Edi POV
Bibiku masih saja menarik-narik tanganku memasuki toko pakaian pria. Sejak satu jam lalu kami sudah sampai di mall. Kedatangan kami memang untuk membeli kebutuhanku nanti selama menjadi direktur. Hmmm.. selama, atau selamanya? Entahlah, aku ragu untuk menjadi seorang direktur. Menjadi pimpinan tidak pernah menjadi impianku. Aku sudah mendedikasikan hati dan seluruh jiwaku di dunia kedokteran, karena itulah aku memilih bersama pamanku daripada kedua orangtuaku. Paman dan bibi dapat mewujudkan mimpiku, akan beda ceritanya jika aku tetap bertahan dengan ayah dan ibu yang melahirkanku.
“Bi, aku masih memiliki pakaian formal yang kubawa dari Boston. Kurasa aku tidak terlalu membutuhkan pakaian baru saat ini.” Aku benar-benar paling malas jika sudah sangkut menyangkut dengan berbelanja. Jiwa kelelakianku selalu meronta jika berurusan dengan mall. Dan ya, aku mungkin akan dengan senang hati menjatuhkan ego saat bersama Claire. Akhh… aku merindukan perempuan yang satu itu.
“No, bibi sudah melihat isi lemarimu kemarin. Dan ya ampun Edi, itu semua hanya kemeja untuk liburan, bukan ke kantor. Kamu akan menghadapi dokter-dokter, investor, dan bukan pasien lagi.”
Ucapan bibi kali ini mengingatkanku pada gaya hidupku dulu ketika masih di Boston dan menjadi seorang psikolog. Aku memang memiliki beberapa kemeja, tapi semua bukan kemeja formil yang biasa digunakan para pejabat kantoran. Hanya model kemeja yang lebih umum dipakai mahasiswa. Dan aku bahkan hampir lupa, jika bajuku lebih banyak tertinggal daripada kubawa ke Indonesia.
“Ahhh…” mengingat hal itu aku langsung berpasrah diri. Sepertinya membeli pakaian kali ini adalah sebuah kebutuhan. “Baiklah, mari kita lihat.”
Langsung saja perempuan berusia 52 tahun yang sejak tadi mengaitkan tangannya di lenganku menyunggingkan senyum. Aku membalasnya dengan senyum setulus mungkin. Dasar perempuan, sekalipun bibiku ini sudah setengah abad, tapi tetap saja hobi belanjanya tidak berkurang sejak muda. Dengan wajah berbinar ia menuntunku memasuki salah satu toko pakaian kantoran.
Begitu sampai di dalam toko, bibi langsung saja menarikku ke bagian pakaian pria. Ia mulai memilih satu per satu kemeja berlengan panjang yang ditata rapi menggantung. Dicocokkannya satu kemeja berwarna biru langit, lalu dilihatnya wajahku sejenak lalu kembali memperhatikan baju yang diletakkan di depan dadaku.
“Warnanya cocok dengan kulitmu.” Ia kemudian meyerahkan baju tersebut pada seorang pegawai perempuan yang sejak awal mengekori kami. Bibi kembali meneliti satu persatu kemeja. “Kamu suka warna apa?” Tiba-tiba saja aku disodorkan pertanyaan.
“Apa saja bi, selama bukan warna hitam atau merah muda, serta warna yang terlau mencolok.”
“Hmmmm.. baiklah mari kita lihat.” Aku hanya memperhatikan perempuan yang membesarkanku itu memilih pakaian untukku. Meski usianya tidak lagi muda, tapi aku berani menjamin kecantikannya masih tetap terjejak pada wajahnya. Melihatnya saat ini, seperti mengenang 10 tahun lalu, saat ia mengajakku belanja pakaian. Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMA. Entah mengapa dalam 1 tahun tinggi badanku bertambah signifikan, mengakibatkan bajuku tidak lagi muat. Bibi sangan bahagian setiap kali membelikanku baju. Ia akan dengan teliti memperhatikan warna, corak, dan kualitas barang. Tidak boleh ada kesalahan, dan ia akan selalu menanyakan apa aku suka atau tidak. Dia selalu mengajakkku, katanya dia tidak mau membeli barang yang bisa saja aku tidak suka.
“Oke sekarang kamu coba dulu pakaian-pakaian itu. Kalau tidak sesuai bisa kita ganti.” Ia segera mendorongku ke ruang viting. Dan aku mengambil satu baju teratas, berwarna putih denga corak garis pada kerahnya. Mengganti baju bukan hal yang lama, dan aku sudah menunjukkan bagaimana wujudku dengan baju tersebut.
Ekspresi yang kulihat adalah senyuman. “Kamu cocok dengan itu. Apa kamu suka?” Aku melihat pantulan diriku di cermin. Yah, tidak terlalu buruk. Aku mengangguk menandakan setuju untuk mengambil baju tersebut. Demikian satu persatu kemeja itu kucoba. Padahal seharusnya aku hanya perlu memilih warna karena toh semua akan cocok kupakai. Jadilah selama 45 menit kami hanya berada di toko tersebut dan berhasil membeli 6 kemeja dan 2 jas. Ada 15 baju yang dipilihkan tadi, tapi pada akhirnya bibi juga yang memutuskan bahwa itu tidak cocok.
5 paper bag sudah sudah kujinjing dan perhentian selanjutnya tentu saja masih seputar pakaian. Kali ini toko yang lebih besar, dengan gaya-gaya pakaian kekinian. Namun karena aku memang bukan tipe orang yang suka dengan hal-hal formal, seberapa bagusnya pun pakaian di toko ini, tidak menarik perhatianku.
Bibi kembali dengan kesibukannya menelusuri deret kemeja, jas, dan celana kain. Ia sudah memilah sejak 30 menit yang lalu. Aku? Aku memilih duduk di sofa yang sudah disediakan di depan ruang tukat pakaian sembari bermain game. Sampai akhirnya aku disodorkan kembali pakaian-pakaian yang lebih banyak dari yang tadi.
Aku mengambil satu kemeja biru navi, dengan jas hitam dan celana kain hitam. Langkahku menuju pintu ruang ganti harus terhenti karena hampir saja bertubrukan dengan seorang gadis.
“Ohh,, maaf..” Suaranya lembut terdengar.
“Tidak apa-apa.”
“Mas mau pakai ruang gantinya ya, silakan duluan.”
“Ehhh…” Entah mengapa aku tiba-tiba saja gagu hendak menjawab perempuan berambut hitam dihadapanku. Aku berdehem mengurai ketegangan yang sekilas menghampiri. “Mbak duluan saja, banyak yang harus kucoba nanti,” aku menunjuk kepada pakaina-pakaian ditangan 2 pegawai toko tersebut dengan senyum keki. Gadis itu menatap arah tanganku dengan wajah datar, lalu memasang senyum tanda mengerti.
“Kalau begitu, duluan ya mas.”
“Iya.” Aku mengangguk sembari mengikuti tubuh gadis itu memasuki ruang ganti.
“Hmm.. “ Suara deheman menginterupsi kesadaranku. Ternyata seorang perempuan langsing berambut ikal yang menjuntai indah sebatas pinggang sedang memperhatikan gelagatku sejak tadi.
“Maaf.” Cicitku salah tingkah. Dia mungkin salah paham melihatku memperhatikan perempuan tadi. Aku kembali pada bibiku yang duduk santai di sofa, dan mengikutinya duduk.
Aku kembali menyibukkan diri dengan telepon genggamku. Baju yang akan kucoba tadi sudah kuserahkan kembali pada pegawai. Sebenarnya ada dua ruang ganti lainnya, tapi keduanya penuh. Konsumen toko ini lumayan banyak.
Tak berapa lama gadis yang kupersilakan duluan keluar dengan dres wana hijau daun selutut. Aku bahkan baru menyadarinya setelah bibiku yang ternyata memperhatikan perempuan itu menyenggol lenganku. Tentu saja aku sontak mendongak ke depan dan mendapati gadis tersebut sedang berputar menunjukkan pakian tersebut pada perempuan berambut ikal.
“Gimana?”
“Wow… geulis pisan ieu mah, sok bungkuskan langsung.” Cerocos si gadis berambut ikal menatap sumringah pada tampilan teman perempuannya.
Aku tanpa sadar menarik pipiku ke atas. Oh.. sorry aku hanya sedikit terkesima melihat pemandangan gadis semampai berambut lurus setengah punggu itu dengan gaunnya. Pasangan yang serasi, maksudku baju dan yang mengenakannya. Sama-sama cantik, aku tulus mengakuinya.
Dia lalu kembali masuk ke dalam ruang ganti. Aku tak lagi memainkan gawaiku, aku tertarik dengan pemandangan apa lagi yang akan tampil di hadapanku nanti. Dan ya, beberapa menit kemudian gadis itu kembali keluar dengan baju putih tanpa lengan, dan sayangnya sedikit di atas lutut. Ada sedikit manik-manik di bagian dadanya membentuk seperti sebuah kalung. Sungguh aku tak bisa mengingkari jika gadis itu terlihat sexy dan elegan secara bersamaan.
“Kenapa kau menggigit bibirmu Ed?”
Ohh.. baiklah fokusku terganggu oleh bibiku tercinta, dan sialnya gadis-gadis itu melihatku yang salah tingkah. Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana mengalihkan pandanganku, aku hanya mencoba memamerkan senyumku, kuharap mereka tidak berpikir aku kurang ajar.
“Kau tampak cantik dengan baju itu.” Ow ow… itu tiba tiba saja terlontar dari mulutku, baru saja. Aku merutuk dalam hati kenapa aku mengatakannya. Dan sekarang mereka benar-benar akan menganggapku kurang ajar.
“Thanks.”
Apa? Apa dia baru saja berterimakasih? Bahkan dia mengucapkannya sambil tersenyum. Wawww… Setelah mengucapkan kata itu dia masuk kembali ke ruang ganti. Tak lama kemudian keluar dengan kemeja lengan tanggung berwarna ungu, pakaian yang sama dengan yang dipakainya sebelum mencoba dua gaun tadi. Jangan lupa celana kain, dari setelannya aku menduga gadis itu pekerja kantoran.
“Silakan.” Dengan ramah dia mengembalikan hak pemakaian ruang padaku. Lalu berpaling menuju kasir, meninggalkanku yang masih mendapat tatapan tajam dari perempuan setengah abad di sebelahku.
“Apa?” Selidikku, sungguh aku seperti sedang diminta pertanggungjawaban, sedang diriku tak tahu ap aitu.
“Kau melihatnya seperti melihat mutiara yang berkilauan.” Bibiku memang suka berlebihan.
“Dia memang cantik, bibi harus akui itu.”
“Kau belum berubah, masih saja playboy.”
Aku hanya nyengir menanggapai ocehan bibiku. Kuraih pakaian yang sudah nganggur sejak 15 menit yang lalu. Satu per satu kupasangkan hingga tersisa 3 setelah lengkap, kemeja, jas, dan celana, tak lupa juga 5 dasi lain warna.
“Bi, kurasa ini sudah cukup. Kita bisa membeli lagi lain waktu.” Aku sudah mulai lelah dengan situasi ini. Total waktu untuk mendapatkan 10 tas kertas ditanganku sekitar 3 jam.
“Kamu bahkan baru membeli 3 celana. Kamu tidak berencana mengenakan jeans bukan?”
“Selama itu tidak melanggar peraturan, mengapa tidak.” Aku hanya menjawab bibiku dengan raut polos. Aku lebih suka mengenakan celana jeans, atau bahkan celana training sekalian.
“Tidak, kita akan ke tepat lain membeli celana.”
Dan lagi, di sinilah aku yang kembali diseret. Kami mengelili 2 toko lagi sebelum akhirnya aku memaksa pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku lelah, namun sepertinya meski sudah berumur bibiku sama sekali tidak merasa letih selama 5 jam berkeliling.
“Bibi, ini sudah cukup. Lain kali kita masih punya waktu untuk membelinya.” Aku menatap memelas pada bibiku. Tapi dia masih memasang tampang sedang berpikir. “Mall ini bahkan akan segera tutup bi.” Aku kembali meyakinkannya.
“Baiklah, kita pulang.”
“Kita bahkan belum makan. Kita makan di mana?” Aku teringat makan malam kami belum ditunaikan. Perutku belum terasa lapar memang, karena diisi sore tadi. Namun tidak baik menunda jam makan.
“Kita makan di rumah saja.”
***