Di aula rumah sakit, kursi-kursi sudah mulai diisi oleh beberapa petinggi rumah sakit. Beberapa tamu undangan tampak mengobrol bersama Putra dan Edi. Staf-staf rumah sakit juga terlihat mengenakan baju kerja saat memasuki aula. Suasana yang tercipta di ruangan luas itu berbeda 180 derajat dengan aura mencekam di ruang operasi. Lusi sedang berjuang bersama timnya melakukan operasi bypass pada pasien penderita jantung koroner berusia 45 tahun.
Semakin lama, aula semakin ramai menjelang pukul 10. Kursi-kursi khusus sudah terisi, artinya pejabat rumah sakit sudah datang. Tinggal 10 menit lagi, maka acara akan dimulai. Aula rumah sakit berdiri terpisah di belakang rumah sakit. Meski untuk mencapai gedung itu kita harus melewati lobi atau mengelilingi taman dari luar gedung.
Pembawa acara sudah bersiap dengan tertib acara yang telah dipersiapkan. Dimulai dengan kata sambutan dari direktur utama yang akan serah terima jabatan yang tak lain dan tak bukan adalah paman Edi sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh perwakilan para pemegang saham, pejabat rumah sakit, dan staf. Selesai dengan formalitas pembuka, masuklah pada acara inti, yakni penyerahan jabatan direktur kepada sosok baru. Putra, memperkenalkan keponakannya kepada seluruh hadirin yang hadir, menjelaskan latar belakang pendidikannya, serta mempercayakan tampuk kepemimpinan kepadanya. Sebagai bentuk serah terima jabatan, mereka bersalaman, dan tepuk tangan para hadirin mengikuti.
Lusi masih berkutat dengan arteri, sudah hampir 2 jam ia berdiri dan fokus dengan tubuh pasien yang tak bergerak. 2 perawat berjaga menyediakan peralatan medis yang sewaktu-waktu diminta. Kali ini Lusi memang menjadi kepala tim menggantikan Dr. Rudi. Meski Lusi baru menjelang 2 tahun bekerja sebagai spesialis bedah kardiovaskular, tapi seluruh dokter jantung yang ada di rumah sakit itu sudah tidak meragukan kemampuannya. Apalagi mengingat dokter spesialis bedah kardiovaskular di rumah sakit itu hanya 3 orang, Dr. Rudi, Lusi, dan satu lagi dokter senior yang saat itu berada di aula. Lusi dibantu oleh 1 dokter spesiali bedah, dan 1 spesialis jantung, serta 1 dokter magang. Ada juga dokter yang bertugas memeriksa kondisi kesadaran pasien, tekanan darah, dan seluruh organ vital. Serta 4 perawat yang setiap waktu siaga menerima perintah atau kalau kalau terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Edi memberikan sepatah dua kata sebagai bentuk rasa terima kasih dan penghormatan pada tamu undangan yang hadir. Dia juga turut menyampaikan hal-hal yang kemungkinan akan diterapkan dalam masa kepemimpinannya kelak. Tentu saja dengan kemampuannya yang tidak sesuai dengan jabatannya mungkin akan membutuhkan lebih banyak pemahaman dan bantuan. Meski sama-sama bergelut di dunia kedokteran, tapi medis umum bukanlah keahliannya. Dia tentu saja belajar kedokteran umum sebelum memilih spesialis dokter jiwa, tapi selama ini dia tidak banyak berurusan dengan luka fisik. Sekarang dia diminta menjadi nahkoda yang mengepalai orang-orang yang pekerjaannya menangani luka tubuh, sedang dia lebih ahli menangani luka jiwa.
Acara tersebut berlangsung sekitar 2 jam, para tamu dipersilakan menyantap menu makan siang yang memang telah disediakan. Sedang kesempatan itu dipergunakan oleh Edi untuk mengenal stiap kepala divisi rumah sakit, menanyakan beberapa kendala yang sedang terjadi, sekadar mencari bahan pembicaraan. Edi sukses memberi kesan baik dan menyenangkan kepada seluruh pribadi yang menyaksikannya. Bahkan beberapa staf perempuan terdengar memujinya secara terang-terangan, mulai dari wajahnya, sikapnya, dan senyumnya. Pria yang sebenarnya sedang menahan rasa bosan itu hanya mengulas senyum mendengar hal itu. Hal seperti itu memang bukan sesuatu yang baru bagi Edi, siapa yang akan mengatakannya jelek? Walaupun realita tidak semua orang akan menyukainya, meski mengetahui apa yang dia miliki, tapi tetap saja tak bisa disanggah jika Edi cukup komplit sebagai seorang pria yang layak jadi most wanted.
Putra mengajak Edi berkeliling rumah sakit, padahal dulu ia juga sering ke rumah sakit ini, hampir hapal malah. Sejenak Edi tersenyum mengingat masa SMA, jika ia datang ke rumah sakit membuang suntuk sepulang sekolah. ia kerap melepas baju SMA nya dan meninggalkan kaos oblong. Entah itu pasien atau keluarga pasien sering bertanya padanya, baik itu ruangan dokter, toilet, taman, hingga beberapa ketidakpahaman mengenai prosedur rumah sakit. Dengan pemahamannya yang memang cukup jeli, Edi tentu memberi tahu apa yang dia ketahui atau mengarahkan ke bagian informasi.
Tapi ternyata orang-orang itu sebagian bertanya kepadanya karena tidak berani langsung menghubungi staf rumah sakit. Saat itulah Edi mulai tertarik dengan kehidupan orang lain. Ada banyak alasan, mulai dari yang berusaha menanyakan biaya rumah sakit karena takut uang mereka tidak cukup, prosedur rumah sakit karena takut ditolak sebelum mengurus administrasi, hingga pasien yang kerap curhat perkara kankernya yang tak memiliki solusi. Edi sedikit demi sedikit belajar memahami psikis orang-orang yang tanpa sengaja berurusan dengannya. Perlahan ia justru terbawa suasana, menenangkan ketakutan pasien pasien penderita penyakit kronis, mengadukan pada pamannya penanganan yang menurutnya terlalu memberatkan pasien kurang mampu, hingga perkara tata gedung agar tidak menyulitkan orang-orang yang pertama kali berkunjung. Banyak hal yang telah berubah karena saran-saran Edi, dengan pertimbangan para petinggi pastinya.
Lampu ruang operasi yang selama lebih dari 4 jam berwarna merah kini berubah hijau. Disusul oleh brankar pasien yang di dorong oleh perawat menuju ICU. Para dokter juga keluar, masing-masing mengambil tujuannya kecuali Lusi. Ia masih menjelaskan beberapa hal terkait kondisi pasien kepada pihak keluarga. Saat itulah rombongan Edi dan dokter lainnya lewat.
Lusi sudah akan meninggalkan tempat itu setelah memastikan keluarga pasien mendapat laporan. Tapi langkahnya harus terhenti saat namanya dipanggil. Otomatis tubuhnya bergerak mencari arah suara. Matanya bertemu dengan pandangan para dokter-dokter senior, dan salah satunya Dr. Rudi. Ia memberi senyum dan sedikit menundukkan kepala. Pakaian warna biru dengan masker yang sudah berada di tangan, namun penutup kepala masih melekat lengkap dengan sarung tangan karet, tapi Edi masih bisa mengenali wajah itu. Ada sedikit rasa tak percaya yang dirasakannya, mengingat Sabtu lalu ia meyakini jika perempuan yang ditemuinya di toko baju adalah seorang pegawai kantoran. Ternyata seorang dokter, dan di rumah sakitnya. Bukan, rumah sakit pamannya yang kelak akan diwariskan kepadanya.
“Bagaimana operasinya?” Dr. Rudi mengambil langkah mendahului dan mencecar Lusi dengan pertanyaan.
“Sukses dok, pasien tinggal pemulihan.” Jelas Lusi.
“Apa baru selesai?” Dokter Rudi melihat jam tangannya.
“Iya, tadi ada kendala karena lemak pasien cukup banyak, dan kondisi vital cukup rentan. Tapi semua baik-baik saja.”
“Ahh..baguslah. Oh iya, perkenalkan beliau adalah direktur baru.” dr. Rudi memperkenalkan Edi kepada Lusi tanpa canggung di hadapan dokter lain. Sedang Lusi hanya tersenyum menatap sekilas pada Edi, ia bahkan tidak sadar jika mereka pernah bertemu sebelumnya. Lusi memang tidak peka, sangat tidak peka.
“Dokter Edi, perkenalkan ini Lusi salah satu dokter spesialis bedah kardiovaskular kita.” Dengan bangga dr.Rudi menyebutkan nama Lusi. Tentu saja dokter-dokter yang ada di sana juga paham seberapa baiknya pekerjaan Lusi. Gadis itu sudah menorehkan banyak berita di rumah sakit tersebut selama 1 tahun lebih. Bahkan saat dirinya masih jadi dokter magang, kemampuannya sudah bisa dikatakan baik.
Lusi yang mendengar nada memuji dari seniornya, hanya menunduk. “Maafkan saya tidak bisa hadir di acara penyambutannya.” Ucap Lusi dengan canggung.
“Tidak apa-apa, kamu baru saja menyelamatkan nyawa.” Kini yang menjawab justru pama Edi. Sedang pria muda itu hanya menatap sang gadis dengan tatapan kagum.
“Kalau begitu, saya izin pamit. Ada pasien yang harus saya tangani. Permisi.” Akhirnya Lusi undur diri dengan diikuti tatapan Edi yang mengantarkannya hingga hilang di Lorong.
“Baiklah, mari kita lanjutkan.” Dokter Rudi memecah keheningan yang beberapa detik menguasai.
***