topik. Lusi menyelesaikan acara makannya dan mohon undur diri lebih dahulu. Lusi menyusuri areal kantin menuju belakang rumah sakit. Lusi duduk di bangku taman belakang rumah sakit. Taman itu diperuntukkan bagi seluruh orang yang ingin menenangkan diri, terkhusus bagi pasien-pasien yang bosan berada di kamar. Tempat itu juga menjadi favorit Lusi sejak bekerja di rumah sakit itu. Setiap istirahat sehabis makan siang, ia akan menghabiskan sisa jam istirahatnya dengan duduk dan mendengarkan musik di salah satu bangku taman. menatap lalu lalang pengunjung taman yang 80% berpakaian pasien. Setiap kali berada di sana, Lusi mengenang sang ayah dan adik kecilnya. Dulu saat ia masih duduk di bangku SMA, ia sering membawa adiknya keluar ruangan rumah sakit untuk menghirup udara segar, demikian juga ayahnya. Taman itu menjadi saksi bisu duka yang dialami Lusi. Kehilangan satu per satu orang-orang terkasih dalam hidupnya. Bukan tanpa alasan Lusi berjuang untuk profesinya sekarang. Ia harus melihat tubuh saudaranya bertarung dengan alat pacu jantung setiap kali monitor menunjukkan garis menuju lurus. Ia tak bisa melakukan apa-apa ketika tubuh kecil itu masuk ruang operasi dan tidur dengan selang-selang di tubuhnya. Lusi selalu hampir menangis ketika adiknya sadar dan menjerit kesakitan ketika disuntik. Hingga semua usaha yang dilakukan berakhir di tangan Tuhan. Ia bahkan tak menangis ketika adik lelakinya menghembuskan nafas terakhir. Lusi bahagia, ia tak perlu menyaksikan penderitaan adiknya lebih lama. Adiknya mengalami kelainan jantung, dan harus dioperasi untuk inplan. Namun pendonor yang cocok baru dapat setelah lebih 2 tahun menunggu dalam harap-harap cemas. Segala upaya telah dilakukan, dan hasilnya hanya memperlama usia. Bahkan sebelum dilakukan transplantasi, adiknya sudah lebih dulu dijemput. Lusi terlalu sedih hingga air matanya tak lagi mampu menetes. Bagaimana mungkin adiknya harus menutup mata secepat itu, ia bahkan belum sempat melihat indahnya dunia. Usia 10 tahun yang dikenalnya hanya rumah sakit dan seluruh obat-obatan penunjang hidupnya. Perjuangannya selama 2 tahun pun berujung tak berarti. Masalah berikutnya lalu muncul, setelah kepergian Landro, kini ibunya yang mulai meninggalkannya. Perempuan yang melahirkannya itu tidak mampu menerima kepergian sang putra, hingga mengalami stres berat, depresi, dan terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa. Setiap dua minggu, Lusi akan berkunjung ke tempat ibunya dirawat. Dulu, selama Lusi kuliah, ayahnyalah yang mendampingin sang ibu dengan sabar. Berharap perempuan berusia 47 tahun itu segera kembali ke dunia nyata. Namun ayahnya pun segera menyusul sang adik tepat 2 hari setelah kelulusan Lusi. Dan lagi-lagi, penyakit jantung menjadi hantu dalam hidup keluarganya. Lusi akhirnya memperdalam ilmunya di bagian spesialis bedah kardiovaskular, sekalipun di sisi lain ia juga ingin mengambil ahli kejiwaan untuk membantu sang ibu. Tapi sekarang di sinilah dia, menjadi dokter bedah jantung yang kesepian dan hidup dengan ambisi agar tidak ada lagi yang mengalami nasibnya, kehilangan karena penyakit jantung. Lamunan Lusi buyar merasakan getaran ditubuhnya. Telepon genggamnya menunjukkan tanda jam istirahat usai. Lusi mematikan alarmnya dan berdiri dari kursinya. Dihirupnya udara sebanyak-banyaknya dan dihempaskan begitu saja, menghilangkan penat yang sempat mampir. Ia masih memiliki setengah hari untuk menyelamatkan nyawa orang-orang. “SEMANGAT ANA!!!”Batinnya, lalu kembali ke rutinitas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN