CHAPTER 19

1067 Kata
Pertanyaan yang belakangan sering dipertanyakan, “Mengapa Minggu ke Senin begitu cepat, sedangkan Senin ke Minggu itu sangat lama?” Jawabannya adalah, karena itu nama hari, bicara tentang waktu yang tak bisa mundur, bukan sebuah gedung yang jika dibangun bersisian, maka akan tetap demikian. Andai bisa mundur jaraknya tetap sama, Minggu ke Senin maju selangkah, Senin ke Minggu mundur selangkah. Tapi apa kita akan tetap berkutat di sana? Hal ini tidak akan mudah berakhir jika kita bahas dari segi pembenaran. Anggap saja karena itu dari sananya. Edi baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggang. Ia tampak segar setelah mandi, dan raut wajahnya begitu ceria. Sesekali ia bersenandung kecil sambil mengenakan pakaiannya. Setelannya sebuah kemeja biru langit pilihan sang bibi, dipadukan dengan jas hitam. Tak lupa dasi biru tua serta celana kain hitam yang membuat penampilannya di luar kebiasaan. Hari ini ia tampak lebih berwibawa dan gagah dengan penampilan casualnya. Sekali lagi dipandanginya pantulannya di cermin, senyum tersungging sekilas. Tak pernah menduga bahwa akhirnya ia berada di posisi ini. Sesuatu yang selalu ia hindari seumur hidupnya. Sejenak ia menertawakan jalan takdir, ia menolak untuk meneruskan perusahaan sang ayah, tapi justru memilih mewarisi jabatan yang sama dari pamannya. Ia menghembuskan nafas kasar, lalu segera mengambil gawainya, dan keluar dari kamar. Sebelum mencapai dasar tangga, paman dan bibinya sudah memanggil dari arah dapur. “Sarapan dulu Ed.” Seru sang bibi yang sibuk menyendok nasi ke piring. Edi bergabung duduk di sebelah kiri sang paman. “Kamu sangat cocok mengenakan setelan formal begitu. Lebih Nampak dewasa.” Goda sang bibi tanpa mengalihkan pandang dari piring yang dipegangnya. “Maksud bibi aku selama ini kayak anak-anak?” “Yah… nampaknya demikian.” “Bagus dong kalau begitu, jadi kan nggak nampak kalau aku sudah tua.” Pagi itu mereka tersenyum bahagia hanya karena sebuah ocehan sederhana. Edi memang sosok pengisi kesepian di rumah tersebut, sejak ia hadir dan menjadi bagian dari keluarga itu. Sarapan berlangsung dengan sesekali diselingi lelucon dari Edi. “Bi, kami berangkat ya.” Edi memeluk dan mencium pipinya sang bibi. Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak lama, bahkan ia tak malu melakukannya di depan orang lain. Mereka akhirnya berangkat bersama saat jam menunjukkan pukul 8 waktu Jakarta, 2 jam lebih cepat dari jadwal yang ditentukan. Wajar saja, ada lalu lintas yang harus diwaspadai, selain itu mereka tidak mungkin datang terlambat sekalipun mereka adalah pemilik rumah sakit. “Nanti kita akan adakan makan siang bersama, sekaligus paman akan memperkenalkanmu pada ketua setiap divisi.” Jelas sang paman, sedang Edi hanya mengangguk menanggapi. “Kamu sudah membaca berkas staf bukan?” “Sudah paman.” “Baguslah, kamu harus ingat, ada banyak orang yang menjadi tanggung jawabmu. Tanpa pemimpin yang tepat, sebuah lembaga akan hancur sekalipun memiliki anggota yang hebat. Tapi anggota yang biasa saja bisa menjadi hebat di bawah pimpinan yang tepat.” Edi hanya mendengarkan wejangan tanpa mengalihkan pandangan. Tatapan mereka tertuju ke arah depan mobil membangun suasana yang begitu kaku. Tak ada yang bicara hingga beberapa lama. “Maafkan paman jika harus membuatmu di posisi yang tidak kamu inginkan.” Akhirnya kata-kata itu keluar. Pengakuan yang sudah dipendam cukup lama namun tertahan karena ketidakmampuan. “Paman tahu kamu tak pernah tertarik menjadi seorang direktur. Tapi paman sungguh tidak tahu akan mewariskan rumah sakit itu pada siapa.” Lelaki tua itu berusaha sekuat tenaga menahan emosi agar tak terlihat gerogi. “Setidaknya aku masih ada di rumah sakit, itu tidak terlalu buruk. Paman tidak perlu merasa bersalah. Lagipula aku bisa memanfaatkan kemampuanku untuk membantu staf-staf yang mengalami gangguan stress.” Edi menarik simpul bibirnya ke atas membentuk senyuman yang tulus diarahkan pada pria tangguh di sebelahnya. Ia sadar, tak ada yang lebih mengenalnya selain sang paman, ketika ia tak mendapat izin menggapai cita-citanya, maka pamannya adalah orang yang berdiri di garda terdepan menggenggam tangannya dan membawanya pada mimpinya. Iya, laki-laki yang kini berusia 55 tahun itu adalah pahlawannya. Selama ini pamannya sudah memberikan banyak hal, maka gilirannya untuk berbakti. “Paman harap bukan kamu yang kelak butuh psikiater.” “HAHAAHHA….” Edi sontak tertawa mendengar ucapan pamannya. “Aku akan menyembuhkan diriku sendiri.” “Semoga berhasil.” Lalu mereka tersenyum. Pembahasan selanjutnya seputar kondisi rumah sakit, perusahaan partner, dan beberapa pengembangan yang sedang dikerjakan namun belum rampung. Tak terasa mereka sudah berada di depan rumah sakit. Semua orang masih sibuk dengan kegiatannya, beberapa staf memberi senyum saat melihat pimpinan mereka datang. Edi sudah mengenal benar sistem hormat menghormati di rumah sakit tersebut, pamannya selalu menempatkan diri sebagai bagian dari seluruh staf, hingga ia tak pernah ingin diperlakukan seperti orang yang haus kehormatan. Di lain tempat seorang masih menyantap sarapannya dengan santai. Baru saja ia memesan nasi uduk dari warung sarapan di depan kost-kostannya. Hari ini ia seharusnya baru berangkat ke rumah sakit pukul 4 sore, tapi perkaran penyambutan direktur baru, ia tetap harus datang pagi. Walaupun tidak pukul 8, tapi tetap saja namanya pagi. Satu jam lagi acara akan dimulai, tapi hal itu sepertinya bukan masalah bagi gadis tersebut. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya, dikunyah dengan perlahan namun pasti tidak sampai 32 x seperti yang dipelajari di biologi. Hingga pada suapan terakhir, suara dering ponselnya menghentikan gerak tangannya mengangkat sendor dari piring. Diraihnya ponsel yang hanya berjarak sejangkauan tangan, tercetak nama Dr. Rudi di layar. “Halo..” “Kau di mana?” Suara di seberang terdengar cemas dengan nafas memburu. “Di kost, kenapa dok?” “Ada jadwal operasi yang harus dimajukan karena situasi pasien darurat. Kamu harus ke rumah sakit sekarang, ini gawat, saya sedang tidak bisa menanganinya.” Lusi menghentikan acara makannya, menaruh piring ke meja, dan meraih ranselnya menuju keluar kamar. “Saya dalam perjalanan.” “Nanti pasien atas nama pak Robin. Dia sudah mendapat penanganan kateter, tapi kondisinya menurun dan tidak bisa menunggu lebih lama, resiko terkena gagal jantung sangat tinggi. Kau paham apa yang harus kamu lakukan?” “Siap paham dok.” “Baik, saya tutup. pasien sudah di ruang operasi untuk anastesi.” Panggilan segera berakhir, dan Lusi meminta salah satu teman kostnya mengantarkannya. Meski kondisi lalu lintas masih tergolong ramai, namun beruntung mereka tidak terjebak di perjalanan. Lusi sampai di rumah sakit hanya dalam 5 menit, dan segera berlari ke ruang ganti. Tak perlu waktu lama, Lusi sudah bergabung dengan tim medis lainnya di ruang operasi. Pasien sudah dalam kondisi anastesi dan siap mendapat penanganan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN