Keesokan harinya, Mona kembali datang ke kantor lebih awal. Gadis itu tak ingin bertemu Arsen dan mendengar pikiran kotornya lagi. Tetap saja, dia masih belum bisa percaya akan hal itu. Untungnya pagi ini Mona tak bertemu dengan CEO me.sum itu. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan ketika berjalan bersamanya seperti kemarin setelah mengetahui keme.sumannya yang tidak terduga.
Lift yang biasa ia naiki saat ini tidak penuh. Hanya terisi sedikit orang yang terbiasa datang pagi. Setelah sampai di lantai sepuluh, Mona langsung menuju ke kursi kerjanya. Hanya ada tiga orang di ruangan itu. Dan mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Lalu Satria masuk ke ruang kerja dan tersenyum menyapanya. "Pagi, Mona."
"Pagi, Mas Satria," sahutnya.
"Elu datang lebih awal lagi seperti sebelumnya. Nggak nunggu Pak Arsen lagi?" tanya pria itu.
Kedua alis Mona bertaut. "Maksud kamu apa, Mas?"
"Gue hanya berpikir kalau semua wanita di sini suka nungguin Pak Arsen." Dia lalu duduk di kursinya.
“Ah ... Kemarin aku kesiangan bangun pagi. Jadi … aku nggak sengaja bertemu dengannya di lantai satu.” Gadis itu memberinya alasan. Tentu saja itu bohong.
"Oh. Begitu. Oke, oke. Hari ini, tetap semangat, ya!"
"Ya. Makasih, Mas."
Setelah percakapan itu, Mona kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian karyawan lain datang satu per satu. Termasuk Arsen. Dia berjalan menuju ke ruangannya sembari menyapa yang lain dengan senyum hangatnya.
Waktu makan siang Mona masih berpikir tentang siapa gadis seksi yang dipikirkan sang CEO. Setidaknya gadis itu ingin tahu. Apakah gadis itu Lusi? Atau Kila? Atau mungkin wanita lain di gedung ini?
****
Satu minggu setelahnya, Mona masih membuat jarak dengan Arsen. Dia juga mulai terbiasa dengan pekerjaan sebagai karyawan dengan tumpukan dokumen. Pukul enam petang, gadis itu baru menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menyimpan data, dia segera pulang. Langkah kakinya menggema saat melewati lorong dan kemudian berjalan menuju ke supermarket untuk membeli beberapa stok makanan.
Ada supermarket di dekat kantor. Jadi, sekaligus berbelanja sebelum pulang. Mona membeli beras, beberapa roti, su.su, telur, sayuran, dan buah-buahan. Lalu memasukkannya ke dalam keranjang hingga penuh. Dan segera menuju ke kasir.
"Sudah, Mbak?" tanya seorang pria yang lebih muda darinya.
"Ya. Udah, Mas."
"Oke. Tunggu sebentar biar saya hitung," ucapnya sembari menurunkan belanjaan tersebut.
‘Ya Tuhan. Aku capek.' Keluhan kembali terdengar dari pria muda di hadapannya.
‘How lucky I am! Aku menemukannya. Ternyata dia masih di sini. Berjalanlah secara alami seolah-olah kita nggak sengaja ketemu.’ Seseorang berkata di belakang Mona.
Gadis itu memilih berpura-pura fokus pada petugas kasir.
"Mona?" panggil seseorang di belakangnya.
Gadis itu segera menoleh untuk melihat siapa dia. Arsen?
Mona tersenyum. "Ah. Hai.”
‘Apa maksudnya tadi dengan berjalan secara alami?’ pikirnya.
"Ah. Kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini. Sudah mau pulang?" Arsen bertanya dengan senyum hangatnya lagi.
"Ah. Iya, Pak," jawabnya.
"Ini totalnya, Mbak,” ucap sang kasir. Mona segera membayar.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Mbak."
Kemudian gadis itu segera berjalan untuk mempersilakan atasannya itu. “Saya duluan, ya, Pak,” ucapnya saat melewati sang CEO.
"Tunggu!" Seruan Arsen menghentikan langkah Mona.
Gadis itu pun segera menoleh. "A-ada apa, Pak?"
Pria itu tampak gelisah. 'Duh. Apa, ya ....'
"Biar aku antar pulang," tawarnya setelah beberapa detik berpikir.
"Eh. Tidak usah, Pak. Saya nggak mau ngerepotin Pak Arsen," balas Mona sembari tersenyum kaku.
"Nggak! Maksudku jangan! Ini kan sudah gelap, sedangkan kamu cewek. Jadi, biarkan aku mengantarmu sampai rumah," tawar pria itu lagi.
"Tunggu sebentar! Pokoknya nggak boleh pergi ke mana-mana! Ini perintah!" ujar pria itu yang kemudian berbalik untuk membayar ke kasir.
Mona terpaksa menunggunya. Setelah selesai berbelanja, keduanya pun memasuki mobil putih milik Arsen. Dengan sigapnya pria itu juga memasangkan sabuk pengaman untuk Mona. Hal itu membuat jantungnya berdebar kencang.
'Ya Tuhan ... Mona benar-benar cantik kalau dilihat dari dekat ....' batin Arsen yang mampu didengar oleh karyawannya itu.
Wajah Mona perlahan bersemu kemerahan.
"Dah. Sekarang aku akan mengantarmu pulang. Beri tahu aku di mana rumahmu?" tanya Arsen yang sudah kembali menegakkan tubuhnya.
"Emmm. Saya tinggal di kostan Indah, Pak. Di jalan Pahlawan," jawab Mona yang sesaat lupa tentang gangguan dari isi pikiran atasannya itu.
"Oke. Aku akan mengantarmu ke sana," balas pria itu sembari mengangguk.
Keduanya pun diam selama dalam perjalanan. Tak sepenuhnya diam sebenarnya. Karena Mona kembali dapat mendengar pikiran sang atasan. Meski wajah tampan itu begitu serius berkonsentrasi pada jalanan, namun, di dalam pikirannya sungguh berkecamuk pikiran-pikiran kotornya.
'Hahhh. Berdua saja dengan cewek memang selalu membuatku tak tenang. Apa lagi cewek itu Mona, adik kelasku sewaktu SMA.'
Gadis di sampingnya hanya diam. Menyimak tentang isi pikiran sang atasan. Mungkin saja di hari sebelumnya dia salah menilai Arsen.
'Ya Tuhan. Mona benar-benar cantik seperti beberapa hari sebelumnya.'
Dahi Mona mengernyit. Gadis itu memfokuskan pikirannya.
'Dia kemarin tampak seksi meski memakai pakaian tertutup dan tidak ketat. Sungguh. Waktu dia berjalan di depanku aku ingin sekali menyentuh bo.kongnya. Aromanya juga wangi. Dan kini akhirnya aku bisa berdua saja dengannya.'
Kedua mata Mona langsung membulat. Jadi selama beberapa hari ini yang menjadi fantasi Arsen adalah dirinya? Dan konyolnya kini dia harus duduk di samping pria itu.
Tanpa sadar Mona menoleh menatap wajah sang atasan dengan tatapan tak percaya. Baru saja dia kembali diyakinkan bahwa laki-laki kalem dan berkharisma yang tengah fokus mengemudi adalah seorang pria me.sum. Sungguh mencengangkan. Dan dia tak menyangka bahwa dirinya lah yang menjadi sasaran sang pria me.sum ini.
"Ada apa, Mona? Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Arsen sembari menoleh. Kini mobil putih itu tengah berhenti di lampu merah.
Mona segera mengalihkan pandangannya. Gadis itu mencoba tenang. "Ng ... Nggak ada apa-apa, Pak Arsen," jawabnya.
'Lihatlah wajahnya yang tersipu. Ah ... Aku jadi ingin menciumnya,' batin Arsen lagi dengan masih menatapi wajah cantik Mona.
"P-Pak ... Saya turun di sini saja, ya?" tanya Mona yang sudah tak tahan dengan keme.suman Arsen.
"Loh? Kenapa? Ini sudah mau sampai. Aku antar sampai kostan kamu. Jangan khawatir," tutur pria itu.
'Aku tak mau melewatkan kesempatan ini untuk mengetahui tempat tinggalmu.'
Mona mengembuskan napas pasrah. 'Ya Tuhan ... Kenapa aku harus tahu isi pikiran pria ini? Parahnya dia sekarang akan tahu di mana aku tinggal. Kenapa kamu harus me.sum, sih, Pak?'
Mobil kembali melaju. Mona pun diam sembari masih mendengarkan isi pikiran sang atasan yang dapat membuat bulu kuduknya berdiri.
'Kalau tiba-tiba kita terjebak di dalam mobil berdua saja, apa ya yang akan terjadi? Ah ... Shi.t! Membayangkannya saja sudah membuatku mau turn on,' pikir pria itu lagi sembari membuat gerakan kecil pada kursi kemudinya.
***