CHAPTER 13

1211 Kata
Lusi baru saja mengistirahatkan tubuhnya, setelah 3 jam berjuang di kamar operasi. Bersyukur rasa pegal di kakinya serta peluh yang tak terhingga tidak sia-sia, pasiennya dikembalikan ke ruang ICU dengan kondisi aman. Matanya perih karena harus memaksa untuk melihat arteri pasien yang harus dijahit. Meski sudah mengenakan kaca pembesar khusus, tapi tetap saja kepalanya sakit karena harus mengurangi intensitas berkedip. Tak berselang lama, telepon genggamnya bergetar di saku jas putihnya. Dengan malas ia melihat nama penelepon. “Ratih” “Halo.. ada apa kau meneleponku?” Lusi langsung bertanya tanpa basa basi. “Oh ayolah, apa kau sedang kelelahan?” “Sudah tahu masih nanya.” Jawab Lusi ketus. “Maaf. Apa shiftmu sudah selesai?” Lusi melirik jam tangannya, pukul 17.00 WIB. Jam jaganya sudah selesai. “Kenapa?” “Aku sedang di Jakarta. Temani aku jalan-jalan.” Lusi memutar bola matanya. Tubuhnya lelah dan sedang tidak ingin ke mana-mana. Terlebih mengingat sepupu satu-satunya itu tidak akan puas jika belum menjalani semua toko yang ada di dalam mall. Membayangkannya saja sudah membuat Lusi ingin pingsan. “Lusi, apa kau masih di sana?” “Aku lelah Ra. Besok saja bagaimana?” “Ayolah Lus, aku jarang memintamu menemaniku.” ‘Hellooo.. apanya yang jarang bu, tiap ke Jakarta pasti selalu membuat kakiku pegal karena menemanimu belanja.’ Lusi mengumpat dalam hatinya. “Tapi aku benar-benar lelah Ra, aku baru saja menyelesaikan operasiku selama 3 jam.” “Baiklah, kita tidak akan mengunjungi banyak toko. Hanya temani aku makan.” Lusi sejenak berpikir. Ia tahu kalau saudarinya itu tidak pernah menepati janjinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga tak kuasa menolak. “Baiklah, aku segera bersiap. Kau di mana?” “Senayan. Datanglah, nanti ku kabari lagi posisiku.” “Hmmm…” “Kamu memang saudari terbaik sepanjang masa. Terima kasih sayang.” Lusi segera mengakhiri panggilan tersebut, sebelum sepupu sintingnya itu mengucapkan kata-kata romantis yang tidak layak.. “Dia benar-benar sudah semakin gila.” Lusi berakhir di sebuah restoran seafooa di dalam Senayan City. Sepupu centilnya memberi senyum sumringah menyambut kehadirannya. “Ku kira kau tidak akan datang, aku sudah menunggu 10 menit.” Lusi menaikkan sebelah alisnya. ‘Apa baru saja dia menegurku karena membuatnya menunggu 10 menit? Astaga…’ Lusi membatin tak terima dengan ocehan perempuan yang sekarang duduk berhadapan dengannya itu. Raut wajah Lusi yang tak bersahabat sempat membuat Ratih bergidik. Pasalnya dokter didepannya itu kalau marah bisa membuatnya kehilangan kebahagian hanya dalam satu panggilan telepon. Dan Ratih tidak mau mengambil resiko. “Baiklah, apa yang hendak kamu pesan?” Ia mencoba mengalihkan pembahasa, berharap Lusi berhenti menatapnya dengan tajam. Baru saja Ratih memanggil seorang pelayan dengan mengangkat tangannya. Mereka menyebutkan pesanannya sembari si pelayan perempuan berseragam khas restoran itu menulis apa yang mereka inginkan. “Ada lagi yang kamu mau Na?” Tanya Ratih sambil menatap sepupunya. Lusi hanya menggeleng, dan pelayan pun beranjak meninggalkan mereka. “Jadi ada apa kamu ke mari?” Tanpa tedeng aling-aling, Lusi segera menghujam Ratih dengan pertanyaan culas. “Tak ada, aku hanya ingin libura. Kenapa? Tidak boleh?” Jawan Ratih santai sambil melipat tangannya di atas meja. “Jangan sok polos Ratih. Kau pasti punya tujuan khusus hingga memintaku menemanimu. Kau tak pernah datang ke Jakarta jika tidak ada keperluan.” “Kenapa kau selalu berpikir negatif pada saudarimu ini Ana? Aku hanya ingin liburan, itu saja.” “Kau akan lebih memilih liburan ke tempat lain.” Lusi masih menuntut penjelasan dari putri bibinya itu. Sorot matanya seolah ingin menelanjangi Ratih agar jujur. Dan itu tidak pernah gagal. “Baiklah. Ibu memintaku untuk menikah.” Ungkap Ratih dengan suara lemah, sorot matanya menyiratkan kesedihan. “Lalu?” “Ana, aku belum ingin menikah. Usiaku masih 25 