Perv*rt Man

1083 Kata
Hari ini adalah beberapa hari setelah bekerja di PT Midfast. Sayangnya Mona belum pernah bertemu Arsen dalam perjalanannya berangkat kerja. Itu sebabnya hari ini gadis itu berangkat ke kantor sedikit lebih siang. Dia berharap bisa bertemu dan berjalan bersama sang CEO. Dan benar perkiraannya, beberapa saat kemudian di sanalah Arsen muncul. Setelan kemeja berwarna ungu muda dan jas biru dongker sangat cocok padanya. Pesonanya semakin bertambah di pagi yang cerah itu. "Selamat pagi, Pak," beberapa orang menyapanya dengan ramah. "Pagi." Arsen tersenyum begitu hangat saat menjawab. Mona melihat sang atasan dari tempatnya berdiri. Saat ini gadis itu sedang menunggu lift berikutnya. Arsen lalu berjalan menuju ke arahnya. "Selamat pagi, Mona." "Selamat pagi, Pak," jawab gadis itu dengan menahan kegugupannya. Mona merasa sangat beruntung pagi ini. Tak lama kemudian, lift pun terbuka. Mereka segera masuk bersama para karyawan yang lainnya. Lift seketika menjadi penuh. Kini di dalam lift tersebut terdapat setidaknya sembilan hingga sepuluh orang. Tapi sayang, Arsen berdiri di sisi yang lain, terhalang satu orang dengan Mona. ‘Gue beruntung banget bisa bareng sama Pak Arsen,’ batin seorang wanita yang tak Mona kenal. ‘Ya Tuhan. Aku ingin menyentuh tangannya yang kekar itu. Dia sangat dekat.’ Mona pun menoleh saat mendengar kalimat tersebut untuk melihat seorang wanita yang berdiri di antaranya dan Arsen. 'Hah. Hari ini sebenarnya aku nggak mau datang. Aku lelah.’ Gadis itu mendengar keluhan dari seorang pria paruh baya yang berdiri di depannya. 'Kenapa Pak Arsen sangat keren? Dia bisa menangani semuanya. Aku ingin menjadi sepertinya.' Lift yang mereka naiki sangat sepi di luar, tetapi ramai di dalam untuk orang yang memiliki kemampuan unik seperti Mona. 'Ya Tuhan. Dia sangat cantik pagi ini. Aromanya begitu ... manis. Dan dia sangat seksi dengan tubuh yang bagus itu.' ‘Tunggu. Siapa itu? Mengapa di pagi ini aku mendengar sesuatu seperti itu dari seorang pria? Dan siapa gadis seksi itu?’ Mona bertanya dengan antusias dan mencari siapa yang berpikir barusan. Bukankah itu tanda seseorang sedang jatuh cinta? 'Ahhh. Aku ingin menyentuh tubuhnya yang seksi.' Seketika ekspektasi Mona luruh. Sungguh pemikiran yang me.sum. Kini Mona kasihan pada gadis yang menjadi imajinasi sesat pria itu. "Permisi," ujar Mona ketika pintu di lantai sepuluh terbuka. Gadis itu segera meninggalkan karyawan lain yang akan melanjutkan ke lantai berikutnya. Dan tentu saja, meninggalkan pria me.sum yang ia temui di dalam lift. ‘Bok.ong yang bagus.’ ‘Apa? Ya Tuhan. Tolong beri pria me.sum ini peringatan agar dia tidak memikirkan hal-hal yang menjijikkan!’ umpat Mona dalam hati. Gara-gara pria me.sum itu, Mona lupa dengan tujuannya pagi itu. Dia meninggalkan Arsen di belakang yang kini Arsen sedang berbicara dengan seseorang. ***** Keesokan harinya, Mona kembali datang ke kantor pada waktu yang sama seperti yang dia lakukan sebelumya. Menunggu Arsen di depan lift. Dan lihatlah! Pria itu sedang berjalan ke arahnya. ‘Hari ini aku harus berhasil berjalan bersamanya!’ ucap Mona dalam hati menyemangati dirinya sendiri. "Selamat pagi, Mona," sapanya dengan senyuman yang selalu membuat para gadis meleleh. "Selamat pagi, Pak Arsen." "Kita bertemu lagi pagi ini." "Iya, Pak." Kemudian, mereka memasuki lift. Hari ini tidak sesak seperti sebelumnya. Hanya ada lima orang saja. Tiga wanita dan dua pria. Dan kini, gadis itu bisa berdiri di samping cinta pertamanya. Jantung Mona berpacu begitu cepat saking gugupnya. ‘Kuharap dia tidak mendengarnya,’ pikirnya. Mona tidak ingin memedulikan pikiran orang lain. Dia begitu senang berdiri di samping Arsen. Di ruang kecil ini, Mona menyadari bahwa Arsen begitu tinggi sekitar 185 senti meter. ‘Oh tidak. Aku tidak boleh menatapnya terus atau dia akan illfeel padaku,’ batin gadis itu lagi. 