TOK TOK TOK.. TOK TOK TOK…
Edi masih bergelung dengan dengan bantal gulingnya. Entah ia tak mendengar atau memang sengaja mengabaikan ketukan pintu kamarnya.
“EDIIIII…” sebuah suara berat masih dengan setiap menyebut namanya sejak 10 menit yang lalu.
“Sudahlah pah, mungkin dia masih lelah karena perjalanan kemarin. Biarkan dia istirahat.” Istrinya berusaha menenangkan sang suami yang masih saja berteriak memanggil keponakannya.
“Tapi kami perlu bicara, ada …”
“Lagi pula jam di Boston dengan di sini berbeda. Biarkan dia menyesuaikan dulu.” Potong istrinya sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.
Sedangkan sang istri hanya menatap iba pada suaminya yang pasrah. Namun ketika mereka sedang khusyu dalam kediaman, pintu kamar terbuka menunjukkan tubuh pria dewasa yang gagah namun acak-acakan khas orang baru bangun tidur.
“Selamat pagi paman, bibi.” Ucapnya dengan senyum lebar, namun matanya masih setengah terpejam.
Kedua pasang mata yang sedari tadi menunggu di luar hanya menatap keponakannya. “Ini sudah jam 2 dan kau baru bangun?” Pamannya yang pertama kali membuka suara.
“Ayolah paman, ini akhir pekan.”
“Kau bahkan belum menyapa pamanmu sejak kau menginjakkan kaki di rumah ini. Bagaimana mungkin kau hanya bilang ini akhir pekan? Apa sopan santunmu sudah hilang?” Pamannya mengomel seperti sedang memarahi anak usia 10 tahun yang kedapatan mencuri. Kebiasaan pamannya belum hilang, meski sudah 9 tahun berlalu.
Edi segera memeluk pamannya dengan erat. “Apa kau sudah puas paman?”
“Ohhh Edi, kau bahkan belum mandi. Anak ini benar-benar jorok.”
Mereka semua hanya terkekeh mendengar ocehan pamannya, yang walaupun mengomel tapi tetap membalas pelukan Edi. Bagaimana tidak, ia sangat merindukan anak angkatnya itu.
“Baiklah, segera mandi, paman akan menjelaskan beberapa hal yang perlu kau ketahui tentang rumah sakit. Banyak hal yang harus kau pelajari hari ini.” Pamannya kembali memberi omelan setelah mengurai pelukannya.
“Baiklah paman.”
“Dan iya, kamu harus segera makan.”
“Siap nyonya.” Jawab Edi semangat sembari memberi hormat.
Pasangan suami istri itupun menuruni anak tangga ke ruang tamu. Kebahagiaan mereka kembali setelah lama kesepian ditinggalkan oleh Edi. Edi memang sengaja diminta pulang, karena usia mereka sudah tidak muda lagi. Mereka ingin menghabiskan waktu bersama keponakan mereka yang sudah seperti anak sendiri.
Tak perlu menunggu lama, Edi sudah bergabung dengan paman dan bibinya di ruang tamu. Sembari menyantap makanannya, matanya tertuju pada layar TV yang sedang menayangkan siaran berita.
“Edi, jangan terlalu fokus menonton, makananmu bisa dihinggapi lalat nanti.” Sang bibi akhirnya menegur karena keponakannya makan sangat lama. Edi menatap bibinya dengan senyum malu. Segera disantapnya sisa makanannya, dan berlalu ke dapur menyimpan piringnya.
“Edi, datang ke ruang kerja paman ya.” Belum juga minumannya tandas, dirinya sudah dipanggil lagi. Mau tidak mau, Edi bergegas menyusul sang paman yang sudah lebih dulu ke ruang kerjanya.
“Paman sudah mengurus semua berkas-berkas administrasi terkait rumah sakit. Kamu sudah resmi menjadi direktur baru di sana, hari Senin kita akan mengadakan perkenalan.” Baru saja Edi memasuki ruangan kerja pamannya, dirinya sudah dihujani keterangan tentang rumah sakit.
“Baik paman.”
“Kita akan mulai pukul 10 pagi, dan seluruh staf akan hadir kecuali yang sedang bertugas.”
‘Apa perlu paman memberitahuku semua itu?’ batinnya.
“Ini, tanda tangani surat-surat ini. Nanti harus segera diserahkan kepada pengacara paman.”
Edi pun mengambil berkas yang diserahkan sang paman, lalu membacanya. Disana tertera jelas, bahwa pemegang posisi direktur utama rumah sakit dialihkan dari nama pamannya menjadi atas namanya. Bahkan seluruh saham juga dialihkan. Sontak mata Edi membelalak.
“Paman, apa ini tidak salah? Bukannya aku hanya menggantikan paman menjadi direktur? Mengapa kepemilikan saham juga dialihkan?”
Sang paman mendekatai keponakannya, kedua tangan rentanya menyentuh bahu Edi. “Semua yang paman miliki akan menjadi hak milikmu. Sejak dulu sudah direncanakan begitu.” Tutur sang paman menjelaskan.
“Tapi paman..”
“Tidak nak, kamu adalah anakku satu satunya, meskipun bukan lahir dari rahim bibimu. Tapi kami sudah menganggapmu sebagai anak kandung kami.”
Wajah tua itu menampakkan ketulusan yang dalam. Jauh di dasar hatinya, ia selalu berjanji untuk memberikan yang terbaik bagi anak muda dihadapannya. “Hanya kamu yang pantas mendapatkan semua ini.”
Edi terdiam, terpaku mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh lelaki yang telah membesarkannya itu. Benar, siapa yang akan mewarisi seluruh kekayaan pamannya? Suami istri itu tak punya anak kandung, hanya dirinya yang ada, keponakan yang menjadi sosok anak bagi mereka.
“Baiklah.” Akhirnya Edi menandatangai surat-surat itu. Lalu memeluk sang paman yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Ia ingin bermelow ria saat ini. Dipeluknya sangat erat pamannya itu, dipejamkannya matanya, mengenang waktu yang telah lalu. Masa kecilnya yang indah dan manja bersama kedua makhluk ciptaan Tuhan ini. Tanpa sadar air matanya meleleh jatuh membasahi pipinya.
Edi mengurai pelukannya, ditatapnya pria yang sudah berumur didepannya. Pria itu juga terlihat meneteskan air mata dalam suasana haru yang singkat tadi. “Edi berjanji, Edi akan membahagiakan paman dan bibi.” Kata-kata itu meluncur dengan sepenuh hati.
“Berbahagialah nak, karena kebahagianmu sungguh sudah menjadi kebahagiaan paman dan bibimu.”
Edi hanya tersenyum membalas ucapan sang paman. “Tapi paman berharap kamu segera menikah dalam waktu dekat.”
Mendengar hal itu, tiba-tiba saja suasana bahagia berubah mencekam. ‘Apa barusan pamanku baru saja menyuruhku menikah?’
“Kenapa kau menatap paman seperti itu? Apa ada yang salah?”
“Paman, apa barusan paman menyuruhku menikah?”
“Iya, memangnya kenapa?”
Edi mengusap wajahnya dengan kasar. “Paman maaf, tapi itu permintaan yang sulit.”
“Ayolah Edi, usiamu sudah 28 tahun, dan belum sekalipun kau mengenalkan perempuan pada orangtuamu ini. Kami tidak lagi muda nak, bahkan teman-teman paman sudah memiliki cucu. Paman bahkan belum memiliki menantu.”
Edi hanya menatap pamannya dengan wajah memelas minta dikasihani.
“Jangan pasang wajah itu Edi. Ini juga untuk kebaikanmu. Paman harap dalam 6 bulan ke depan kau sudah menemukan calon pendampingmu. Atau paman yang akan mencarikannya untukmu.” Pamannya baru saja hendak menelepon seseorang. “Dan ya, Fanya mungkin cocok denganmu, dia jgua bekerja di salah satu RSJ di daerah Bandung.”
“Halo, iya kamu bisa datang ke rumah sekarang. Berkasnya sudah selesai.”
“…”
“Baiklah, saya tunggu.”
Edi masih bergeming di tempatnya. Matanya mengarah pada lelaki beruban yang baru saja mengakhiri panggilannya.
“Edi, kamu mungkin harus pergi bersama bibimu untuk berbelanja pakaian ke kantor. Kamu sepertinya tidak memiliki jas dan sepatu yang cocok.”
“Paman, aku tidak harus mengenakan setelah kantor.”
“Harus, kamu bukan menjadi seorang dokter, tapi pimpinan lembaga. Jadi jangan membantah, segera temui bibimu. Pergilah, sebentar lagi pengaca akan datang untuk mengambil berkas.”
Tanpa perintah lanjutan, Edi keluar dari ruangan tersebut. Entah mengapa nafasnya seolah lebih lega setelah keluar dari sana. Ada aura mencekam yang terasa dalam perbincangan singkat mereka, terutama mengenai pernikahan. ‘Aku bahkan tidak tahu di mana harus menemukan perempuan untuk dicintai,’ batinnya.
***