tahun. Aku masih ingin menikmati hidupku setidaknya 5 tahun lagi.” Beber Ratih dengan berapi-api. “Jadi maumu apa?” Lusi bertanya to the point. “Kamu menikahlah.” Lusi sontak membelalak mendengar ucapan sepupu sintingnya itu. Kali ini Lusi bernar-benar menganggap Ratih sudah gila. “Maksudku, usiamu sudah menjelang 27, kamu lebih cocok menikah duluan. Iyakan?” Lusi mengerjap beberapa kali masih belum percaya dengan alasan tidak masuk akal perempuan yang beda usia 1 setengah tahun dengannya itu. “Kamu yang diminta menikah, kenapa jadi aku yang harus menikah?” Elaknya setelah tersadar dari keterperangahannya. “Ibu bahkan tak akan pernah berani membuka mulut soal pernikahan padamu. Bahkan jika statusmu nanti jadi perawan tua, aku yang akan selalu jadi pelampiasan.” Ratih mengomel dengan wajah kesal, karena orang yang diharapkan akan menolongnya justru tidak memberi pengertian sedikitpun. “Aku memang belum tertarik untuk menikah. Kamu lebih cocok untuk menikah, setidaknya kehadiran sosok lelaki mungkin dapat mengubah hidup liarmu.” Baru saja Ratih ingin membantah ucapan Lusi, pelayan sudah datang dengan pesanan mereka. Sejenak topik pembahasan mereka harus dihentikan, dan fokus pada tatanan makanan di meja. Lalu membiarkan pelayan berlalu setelah mengucapkan ,”Selamat menikmati,” pada dua gadis beda usia itu. “Ayolah Na. Kali ini kau harus menolongku. Apa kau akan tega membiarkanku menderita tanpa kebebasan setelah menikah kelak?” Ratih mulai merengek seperti anak kelas 1 SD yang minta dibelikan es krim. “Makanan ini menunggu, dan aku kelaparan. Nanti kita lanjut lagi.” Lusi mulai menyantap makanannya tanpa melirik kepada sepupunya masih dongkol dengan sikap acuhnya. Beruntung Ratih sudah terbiasa dicueki oleh kakak beda orangtua dengannya itu. Jika saja Ratih tidak mengenal perempuan yang mengabaikannya saat ini, barangkali dia sudah menyiramkan minuman ditangannya ke wajah dingin itu. Biar sekalian beku ditambah es batu. Mereka menyantap satu per satu sajian di meja tanpa bicara sedikitpun. Ana terbiasa makan tanpa bicara, dan Ratih mengenal saudarinya itu dengan baik. Membuka suara saat makan hanya akan membuatnya terkena semprotan dan tatapan membunuh secara bersamaan. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. Setengah jam telah berlalu, piring-piring sudah terlihat kosong. tinggal gelas yang masih berisi setengah air minum. “Jadi bagaimana solusinya?” Tak mau menunggu lama, Ratih langsung kembali ke topik pembahasan. Ia rela jauh jauh dari Bandung untuk mendapatkan jalan keluar dari masalah peliknya. Padahal Bandung hanya 2 jam dari Jakarta, dan masalahnya hanya perlu diselesaikan dengan menikah. “Aku tidak bisa membantumu kali ini. Katakana saja pada bibi jika kamu tidak mau dijodohkan. Selesai.” “Tidak akan semudah itu.” Lusi berpikir sejenak. Ia sadar pernikahan bukan hal yang sederhana, tak bisa ditempuh dengan cara pemaksaan. Terlebih mengingat saudari yang akan menghadapinya masih labil dan belum cocok untuk mengurus hidup anak orang. Mengurus dirinya sendiri saja tidak becus. Bisa-bisa kehidupan rumah tangganya awut awutan, dan Lusi tidak mau itu terjadi pada Ratih, ia sangat menyayanginya. “Aku akan bicara pada bibi.” Ratih terperangah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Lusi. Ia masih menatap tak percaya jika solusinya sesedarhana itu. ‘Ana akan menjelaskan permasalahannya pada ibu, dan ibu tak akan pernah bisa membantah Ana.’ Lagi-lagi dia beruntung memiliki Ana sebagai sepupu. “Aku akan pulang minggu depan.” Tambahnya. “Oke.” Sahut Ratih bahagia. Sedangkan yang ditatap hanya membalas dengan malas. “Sebagai tanda terima kasihku. Kita akan berbelanja, kali ini aku akan membelikanmu apa yang kamu inginkan.” Ratih mulai kembali pada wujud aslinya, si bawel yang suka belanja. Segera saja ia membayar pesanan mereka, lalu menarik tangan Lusi yang jengah dengan sikap aktif Ratih. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN