CHAPTER 17

1386 Kata
Edo POV (Pernikahanku) Pagi tadi aku dibuat kelabakan oleh kedua orangtuaku yang secara mendadak memintaku datang ke rumah sore hari. Mereka tidak pernah memintaku sebelumnya, jikalaupun pernah hal itu dikarenakan suatu alasan penting. Berhubung kedua orangtuaku juga jarang di rumah, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, ayah dengan perusahaan, ibu dengan kehidupan sosialitanya serta kesibukan mengekori ayah setiap pergi ke luar kota. Biasanya aku akan ke rumah jika adikku meminta, karena dia kesepian sendirian di rumah mewah itu. Pukul 12, Nella meneleponku. “Iya Nel?” “Sayang, mama dan papa bilang kita aka nada makan malam di rumahmu. Kau tidak mengatakannya kemarin.” Nella menuturkannya dengan lembut, namun mampu membuatku terlonjak tak mengerti. “Makan malam?” aku masih berusaha berpikir tentang kabar itu. Tak pernah ada rencana makan malam, terlebih membawa orangtua Nella. “Iya.” “Nel, aku tidak menyusun rencana untuk makan malam bersama om dan tante. Aku bahkan tadi pagi…” Yahhh.. tadi pagi aku di telepon papa datang ke rumah, tapi ia tidak mengatakan untuk apa. Sepertinya ini ada hubungannya. “Tadi pagi kenapa?” Aku baru tersadar menghentikan perkataanku karena sibuk menganalisa apa yang sedang terjadi. “Tadi pagi papa menelepon dan memintaku ke rumah nanti sore. Tapi tidak diberi tahu dalam rangka apa.” Aku menjelaskan sekiranya berkaitan dengan alasan Nella meneleponku. “Barangkali memang untuk acara makan malam itu. Tapi untuk apa?” Pertanyaan Nella lagi-lagi memaksaku berpikir, apa yang sedang direncanakan orangtuaku. Aku bahkan tidak bisa menebak apa saja yang bisa dilakukan oleh ayah dan ibuku, karena mereka terbiasa menyusun sesuatu hal tanpa melibatkan anak-anaknya. “Aku juga tidak tahu. Kita hanya mengetahuinya nanti.” Jawabku menyerah, aku bahkan tidak bisa menduga apapun kecuali tentang hubungan kedua keluarga ini. “Kau sedang merencanakan sesuatu sayang?” Kata-kata Nella menunjukkan nada menyelidik, seolah semua ini adalah pemikiranku. Padahal aku bahkan tidak tahu menahu dengan apa yang baru saja dia kabarkan. “Aku benar-benar tidak tahu apa-apa Nel, aku bahkan baru bangun dan kalaupun aku bagian dari acara apapun yang akan dilaksanakan itu, aku tidak ambil bagian dalam perencanaan.” Aku berusaha menjelaskan panjang lebar, Nella tipe perempuan yang butuh penjelasan rinci dan mendetail. Gadis itu tidak akan puas dengan jawaban singkat, maka lebih baik bicara dengannya sedikit bertele tele. Aneh memang, tapi dia sosok yang pengertian dan akan memahami orang lain selama diberi alasan yang jelas. “Baiklah, kau tidak perlu mendengus kesal begitu.” “Sorry, tapi aku benar-benar tidak tahu.” Ulangku dengan suara sedikit memelas. “Ya sudah, sampai jumpa nanti malam.” “Oke.” Dan akhirnya panggilan itu berakhir. Jam terus berputar, aku tidak melakukan aktivitas penting hingga menjelang keberangkatanku ke rumah orangtuaku. Hanya sedikit membersihkan apartemen, membuka media sosial sambil berbaring, dan makan siang di pukul 3 sore tadi. Sekarang aku bersiap menuju kediaman orangtuaku, jam sudah menunjukkan pukul 5. Tepat saja, aku menginjakkan kaki di rumah pukul 6 lewat. Tampak belum ada siapapun, hanya saja aku bisa melihat ke arah meja makan yang sudah ditata sedemikian rupa. Sepertinya memang akan ada makan malam. “Kakak…” Akhhh.. adikku satu satunya berteriak begitu ceria. Ini pertanda bahwa bukan hal buruk yang akan terjadi. Aku sering membuat ekspresi gadis berusia 24 tahun itu sebagai tolak ukur dalam memprediksi apa yang akan terjadi. Bukan tanpa alasan, karena dia memang lebih banyak tahu apa yang terjadi di rumah yang mirip istana ini. Jadi sedikit banyak, perubahan ekspresinya dipengaruhi oleh apa yang sedang direncanakan oleh kedua orangtua kami. “Hay…” Aku mengacak rambunya ketika dia berakhir memelukku. Dia adikku satu-satunya, saksi dari semua kisah ataupun tragedi dalam keluarga ini. “Ada acara apa?” Tanyaku penuh selidik. “Hmm..” Dia malah mengedikkan bahunya. “Makan malam keluarga, dan mungkin mama sama papa ingin kalian mempercepat pernikahan kalian.” “Hahhh?” Apa aku tidak salah dengar, pernikahanku? Dengan Nella? “Papa juga mengundang om Agus, dan paman.” “Ohhh..” Aku hanya bisa ber oh ria. Jika memang pernikahan kami dipercepat apa bisa kukatakan? Harusnya pernikahan ini dilangsungkan tahun depan. Entah sampai sejauh mana semua ini akan dikendalikan, aku sudah tidak peduli. “Kakak, yang pertama datang. Ayo ke kamarku.” Seorang asisten rumah tangga menghampiri kamar dan meminta aku serta Diana untuk turun ke ruang tamu. “Sepertinya om Agus sudah datang, kita sebaiknya menyambut mereka.” Arahku pada Diana yang langsung bangkit dan mengekor di belakangku. Benar saja, di sana sudah ada orangtua Nella, juga gadis itu yang mengenakan gaun selutut berwarna ungu cerah. Sangat sesuai dengan kulitnya yang putih, jangan lupa lengannya terpampang, karena gaun itu tidak berlengan. Ada paman juga, serta bibi, dan putra sulung keluarga ini, saudara kembarku Edi. Aku tersenyum kepada semua wajah-wajah yang hadir, dan memberi salam tentunya. Terakhir pada saudaraku yang sudah sangat lama tidak kulihat. Aku merengkuhnya dalam pelukan, menyalurkan seluruh rindu yang tak bisa kuungkapkan. “Kau bahkan tidak mengabariku jika kau kembali.” Bisikku tepat di telinganya, lalu mengurai pelukan. “Kakak, aku juga ingin memeluk kak Edi. Bukan hanya kau adiknya. Minggir!!” Semua orang di ruangan itu tertawa melihat tingkah adikku yang seperti anak kecil merindukan kakaknya. Wajar saja, 9 tahun pria dewasa dihadapanku ini tidak pernah terlihat di Indonesia. Dan suatu keajaiban dia bisa kembali, bahkan menginjakkan kaki di rumah ini. Diana bahkan mendorong lenganku untuk menggapi Edi. “Hai kak, aku sangat merindukanmu.” Diana memeluknya begitu erat. Aku bahkan bisa menebak gadis itu sedang berurai air mata. Edi dengan penuh kasih sayang tentu saja membalas pelukan Diana. Bagi kami Diana adalah malaikat yang dikirim Tuhan sebagai penghibur dan penyejuk hati. “Sudah sudah…” Suara papa segera menginterupsi suasana haru. Dia selalu perusak suasana. “ Kita bisa menuju meja makan, ayo.” Dan tak ada yang akan membantah perintah tuan rumah ini. Semua berjalan dengan lancar, setidaknya hingga makan malam selesai. Lalu dilanjutkan dengan acara keluarga. “Jadi sudah bisa kita membahas apa yang sudah kita sepakati pak Agus?” Ayahku segera membuka suara begitu semua orang duduk di ruang tamu. “Iya pak Prama.” “Baiklah, adapun yang akan kita bahas adalah mengenai pernikahan Edo dan nak Nella. Sebelumnya saya dan pak Agus sudah membicarakannya, jika pernikahan kalian akan dipercepat menjadi 3 bulan lagi. Seharusnya bulan depan, tapi kami rasa banyak hal yang harus dipersiapkan.” Aku tidak tahu harus kaget atau bahagia mendengar pengumuman itu. Kami sudah tunangan cukup lama, dan sudah selayaknya segera menikah, tapi aku bahkan belum mampu memberikan seluruh hatiku pada gadis yang akan kujadikan istri. Sejenak kuperhatikan ekspresi bahagia Nella, iya dia sudah pasti sangat senang akan hal ini. Aku sadar betul dia begitu menginginkan menikah denganku. “Bagaimaan Edo?” Lamunanku buyar karena suara papa. “Iya pa, aku terserah saja. Tapi bagaimana dengan Edi?” Entah mengapa aku malah mengkhawatirkan saudara kembarku. Harusnya dia menikah lebih dulu, karena bagaimanapun dia adalah putra sulung. Terlepas dari semua masalah yang terjadi. “Kenapa denganku?” Edi bersuara, intonasi ringan yang penuh tanda tanya. “Bagaimanapun kau adalah anak sulung, bukankah seharusnya kau menikah lebih dulu?” “Itu tidak jadi masalah Edo.” Lagi-lagi papaku mengambil alih keadaan. “Kita tidak memiliki peraturan jika anak yang pertama lahir harus menikah terlebih dahulu. Jadi, pernikahan ini akan tetap dipercepat.” Lelaki yang bahkan sudah berusia 57 tahun itu tak pernah ingin dibantah. “Iya itu benar.” Dan mama selalu berada digaris depan untuk mendukung apapun yang diucapkan suaminya. Aku menatap sendu paman dan bibiku yang hanya diam menyaksikan perbincangan ini. Sedangkan Edi seperti biasa, memberi tatapan tak peduli. Diana, dia hanya diam dan seolah menyampaikan dengan matanya, ‘terserah padamu kak’. Nella dengan wajah penuh harapnya, demikian juga om Agus dan tante Sri. “Baiklah pa, Edo tidak keberatan.” Dan jadilah hasil akhir, aku akan menikah 3 bulan lagi, terhitung 10 minggu lagi sejak hari ini. Selain pembahasan akan tanggal pernikahan dan segala keperluan yang harus dipersiapkan, tidak ada pembicaraan penting lagi. Semua hanya basa basi dan formalitas, nyatanya mama sudah merencanakan konsep acara sedemikian rupa, tante Sri hanya mengangguk mengiyakan. Dan untuk pihak-pihak yang akan diundang, itu menjadi urusan papa dan om Agus. Paling menyedihkan adalah paman dan bibi yang hanya sesekali menjawab ‘iya’ ketika mama mengajukan pertanyaan yang lebih cocok sebagai pernyataan tanpa bantahan. Edi? Jangan tanya, ia sudah pergi dengan Diana sejak keputusan kuambil. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN