CHAPTER 16

1070 Kata
Tiba tiba Edi mengembalikan sendok berisi nasi yang nyaris sampai ke mulutnya. Selera makannya seketika lenyap entah ke mana, hanya karena mendengar topik itu. Harusnya bibinya tidak membahas itu di waktu makannya, sangat-sangat tidak tepat. Edi menjauhkan piringnya, masih tersisa nasi dan pelengkapnya yang jika diukur, mungkin sekitar 3 suapan lagi. Ia meneguk air hingga satu gelas tandas. Setelah menarik nafas cukup dalam ia kembali membuka suara. “Apa sesuatu yang penting hingga kita ke sana?” Tanyanya tanpa menatap sang bibi. Ia tahu jika bersitatap, hatinya tak akan mampu melihat air muka bibinya. “Saudaramu akan segera menikah. Kamu tahu mereka sudah tunangan sejak lama. Jadi kita akan membahas terkait itu nanti malam.” Jelas perempuan renta itu dengan nada lembut. Pembahasan mengenai keluarga Edi sedikit sensitive. Entah sejak kapan anak itu enggan berhubungan dengan kedua orangtuanya dan kedua saudaranya. “Apa aku juga harus ada di sana?” Lagi-lagi pertanyaan menghindar. Edi memang selalu berusaha memastikan apakah dirinya dibutuhkan, jika tidak maka ia tak perlu pergi. Ranggita mendekat kea rah keponakannya, ia duduk di kursi sebelah Edi, dan meraih tangannya. “Apa kau masih marah? Apa kau bahkan tak ingin turut serta dalam kebahagiaan kakakmu?” Dengan suara melemah memohon, Ranggita mencoba membujuk Edi. Tapi pria itu hanya menatap kosong ke depan, tak berniat membalas uacapan bibinya. “Apapun yang sedang kau pikirkan, tolong turunkan egomu nak. Ini demi kebahagiaan saudaramu. Semarah apapun dirimu pada masa lalu, jangan sangkut pautkan dengan mereka. Apapun alasanmu, tak ada sangkut pautnya dengan kakakmu.” Edi menengadahkan wajahnya ke atas dna menghembuskan nafas kasar. Perasaannya campur aduk, marah, kecewa, sedih, dan lemah. Ya, ia lemah jika sudah mengingat kedua adiknya. Selama hampir 20 tahun ia menjauh dari mereka, berusaha membatasi segala komunikasi. Ia juga tidak paham denga nisi kepalanya, kenapa begitu tidak suka pada keluarganya sendiri. Padahal waktu sudah berlalu sangat lama, namun seolah tak mampu menghapus rasa sakit di hatinya. Sang bibi masih setiap menggenggam tangannya, bahkan meremasnya seakan memberi kekuatan. Memberi tahu secara tidak langsung bahwa dia akan selalu ada apapun yang terjadi. “Baiklah, aku akan ikut.” Jawaban itu akhirnya terucap dengan gamblang, namun ada nada tidak rela. Walaupun demikian, bibinya tetap tersenyum atas jawaban itu. “Baiklah, aku akan membereskan meja dulu.” Edi beranjak melepaskan genggaman bibinya. Ia merapikan sisa makanannya. Meski ada pembantu yang akan merapikan seisi rumah itu, seberantakan apapun, akan tetapi Edi dididik oleh pamannya untuk tetap disiplin dan mandiri. Ia terbiasa untuk tidak mengandalkan pembantu untuk hal-hal remeh temeh, seperti mengambil makan, mengembalikan kondisi meja makan seperti sedia kala, hingga mencuci piring. Jangankan itu, selama di Boston ia bahkan melakukan pekerjaan rumah sendiri, tidak ada laundry kilat, delivery makanan, atau petugas pembersih ruangan, ia mengurus dan memastikan seluruh sudut di ruangannya bersih. Ranggita hanya menatap keponakannya sambil tersenyum tipis. Ia mungkin tak bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri, tapi ia juga bukan orangtua yang gagal mendidik anak. Buktinya Keponakan yang sudah dianggapnya anak bisa berhasil menjadi seorang dokter jiwa, dan mandiri. Meski sedikit hati kecilnya terluka jika harus mengingat kebencian di hati keponakannya itu yang hingga saat ini belum bisa disembuhkannya. Hanya itu, namun mampu membuatnya merasa belum layak, dan selalu berpikir bahwa alasan tersebut yang membuat Tuhan tak ingin memberinya kesempatan untuk memiliki anaknya sendiri. Berulang kali ia mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran merendahkan diri dari kepalanya, tapi tetap saja semua berlalu lalang jika sudah bersinggungan dengan saudara iparnya, yang tak lain adalah orangtua dari Edi. Edi yang selalu merasa terluka setiap kali mendengar tentang ayah dan ibunya, dan hatinya yang turut menangis menyaksikan. Terik mentari mulai surut dari singgasananya, perlahan menuntun gelap menutupi langit. Pukul 18.30 waktu Jakarta Edi, serta paman dan bibinya sampai di kediaman orangtuanya di kawasan Jakarta Selatan. Setelah memarkirkan mobilnya, paman dan bibinya terlebih dahulu keluar dari mobil menuju ke dalam rumah. Edi masih terdiam di belakang setir, ditatapnya sejenak rumah mewah dua lantai yang bak istana tersebut. Ia masih ingat pernah menghabiskan masa kanak-kanak di tempat itu, tempat yang baginya bukan sebuah rumah melainkan penjara megah. Penampakan rumah itu tidak berubah banyak sejak 10 tahun lalu, terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini. Dulu ia juga ke sini dengan terpaksa, karena harus mengurus berkas untuk menyelesaikan rencana kepergiannya ke Boston. Sekarang ia akan kembali menunjukkan wajah sebagai bentuk formalitas. Setelah menghembuskan nafas panjang, ia keluar dari mobil Pajero Sport hitam yang masih kepemilikan pamannya. Ingin rasanya ia pergi meninggalkan tempat itu, tapi ia merasa tercubit jika mengingat apa yang dikatakan sang bibi tadi siang. Benar, ia mungkin membenci kedua orangtuanya, tapi saudaranya tidak bersalah. Tidak seharusnya keluarga itu tidak lengkap menjelang hari bahagia saudaranya, meskipun sejak dulu tidak pernah terasa ada kekeluargaan di sana. Langkahnya berat melangkah semakin mendekati pintu. Suara mobil yang mendekat mengalihkan perhatiannya. Tanpa aba-aba badannya berbalik hendak melihat siapa gerangan yang datang. Sebuah mobil Mercedes berhenti tepat di depan teras rumah, dan tak lama keluar seorang perempuan yang terlihat tak jauh beda dari bibinya, serta seorang pria yang juga sudah tampak beruban. Bukan hanya itu, dari pintu di sebelah supir keluar seorang gadis cantik, tinggi, dengan penampilan elegan. Dahi Edi sedikit mengkerut melihat pemandangan di hadapannya. Ia mencoba mengingat siapa gadis itu, seperti pernah mengenal, tapi ia tidak ingat. Saat memorinya berusaha mencari kenangan, tapi hasilnya nihil, justru perempuan itu sudah berada di hadapannya. “Hay.. kamu pasi Edi.” Sontak Edo menatap gadis itu dan mengernyit semakin bingung. ‘kenapa dia mengenalku?’ batinnya. Melihat lelaki itu yang masih saja terdiam, gadis yang tak lain adalah Nella mengulurkan tangannya. Masih dalam keadaan ragu, Edi meraih uluran tangan itu. Tapi ekspresi wajahnya masih belum berubah, tetap pada mode bingung. “Aku Nella, tunangannya Edo.” ‘Ohh.. jadi ini tunangannya.’ Ucap Edi dalam hati. Sedangkan yang terlihat hanya senyumnya, itu juga sedikit dipaksakan. “Silakan masuk.” Lanjutnya setelah kembali menguasai suasana. Ia mencoba menjadi tuan rumah yang baik, meski dirinya sendiri juga merasa seperti tamu di rumah itu. Nella dan kedua orangtuanya hanya tersenyum dan melanjutkan langkah. Edi masih tertinggal di belakang. Kepalanya masih menelusuri ingatan-ingatan dari masa lalu. Apakah ia pernah mengenal gadis itu atau tidak. “Kenapa aku seperti pernah melihatnya? Sepertinya kepalaku mulai tidak beres, kemarin juga aku seolah mengenal gadis di toko baju.” Edi bicara pada dirinya sendiri. Setelah berusaha menghilangkan pikiran konyolnya, ia memasuki rumah dan langsung saja menuju meja makan, karena di tengah jalan ia diminta oleh salah satu pelayan untuk segera ke ruang makan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN