CHAPTER 18

1180 Kata
Acara pembahasan pernikahan Edo berlangsung hingga pukul 10 malam. Begitu keluarga Nella menghilang dari pandangan, keberangkatan selanjutnya disusul oleh Edi serta paman dan bibinya. Diana sempat menahan kakak sulungnya itu, tapi memang dasar keras kepala, Edi tak pernah sudi menginap di rumah itu lagi. “Kak Edi mau langsung kembali sama paman dan bibi?” Wajah Diana tampak memelas ketika bertanya hal yang pasti pada kakaknya. “Hmmm..”Edi hanya berdehem sambil mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan sang adik. “Tak bisakah malam ini kakak menginap? Kakak baru kembali ke Indonesia, bahkan setelah 3 hari baru sekarang kakak kemari. Masa iya kakak tidak bisa menginap semalam saja? Kan aku masih rindu.” Diana mulai merengut memohon. Tapi pria yang diminta untuk tinggal malah tersenyum dan mengelu kepala adiknya. “Gimana kalau kamu yang ikut ke rumah paman?” Bukannya mewujudkan keinginan Diana, tapi tawaran baru yang diajukan oleh Edi. Diana memasang wajah sendunya sambil menunduk. Ia menimbang tawaran Edi, tapi jelas itu bukan perkara mudah untuk meminta izin pada kedua orangtuanya. Diana kembali menatap sang kakak dengan pandangan mengiba, menyampaikan melalui matanya bahwa permintaan tersebut sangat sulit. Edi yang paham akan ekspresi gadis itu hanya menghela nafas. Senyum pasrah disunggingkannya. Paman dan bibinya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, orangtuanya sudah masuk ke dalam rumah sejak tadi. Hanya tersisa Edi, Edo, dan Diana yang sibuk dengan perasaan masing-masing. “Kak, apa salahnya kakak menginap semalam.” Kali ini Edo yang buka suara. Ia tak tahan melihat wajah memelas adik perempuan satu-satunya. “Aku juga akan tinggal malam ini, banyak hal yang perlu kita bicarakan.” Lanjutnya lagi, seolah ingin membuat Edi memiliki alasan untuk tidak menolak permintaan mereka. Tapi Edi tetaplah pria keras kepala jika sudah membuat keputusan. Hal yang langka terjadi jika seorang Edi berubah pikiran. Bahkan untuk kedua adiknya, ia benar-benar tak bisa mengalah pada ego. “Maaf, tapi kalian bisa datang ke rumah paman akhir pekan.” Ditatapnya lagi Diana, diusapnya surai adiknya itu. Ditundukkannya wajahnya hingga mata mereka sejajar. “Maafkan kakak ya Di. Tapi kakak belum bisa.” Diana yang sudah menahan sedih sejak tadi akhirnya meloloskan tetes bening dari kedua matanya. Ia terisak memikirkan kondisi keluarganya, kedua kakaknya yang seolah hanya tamu di rumah itu, datang saat diundang dan pergi begitu urusannya selesai. Padahal jelas-jelas itu adalah rumah mereka juga, lagi-lagi Diana menelan pil pahit kehidupannya yang jauh dari kata harmonis. Edi membawa Diana ke dalam pelukannya, sedangkan Edo mengalihkan pandangannya menahan sesak di dadanya, berulang kali ia menghembuskan nafas kasar. Ketiga bersaudara itu menciptakan suasana yang menyedihkan, mereka bertiga seperti dipisahkan secara tidak langsung oleh keadaan. Pemandangan itu tak luput dari sang bibi, yang turut menangis melihat keponakan-keponakannya begitu tersiksa. Sadar akan perubahan sang istri, Putra mendekapnya begitu erat. “Sudahlah, jangan menangis,” ucap Edi seraya menghapus sisa air mata Diana dengan jarinya. “Besok kakak harus berangkat pagi ke rumah sakit untuk pelantikan direktur baru. Kamu harus datang dan bawa Bungan yang bagus. OK.” Edi memasang senyum semanis mungkin untuk membujuk adik bungsunya. Diana yang sadar tak akan mampu menggoyahkan kakaknya, memilih mengangguk. “Baiklah, kakak pulang dulu ya. Ed, aku balik ya.” Edo ynag sejak tadi berusaha menormalkan dadanya, hanya mengulas senyum. “Kak,” Langkah Edi berhenti setelah mendekati mobil. “Mau coklat?” Edi terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk kepada Diana. Lalu masuk ke dalam mobil dengan senyuman. Mobil itupun berlalu, meninggalkan Diana dan Edo yang terdiam tak bersuara. “Di, masuk yuk.” Ajak Edo menggamit lengan adiknya. Diana hanya pasrah dituntun sang kakak. Ia sedang bersedih hati, padahal harusnya ini adalah momen bahagia. “Kak, maafin Diana ya.” Edo yang melangkah di depan Diana otomatis memutar tubuhnya menghadap sang adik. “Maksud kamu?” Tanyanya penuh selidik. “Harusnya hari ini adalah hari yang bahagia, karena sebentar lagi kakak akan menikah. Tapi Diana justru nangis. Dan juga tadi, saat pembahasan persiapan pernikahan kakak, Diana malah bawa kak Edi keluar.” Diana mencoba menjelaskan kesalahannya dengan kepala menunduk, tak berani menatap wajah sang kakak yang sebenarnya juga tampak lesu. “Hei..” Edo menyentuh dagu gadis itu agar mendongak melihatnya. “Kakak nggak marah kok. Kakak tahu kamu tadi hanya ingin melepaskan kerinduanmu sama kak Edi. Dan lagipula kamu juga tidak akan diberi kesempatan bicara tadi. Kamu tahu sendiri kan siapa yang jadi kepala EO nya.” Edo tersenyum sedih mengingat situasi pembahasan persiapan pernikahannya yang didominasi 90% oleh sang ibu. Kedatangan bibinya bahkan seperti tak berarti mala mini. “Sudahlah, Sekarang kamu tidur, besok harus ke kantor kan? Besok bareng kakak saja. Atau perlu kakak temani kamu tidur?” Ucap Edo menggoda. “Ishh… apaan sih kak, Diana udah gede. Gk perlu ditemani lagi.” Diana malah mengerucutkan bibirnya kesal karena dikira masih anak-anak. “Ya mana tahu, soalnya kamu tadi nangisnya kayak anak kecil. Jadi kakak kira adik kakak yang udah 24 tahun ini tiba-tiba jadi balita lagi.” “KAKAK…..” Diana langsung menyerang Edo dengan pukulan, meski itu tak berpengaruh apapun pada tubuh atletis Edo. Sedangkan Edo yang melihat wajah kesal Diana terbahak sambil berusaha melarikan diri. Keheningan justru kini hadir di dalam mobil. Edo yang duduk di samping supir menatap kosong ke luar jendela dengan berbagai pikiran, tatapannya nelangsa, seolah beribu rasa sakit masih mendera dan mengendap di dalam dadanya. Sialnya ia tak bisa lari dari semua itu, tak juga bisa melampiaskan emosinya. Bibinya sudah tertidur di pelukan sang paman, perempuan itu lelah karena menangisi keponakannya. Sedangkan sang paman hanya melihat ke depan mobil, berbagai pikiran juga berkecamuk di dalam kepalanya. Ironi dalam hubungan kekeluargaan mereka sungguh menyedihkan. Dan ia merasa gagal sebagai seorang paman bagi ketiga keponakannya. Suasana diam itu terus berlanjut hingga mereka sampai di rumah. Melihat istrinya yang tidur sangat nyenyak, Putra urung membangunkannya, tapi ia juga tak akan mampu membopong tubuh sang istri. Mungkin dulu saat masih muda hal itu bukan perkara sulit, tapi usianya sudah memakan habis kekuatan pingganggnya. Bisa bisa mereka jatuh jika dipaksakan. “Ed, bisa kau bawa bibimu ke dalam. Dia tidur sangat pulas.” Edi segera membuka pintu sebelah kiri, mengangkat bibinya seperti membawa seorang kekasih. Begitu sampai di rumah, Edi melihat bekas air mata di wajah putih itu. Ia bisa menebak bibinya pasti menangis melihat drama 3 saudara di rumah orangtuanya. Tubuh yang tak lagi mud aitu dibaringkannya sangat lembut di atas kasur. Sebentar ia mengecup kening sang bibi, perempuan yang tak pernah absen memberi kasih sayang padanya. Perempuan yang bagi Edi adalah ibu, meski mulutnya memanggil perempuan itu sebagai bibi. Melihat sang paman memasuki kamar, ia pun beranjak ke kamarnya. Selesai membersihkan diri, Edi segera beranjak ke ranjang. Jam sudah menunjukkan 23.30 WIB. Besok ia harus bangun pagi untuk penyambutan di rumah sakit. Tubuhnya lelah, demikian juga hatinya serta pikirannya. Belum satu minggu kembali ke Indonesia, tapi rasanya sudah sangat membosankan hingga ia ingin melarikan diri. “Bertahanlah Edi, demi paman, demi bibi. Setidaknya demi mereka dan adikmu.” Gumamnya sambil tidur telentang menatap langit-langit kamar. Ia mencoba menguatkan hati agar tidak terbawa emosi. Perlahan mata itupun menutup, kantuk dan letih bercampur menjadi satu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN