CHAPTER 15

1497 Kata
Lusi sudah berada di kamar kostnya sejak pukul 9. Saat ini ia sedang mengotak atik media sosialnya mencoba mencari hiburan yang dia sendiri juga bingung hendak melihat apa. Pasalnya gadis berusia 26 tahun itu jarang sekali membuka aplikasi media sosial terkecuali w******p, itu juga dikarenakan keperluan berkomunikasi. Ia mencoba mengusir rasa bosan yang menghinggapi malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam waktu Jakarta. Ratih terlihat sudah terbuai sangat jauh di alam mimpi. Gadis itu memang sangat cepat tidur jika sudah berbaring. Tak peduli di manapun itu. Sedangkan Lusi masih belum bisa memejamkan matanya, entah mengapa mala mini ia enggan untuk tidur lebih cepat. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka youtube, mencari video-video yang membahas mengenai dunia medis. Di lain tempat, ada Edo yang baru saja sampai di apartemennya. Ia menghempaskan tubuhnya yang lelah seharian menemani sang kekasih menelusuri pusat perbelanjaan. Setelah makan malam bersama dengan orangtua Nella di rumah, ia memutuskan untuk segera pulang. Pria itu terbiasa begadang untuk mengerjakan berkas-berkas kantor, namun saat ini ia benar-benar membutuhkan kasurnya. Bahkan tanpa terlebih dahulu membersihkan dirinya ia sudah terlelap begitu tenang. Jika Lusi mengisi kesepiannya dengan belajar, maka lain cerita dengan Edi yang sedang duduk termenung di pinggir kolam renang. Sejak kembali dari mall, pikirannya mulai sedikit tidak beres karena selalu terbayang gadis yang ditemuinya di toko baju. Entah mengapa ia merasa gerah menjelang tengah malam. Setelah makan malam pukul 10 tadi, ia beranjak ke kamar hendak tidur, tubuhnya juga sudah lelah setengah hari ditarik-tarik oleh sang bibi. Namun setelah hampir sejam berputar-putar di kasur, kedua matanya tak kunjung bisa diajak kerja sama. Jadilah ia berakhir di kolam renang. Mungkin dengan berenang, ia bisa melepaskan pikirannya yang melantur. Padahal ia sudah mandi begitu sampai di rumah, pemborosan memang. Edi menatap kosong ke dalam air, isi kepalanya kembali mengingat gadis tadi siang. Gadis yang mana? Tentu saja Lusi, si gadis berambut lurus setengah punggung yang mencoba 2 gaun. “Hmmm.. dia tidak teralu cantik, tapi benar-benar menarik. Sepertinya juga tipe perempuan baik-baik. Akhhh… mengapa jadi kepikiran dia ya?” Edi mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran yang mengganggunya, namun tak ayal berpaling. Ada sesuatu yang tidak ia pahami ketika menatap perempuan itu. Bukan karena ia jatuh cinta pandangan pertama, bukan. Edi tak pernah percaya cinta pandangan pertama, baginya itu hanya sekedar ketertarikan fisik. Tapi gadis yang tak sengaja ditemuinya itu berbeda, seperti seseorang yang pernah dikenalnya, tapi tidak diingatnya. “Siapa dia? Aku tidak merasa pernah mengenal wajah itu. Tapi kenapa ada yang aneh saat melihatnya?” Edi sekali lagi mendengus kesal dengan isi kepalanya. “Baiklah Edi, mari fokus. Kau tidak mengenalnya, dia hanya seseorang yang kebetulan berjumpa denganmu. Kau bahkan tidak tahu namanya.” Lelaki yang kini hanya mengenakan celana boxer itu justru semakin mengecilkan nada suaranya, ada nada sedih tergambar dari apa yang baru saja diutarakannya. “Aishh… lain kali aku harus menanyakan siapa dia, itupun jika masih bertemu.” Edi mengakhiri kegiatan berbicaranya yang seperti orang gila sembari mengacak rambutnya kesal. Ia benci sesuatu yang membuat penasaran, dan perempuan itu seperti sebuah peribahasan pendek yang ia sedang coba untuk pecahkan. Naasnya ia tidak tahu latar belakang peribahasa itu, dan ia bahkan tdak pernah menyukai pelajaran bahasa. Paket komplit. Diceburkannya dirinya ke dalam air kolam yang semakin malam semakin dingin. Tapi setelah hampir setengah jam berenang, kepalanya yang bertanya-tanya tak kunjung mendingin, bibirnya yang kini mulai membiru. Gadis itu seperti penyihir yang membuat benaknya kalang kabut, padahal baru pertama kali bertemu. Edi stress memikirkan siapa perempuan itu, sedangkan gadis yang dipikirkan, yang notabenenya adalah Lusi kini sudah terlelap dengan layar gawai yang masih menyala. Ia jatuh tertidur setelah menonton beberapa video pembedahan. Matanya memberat dan tanpa sadar sudah terlelap tanpa menghentikan video yang tadi ditontonnya. Alhasil kini dia yang ditonton oleh gawai tersebut. Lalu bagaimana akhir dari Edi yang tak kunjung bisa tenang? Dia memilih menyelesaikan acara berenang malamnya dan menyibukkan diri dengan menonton siara pertandingan bola. Lelaki itu memang sangat suka menonton pertandingan sepak bola, bahkan dulu ia pernah tidak kuliah selama 3 hari hanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung. Walau bukan maniak, tapi Edi tidak kalah heboh dengan suporter overdosis jika tim yang diidolakannya menang. Amerika bukan negara yang memiliki klub sepak bola terkenal, namun beberapa tim sepak bola lokal tak kalah mengesankan dibandingkan dengan klub-klub besar lainnya seperti MU, BFC, BM, dan lain sebagainya. Edi sendiri tim pendukung Barcelona Football Club di ajang pertandingan dunia. Tapi tetap saja ia lebih pro pada Boston United karena ia benar-benar sudah jatuh hati dengan negara itu. Edi merelakan waktu tidurnya dengan menyaksikan pertandingan perebutan piala Inggris dengan serius. Ia bahkan sudah tidak peduli jika ia seharusnya sengan dalam mode membiasakan diri dengan perbedaan waktu di Indonesia. Tinggal beberapa jam lagi sebelum Senin menjelang, tapi pria berbadan kekar itu seolah tak peduli dengan hari esok yang akan dihadapinya. Biarlah, baru saja dia berhasil lepas dari kegilaannya akan gadis di toko baju. Semua orang sepertinya sudah terlelap dan menikmati mimpinya mereka masing-masing. Jam juga sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Namun sepasang masta Edi seolah sedang berada di siang bolong, tak kunjung mengantuk, beralih saja pun tidak dari layar televisi. Terlebih televisi 42 inc itu adalah TV berbayar yang menampilkan siaran tanpa jeda iklan. Malam ini ia seperti penjaga malam agar maling tidak datang ke rumahnya. *** Edi masih tidur nyenyak di atas sofa di ruang keluarga. Ia tertidur pukul 4 pagi, bahkan sebelum menonton pertandingan hingga akhir. Posisinya tengkurap di atas sofa yang panjangnya memang 2 meter, dan jangan ragukan soal keempukannya yang tak kalah dari kasur. Tangan kirinya menggantung, sedangkan tangan kanannya menjadi bantal. Bekas-bekas makanan dan minuman yang berserakan karena ulahnya semalam sudah bersih sejak pukul 6. Pembantu rumah tangga pun harus bekerja dengan sangat pelan-pelan, sebab takut akan mengusik ketenangan tuannya. Bibinya yang sudah bangun dari pukul 6 juga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang keponakan. Perempuan itu sudah tahu jika keponakannya pasti menonton sepak bola hingga dini hari. Ia juga tahu betul jika laki-laki yang hampir kepala 3 itu selalu ketiduran, dan biasanya ia akan mendengus kesal saat terbangun karena tidak melihat akhir pertandingan. Tak tega rasanya membangunkan sang keponakan, apalagi melihat tidurnya yang sangat pulas. Hingga pukul 10pagi, Edi baru tersadar. Seperti sudah ditebak, dia melihat TV mati, seluruh jejak ulahnya semalam juga sudah hilang tak berbekas. “Semalam siapa yang menang ya? Aishh…”geramnya sambil mengacak-acak rambut, teringat jika ia tertidur menjelang babak terakhir. Pembantu yang kebetulan lewat dari ruang keluarga hanya menatap bingung melihat tuan mudanya seperti anak SD yang bangun terlambat untuk ke sekolah. Edi dengan malas beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya. Saat di pertengahan tangga, terdengar suara berat pamannya memanggil. Sontak Edi membalikkan badan dan menatap lelaki tua yang berada tak jauh dari dasar tangga. “Sore nanti kita akan ke rumah orangtuamu dan makan malam di sana. Barusan ibumu menelepon, sekalian membahas pernikahan saudaramu.” Edi memutar bola matanya tak tertarik dengan pengumuman sang paman. Ia justru melanjutkan langkahnya tanpa memberi tanggapan. “Edi, apa kau mendengarku?” “Iya paman.” Jawabnya malas tanpa menoleh. Sedang pria yang rambutnya hampir putih seluruhnya itu hanya menatap punggung keponakannya dengan sendu. Ia tak pernah menyalahkan Edi meski sikapnya selalu dingin dan acuh pada orangtuanya sendiri. Ada banyak hal yang memang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya perlu dipahami dari hati ke hati. Edi bergegas menuruni anak tangga satu per satu sambil sedikit berlari. Cacing-cacing di perutnya sudah meronta minta jatah sejak tadi. wajar, karena ia belum sarapan hingga pukul 11 pagi. Satu jam lagi seharusnya sudah jam makan siang. Ia menuju dapur, dan mempersiapkan makannya sendiri. Di sana sudah tersedia nasi serta lauk pauk, dan sayur mayur hasil memasak bibi serta asistennya. Sarapan di rumah itu memang bukan roti dengan olesan selain atau segelas s**u hangat, melainkan nasi dan pelengkapnya, terkadang disajikan bubur ayam. Jika banyak orang kaya terdengar biasa sarapan dengan hanya mengkonsumsi roti, di keluarga itu roti adalah cemilan bukan pengganti nasi. Perut mereka seolah sudah disetel hanya akan menerima nasi agar bisa dikatakan kenyang. Lelaki yang kini mengenakan kaos oblong putih serta celana pendek sebatas lutut berwarna hijau toska, makan dengan lahap dalam diam. Ia begitu menikmati acara makannya, seolah hal terpenting saat itu hanyalah makan. Karena begitu seriusnya mengunyah makanannya, sampai tidak sadar jika sepasang mata sedang memperhatikannya dengan saksama. “Kau bahkan terlihat seperti orang tidak makan sejak kemarin.” “Uhukkk…” Edi terbatuk saking kagetnya. Sontak perempuan yang mengganggu keasyikannya mengambil air minum dan menyerahkannya. “Astaga… Bibi. Mengagetkanku saja.” Protes Edi begitu tenggorokannya tenang. Sedang yang dikomentari hanya tersenyum kecil tak peduli dengan protesan keponakan. “Kau terlalu fokus makan, hingga tak melihat bibi sejak tadi berdiri.” “Ya lagian, bibi tidak ada berbunyi.” Setelah kembali dari kekagetannya, lelaki muda itu melanjutkan kegiatan mengunyahnya yang sempat terjeda. Wajah yang sudah mulai keriput itu tak mengalihkan pandang dari keponakannya. Raut mukanya terlihat sendu tak seperti biasanya. Namun orang yang dilihatnya tidak sadar akan ekspresi lain tersebut. “Apa pamanmu sudah mengatakan tentang makan malam kita?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN