Prolog
Mona Sandrina merupakan gadis berusia dua puluh empat tahun yang tampak biasa. Namun, dia memiliki sebuah kemampuan unik sejak tujuh tahun yang lalu.
'Hahhh. Kenapa harus banyak pekerjaan rumah yang harus kukumpulkan pagi ini?'
'Sial. Ada pertemuan mendadak nanti siang.'
'Duh. Pria di sampingku bau rokok. Bikin mual saja.'
Inilah kemampuan uniknya, gadis itu bisa mendengar pikiran orang yang berada di dekatnya. Beruntung pagi ini bus yang dia tumpangi tak terlalu penuh. Sehingga hanya beberapa suara saja yang ia dengar.
Sesampainya di kantor, Mona segera menuju lift. Naik ke lantai sepuluh. Kembali gadis itu mendengarkan beberapa keluhan dari karyawan lain yang naik satu lift dengannya.
'Hahhh. Kenapa Pak Direktur selalu menyuruhku datang pagi, sih? Kenapa bukan para senior saja yang lebih berpengalaman.' Itulah salah satu isi kepala seorang wanita yang berdiri di dekatnya.
Bukannya tanpa alasan gadis cantik dengan rambut hitam panjang bergelombang itu memiliki kemampuan membaca pikiran seperti itu. Sebelumnya Mona hanyalah gadis yang benar-benar biasa. Hanya saja, setelah kecelakaan lalu lintas yang menimpanya tujuh tahun yang lalu, dia memiliki kemampuan seperti ini sejak terbangun dari koma selama dua hari.
Kecelakaan itu terjadi tepat setelah acara kelulusan SMA yang dihadiri oleh kedua orang tuanya. Waktu itu setelah menikmati makan malam di sebuah restoran, mereka pulang dalam keadaan riang. Kejadian nahas itu terjadi begitu saja. Sebuah mobil tiba-tiba menyenggol salah satu sisi mobil mereka. Sang ayah yang waktu itu kaget, langsung membanting stir ke tepi jalan hingga menabrak pembatas beton. Mobil pun terbalik. Gadis belia itu sudah tak ingat apa-apa lagi setelah kejadian tersebut.
Dua hari setelah sadar dari koma, Mona harus menerima kenyataan pahit bahwa kedua orang tuanya meninggal saat itu juga. Sedih tentu saja. Namun, takdir telah berkata lain. Meraung pun tak akan mengembalikan kehidupan mereka agar kembali ke sisinya.
"Permisi," sapa seseorang yang ikut masuk ke dalam lift saat Mona sampai di lantai lima. Membuyarkan lamunan masa lalunya.
"Ya. Silakan," ujarnya sembari tersenyum ramah.
Lift kembali naik hingga ke lantai sepuluh. Tempat di mana Mona mulai bekerja hari ini. Gadis itu pun langsung disambut oleh beberapa senior.
"Perhatian semuanya! Hari ini kita memiliki rekan kerja baru. Silakan Mbak. Perkenalkan diri," ucap salah satu senior yang diketahui bernama Brian. Usianya sekitar tiga puluh tahunan.
"Baik, Pak. Terima kasih," balas Mona. Dia lalu menatap karyawan lainnya. "Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Mona Sandrina, saya hari ini mulai bekerja di sini. Mohon bantuan dan bimbingannya," sapanya mencoba sopan.
"Pagi, Mona," balas beberapa karyawan yang lainnya.
"Oh iya, kalau boleh tahu usiamu berapa, Mona?" tanya seorang senior pria.
"Hey! Jangan menanyakan hal seperti itu!" seru seorang wanita yang lainnya.
"Ya kan aku penasaran. Habisnya dia kelihatan sangat muda," balas pria tadi.
"Ah. Tidak apa-apa. Saya dua puluh empat tahun," jawabnya tak mau bertele-tele.
"Wah masih muda. Ya sudah. Mulai sekarang kita jadi rekan kerja, ya! Panggil saja aku Kila, ya. Usiaku dua tahun di atasmu," sapa seorang wanita cantik berambut pendek sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Iya. Terima kasih, Mbak Kila," balas Mona menyambut jabat tangan wanita itu.
'Akhirnya ada jun.ior yang manis seperti ini.' Kembali gadis itu mendengar isi pikiran orang lain. Ya. Sebenarnya kemampuannya ini memiliki kelemahan yaitu hanya bisa mendengarkan isi pikiran orang yang jaraknya maksimal satu meter dari tempatnya.
"Kila. Tunjukkan meja kerjanya!" perintah Brian.
"Siap, Pak," balas Kila dengan semangat. "Kemari, Mona!" ajaknya.
"Iya, Mbak."
"Nah. Ini meja kerjamu. Dan orang yang duduk di sampingmu ini namanya Lusi. Tempatku ada di sana. Kalau ada apa-apa kamu bisa tanya ke Lusi," jelas Kila sembari menunjuk meja kerjanya yang berada di ujung.
"Iya, Mbak. Terima kasih banyak," ucap Mona.
"Ya sudah. Aku tinggal ya. Kamu bisa mulai kerja hari ini. Di situ sudah ada tugasmu," imbuh Kila sembari menepuk bahunya.
“Iya, Mbak." Segera gadis itu duduk pada kursi kerjanya.
"Kamu bisa mengerjakan dokumen yang sudah ada di atas meja! Pelajari dulu biar kamu paham!" ucap perempuan bernama Lusi itu sembari tersenyum ramah.
"Iya, Mbak. Makasih," balasnya tak kalah ramah.
Segera setelah menerima pekerjaan pertama, Mona langsung membaca dokumen tersebut. Kemudian memasukkannya ke dalam file pada komputer. Sesuai dengan perintah yang tertulis pada kertas yang terletak di halaman paling depan dokumen.
'Lumayan ada jun.ior baru. Bisa kusuruh-suruh, nih.' Gadis itu kembali mendengar isi pikiran orang. Ternyata Lusi termasuk orang yang suka memanfaatkan juniornya. Mona harus bersabar. Dia harus bisa menerima tekanan kerja di kantor ini.
Jujur saja dengan kemampuan unik ini Mona dapat mengantisipasi bagaimana orang lain akan berbuat padanya. Selama di kampus pun gadis itu terbantu dengan kemampuan unik tersebut. Setidaknya dia bisa mengetahui apa keinginan dosennya.
Dengan kemampuan membaca pikiran ini, Mona pun jadi tahu mana orang yang baik dan jahat. Seperti bibinya. Sebelum gadis itu tinggal sendiri di kostan, ia telah tinggal bersama paman dan bibinya di rumah mereka.
Setelah sadar dari koma, gadis itu pun ikut tinggal bersama mereka. Padahal sebenarnya Mona ingin tinggal sendiri di rumah kedua orang tuanya. Akan tetapi, ternyata rumahnya disita oleh bank dan hanya menyisakan pakaian serta beberapa tabungan saja.
Awalnya Mona sangat senang karena masih ada keluarga yang peduli dengan anak yatim piatu sepertinya. Namun, setelah mendapatkan kekuatan ini, gadis itu jadi tahu isi hati sang bibi. Dia ternyata sangat membenci keponakannya. Padahal Mona selalu melihat senyuman pada wajahnya. Akan tetapi, senyuman itu sangat berbanding terbalik dengan isi pikirannya.
'Sial. Kenapa juga bocah ini ikut tinggal di rumahku? Ayahnya saja banyak utang. Nggak mungkin dia akan memberikan keuntungan pada keluargaku. Dasar anak pembawa sial,' batin sang bibi.
Mendengar hal itu tentu saja Mona kaget. Gadis itu sadar kehadirannya tak diinginkan di keluarga itu. Apa lagi bibi dan pamannya memiliki tiga anak yang harus mereka urus.
"Mona, setelah ini kamu mau kuliah di mana?" tanya sang paman.
"Saya mau kuliah di kampus yang sudah saya daftar beberapa bulan yang lalu, Om Joko," jawabnya sembari tersenyum.
'Dih. Malah mau kuliah. Nggak sadar diri kalau dia sudah jatuh miskin? Mau minta dibiayain sama kita? Ogah.' Kembali Mona mendengar keluhan dalam pikiran sang bibi.
"Mona sebenarnya dapat beasiswa, Om. Jadi Om Joko dan Tante Mirna tidak perlu khawatir. Di kampus juga ada asrama. Saya jadi nggak perlu bolak-balik pulang pergi," jelasnya.
"Wah hebat dong. Kamu memang anak yang pintar," puji bibinya.
'Cepatlah pergi dari sini!' ucap Mirna di dalam pikirannya.
Tepat seminggu sebelum kuliah dimulai, Mona sudah pergi meninggalkan rumah bibi dan pamannya. Tak betah rasanya mendengarkan keluhan dari Mirna tentangnya. Meski yang mampu mendengarnya hanya dia sendiri. Sebenarnya Joko sangat baik padanya. Akan tetapi Mona tak enak hati juga jika terus merepotkan mereka.
***