'Oh damn! Dia sangat seksi seperti sebelumnya. Wajah cantik dan bibir seksi itu. Ugh ... Jangan terlalu lama menatap atau dia akan sadar sedang ditatap olehku!' Kembali terdengar suara hati si pria me.sum. Itu Si Me.sum lagi. Tapi siapa? Di sini hanya ada dua pria. Mungkinkah pria m***m itu adalah atasan Mona? Gadis itu segera menepis pikirannya. Di dalam lift tersebut ada dua pria dan tiga wanita. Dua lainnya adalah wanita cantik dengan rok ketat. Jadi, pria itu pasti sedang membayangkan salah satunya. Atau mungkin keduanya? 'Tuhan. Saya terlalu tua untuk melanjutkan pekerjaan ini. Tapi saya punya dua anak. Saya harap saya bisa seperti Pak Arsen yang memiliki kemampuan yang hebat dan bisa pensiun dengan memberikan banyak manfaat.' Itu adalah suara pikiran yang berbeda. Bahkan dia menyebut Arsen. Dan Mona melihat pria paruh baya di sebelahnya sedih. ‘Jadi ... itu berarti pria me.sum itu ... Pak Arsen?’ Mona langsung mendongak untuk melihat wajah pria tampan di sampingnya. Arsen balas menatapnya dengan tatapan heran. Lalu tersenyum manis. "Ada apa, Mona?" "Tidak. Bukan apa-apa, Pak," jawab Mona dengan senyum kaku. Ia lalu menunduk. 'Oh Tuhan. Aku sangat menyukai wajah cantik dan tubuh itu. Aku benar-benar ingin menyentuh bokongnya. Sabar Arsen! Tahan!' Oh my God! Mona benar-benar tidak percaya. Arsenino, pria yang terkenal sebagai orang yang kalem dan berkharisma merupakan seorang pria me.sum? Dia bahkan melihat pan.tat wanita pada hari sebelumnya. Itu sungguh mengejutkan. Setelah beberapa saat, pintu lift terbuka di lantai sembilan. Dua wanita dan pria tadi keluar. Meninggalkan Mona bersama Si Tuan Me.sum. ‘Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin tahu tentang hal ini. Sisi buruk dari cinta pertamaku,’ sesalnya. Gadis itu kemudian berpindah tempat ke sisi lain lift. Namun, hal itu tidak ada gunanya. Liftnya tidak cukup besar. Lebarnya saja kurang lebih hanya dua meter. Dan Arsen berdiri di tengah-tengah. "Senang bisa bersamamu lagi pagi ini, Mona." Pria itu tersenyum padanya Mona membalasnya dengan gugup. "Ya." ‘Sialan! Aku tadi hampir menyentuhnya. Bok.ong yang indah itu dan ....' "Mas Arsen. Maksud saya, Pak. Emmm. Kapan Bapak mulai bekerja di perusahaan ini?" Gadis itu segera memberikan pertanyaan pada sang CEO untuk menghindari pikirannya yang me.sum. "Emmm. Kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu." Dia menjawab dengan menyentuh dagunya dengan jarinya yang panjang. "Oh begitu." Mona mengangguk memberikan tanggapan. Akhirnya pintu terbuka saat mencapai lantai sepuluh. "Lady first." Arsen mempersilakan karyawannya keluar dari lift terlebih dahulu. Sikap yang sungguh gentle. Gadis itu berharap apa yang baru saja ia dengar sebelumnya hanyalah imajinasi belaka. "Terima kasih, Pak," ucapnya sembari tersenyum. "Sama-sama." Kemudian Arsen keluar dari lift. Pria itu berjalan tepat di belakang Mona. "Pak. Emmm. Bapak bisa duluan. Saya mau ke belakang." Mona berbalik untuk meminta izin ke kamar kecil. "Oke." "Terima kasih." Gadis itu lalu berjalan cepat menjauh darinya. Bersembunyi di salah satu kamar mandi. Ingin melupakan apa yang baru saja dia dengar. ‘Mengapa dia, seorang pria yang ku kenal memiliki kharisma dan kepribadian yang baik harus memiliki pikiran yang kotor?’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN