Kini Mona memulai pekerjaan pertamanya di hari pertama. Ternyata benar sesuai dugaan bahwa keramahan Lusi tak sama seperti kebenaran isi dalam pikiran dan hatinya. Seniornya yang satu ini bahkan menambah pekerjaan Mona dengan alasan sebagai pembelajaran bagi karyawan baru. Sungguh. Mona menyesal karena tidak duduk bersebelahan dengan Kila. Namun apalah daya. Susunan meja kerja sudah diatur sedemikian rupa. Jadi gadis itu tak dapat memilih.
Waktu pun tak terasa berjalan begitu cepat hingga siang sudah menjelang. Seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Membuat para karyawan wanita langsung menghentikan pekerjaannya hanya untuk menyambut pria yang diketahui sebagai atasan atau CEO di PT Midfast.
"Pak Arsen," bisik beberapa karyawan wanita dengan wajah gembira.
Mona terkesiap saat mendengar sebuah nama yang disebutkan. Gadis itu tiba-tiba teringat dengan kakak kelasnya sewaktu SMA.
Karena rasa penasaran, gadis itu pun mendongak dan ikut melihat atasannya. Ternyata memang benar kakak kelasnya, Arsenino Chandra Wijaya. Dia adalah cinta pertama Mona semasa remaja. Gadis itu merasa beruntung bisa bertemu dengannya lagi. Pantas saja karyawan yang lainnya heboh saat melihat kehadirannya. Arsen bertambah tampan dan lebih dewasa.
"Selamat siang semuanya!" sapa pria itu ramah dengan senyumannya yang manis melebihi gula. Jika kalian bertanya bagaimana rupa CEO itu, maka wajahnya mirip dengan aktor muda Jepang, Yoshizawa Ryo. Bedanya tubuh Arsen lebih tinggi dan kekar sekarang.
"Siang, Pak," sahut semua karyawan baik laki-laki maupun perempuan dengan sopan.
"Oh iya. Katanya hari ini ada karyawan baru?" tanya pria itu.
"Iya, Pak. Mona!” panggil Brian sembari menunjuk ke arah Mona yang sedang sibuk dengan dokumennya.
“Ya, Pak,” sahut gadis itu.
“Perkenalkan dirimu pada atasan kita!" seru Brian lagi. Memberi perintah untuk menghampiri sang CEO.
Segera saja Mona berjalan menghampiri Arsen. Gadis itu gugup. Apa lagi dia akan tahu isi pikiran Arsen jika jarak mereka kurang dari satu meter. Apa yang akan ia pikirkan tentangnya, ya? Apa dia masih ingat pada Mona? Pikir gadis itu.
"Selamat siang, Mas ... Maksud saya, Pak Arsen. Saya Mona Sandrina. Karyawan baru di sini," ujarnya sembari mengulurkan tangan kanan. Mencoba bersikap sopan dan hormat.
'Mona Sandrina?' batin Arsen saat menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Oh. Mona? Ya, ya, aku ingat. Sudah jangan kaku begitu! Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi," ujar pria itu menggenggam tangan Mona dengan hangat. Tak lupa dengan senyuman ramahnya yang sudah ada sejak pertama kali gadis itu mengenalnya.
"I-iya, Pak."
Arsen melepaskan jabat tangannya. Mona lalu mundur dua langkah karena masih gugup saat pria itu masih tersenyum manis ke arahnya.
"Selamat bekerja di sini, Mona. Kalau kau perlu sesuatu, aku ada di ruanganku," ucap pria itu sembari berlalu memasuki ruangannya.
Akhirnya jantung Mona yang berdegup kencang bisa sedikit beristirahat. Segera dia kembali menuju meja kerjanya. Lusi pun menatapnya penuh tanya.
"Kau punya hubungan apa dengan Pak Arsen?" tanya Lusi.
"Eh? Emmm. Dulu dia kakak kelasku waktu SMA," jawabnya.
"Oh begitu," balas Lusi sembari tersenyum. Lalu ia kembali menghadap komputernya.
'Cuma adik kelas toh. Syukur deh. Lagi pula cewek cupu ini mana cocok jadi pacarnya Pak Arsen.' Kembali terdengar cibiran dari pikiran Lusi.
***
Hari berikutnya gadis itu kembali bekerja di kantor. Pagi ini pun Lusi memberikan pekerjaannya untuk ia kerjakan. Mona tentu saja terpaksa menerimanya.
Dan kini di depan lift, Mona dengan sengaja menunggu sang atasan. Gadis itu sudah berada di kantornya pagi-pagi sekali hanya untuk menunggu Arsen. Gadis itu menatapnya dari meja kerjanya dalam diam. Tanpa diduga, sang CEO melambaikan tangannya. Tapi bukan hanya Mona saja yang menanggapi. Karyawan lain juga melambaikan tangan ke arahnya.
'Kenapa dia juga melambaikan tangannya? Pak Arsen menyapaku, cupu,' kata Lusi dalam benaknya lagi.
Lusi memang merupakan gadis yang cantik dengan kulit putih bersihnya. Dia memiliki postur tinggi semampai serta memiliki tubuh yang bagus atau mungkin lebih tepat disebut wanita seksi dengan rok dan blus yang ketat. Lusi juga memiliki iris mata hitam. Wajahnya pun mirip seperti orang Korea.
"Mona, bukan?" tanya seseorang. Gadis yang dipanggil segera menoleh untuk melihat siapa yang berbicara. Seorang pria jangkung berkacamata berdiri di samping mejanya. Rambut hitam ikalnya tertata rapi. Kulitnya sawo matang dan dia tipe cowok yang manis.
"Ya?"
"Gue Satria. Gue juga karyawan baru sejak empat bulan lalu." Pria itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Mona Sandrina. Senang bertemu denganmu, Mas Satria." Mereka berjabat tangan.
Pria bernama Satria itu pun duduk di belakang Mona. Di baris meja yang lain.
"Lu nggak perlu sopan sama gue. Santai saja!” ucapnya.
“Oke, Mas.”
“Dan lu nggak harus melakukan pekerjaannya." Dia berbisik sembari melirik wanita yang duduk di samping Mona.
'Astaga. Lusi selalu melakukannya pada karyawan baru.' Gadis itu mendengar suara pikirannya.
"Tapi nggak papa, kok, Mas,” ucap Mona.
"Nggak. Lu harus menolaknya lain kali! Dia harus melakukannya sendiri! Jika lu takut padanya, gue akan bantu." Dia menawarkan bantuan sembari memasang wajah serius.
"Tidak apa-apa, Mas Satria. Aku udah mau selesai, kok," jawabnya.
'Ya Tuhan. Dia sangat baik dan manis.'
"Oke. Tapi lu masih harus menolaknya lain kali. Seharusnya begitu, kan, Mbak Lusi?" Satria tiba-tiba bertanya pada kakak seniornya.
"Apa, Sat?" Lusi menjawab dengan tatapan 'jangan mengganggu'.
"Ah. Bukan apa-apa, Mbak Lusi. Mbak bisa fokus pada pekerjaan Mbak lagi," kata Mona.
"Oh."
"Kamu sabar sekali, Mona. Yah. Gue juga harus kembali ke meja gue. Jika lu menemukan kesulitan, lu bisa tanya ke gue. Gue akan bantu." Satria pun kembali ke mejanya.
Sampai waktu makan siang, akhirnya pekerjaan Mona pun selesai. Gadis itu ingin mengajak Kila makan siang bersamanya. Tapi wanita itu belum juga kembali ke mejanya. Tepat saat itu, Arsen sedang berjalan keluar dari ruangannya. Dia melihat ke arah Mona dan pria itu kini berdiri tegap di depan sang karyawan baru.
"Mona. Istirahatlah dulu,” ucapnya lembut.
“Iya, Mas. Eh. Pak.”
“Emmm. Maukah kamu ...." Arsen menggaruk hidung mancungnya saat berbicara.
"Pak Arsen! Apa Bapak mau makan siang? Bolehkah saya ikut dengan Anda?" tanya Lusi memotong kalimatnya.
'Aku tidak akan membiarkanmu pergi bersamanya, Mona!'
"Eh. Emmm. Tentu. Bagaimana denganmu, Mona?" Pria itu bertanya sembari menatap Mona.
"Emmm. Maaf, tapi saya harus menyelesaikan dokumen saya dulu, Pak,” kilah Mona yang sebenarnya tak nyaman dengan tatapan intimidasi Lusi.
"Tapi ini sudah waktunya istirahat."
"Nggak papa, Pak. Saya akan segera menyusul setelah menyelesaikannya."
"Oh. Oke. Aku akan menunggumu kalau begitu." Pria tampan ini tersenyum padanya.
‘Yah. Sayang sekali.'
Setelah mendengar pikirannya, Arsen pergi bersama Lusi dan karyawan lainnya. Untuk sesaat Mona merasa bahagia karena sang atasan mengajaknya secara langsung. Dia juga mendengar kekecewaan Arsen atas penolakannya.
‘Tapi ... dia bosmu, Mona! Lupakan saja cinta pertamamu!’ ucapnya dalam hati. Mencoba menepis perasaannya.
***