‘Kalau benar kita berdua terjebak di dalam mobil, aku pasti sudah gila! Ah ... Shi.t! Jika dibayangkan terus aku bisa benar-benar turn on di sini. Bisa gawat.’ Pikiran Arsen membuatnya gelisah sendiri.
‘Tapi berdua saja dengan gadis secantik Mona benar-benar membuatku tak dapat berhenti berpikiran aneh tentangnya. Sungguh. Dari sekian banyak gadis yang aku temui, hanya Mona lah yang berbeda. Dia seolah memiliki pesonanya tersendiri.’ Pria itu kembali bergumul dengan pikirannya sendiri.
Kedua mata bulat yang indah dari gadis yang duduk di sampingnya mengerjap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari pikiran sang atasan. Bagaimana bisa pria itu terpesona padanya?
Arsen tiba-tiba kembali bergerak dengan gelisah. Sepertinya pria itu berlebihan menatap Mona.
‘Ayolah lampu ... cepatlah hijau! Aku benar-benar bingung memulai obrolan. Sudah lama aku tak bertemu dengan Mona.’
“Oh iya, Mona.” Arsen mulai membuka pembicaraan setelah beberapa saat. Tak nyaman jika suasana secanggung itu.
“Ya, Pak?” Mona menyembunyikan wajahnya yang masih kaget dengan isi pikiran sang CEO.
‘Lihatlah betapa manisnya dia. Ah ... Tahan Arsen!’
“Ehem.” Pria itu berdeham untuk mengatasi rasa gugupnya.
“Besok ─”
“Pak lampunya sudah hijau. Kita harus jalan!” ucap Mona bersamaan dengan pria di sampingnya.
Benar saja. Lampu lalu lintas sudah menjadi hijau. Bahkan kendaraan di belakang mobil Arsen sudah membunyikan klakson beberapa kali. Pria itu terpaksa menunda kalimatnya dan segera melajukan mobil tersebut.
Setelah beberapa meter melaju, Mona memberanikan diri untuk mendongak menatap pria di sampingnya.
“Tadi Bapak mau bilang apa?” tanya gadis itu.
Arsen tersenyum. “Ah. Nggak. Nggak apa-apa,” balas pria itu.
“Oh ... begitu,” ucap Mona sembari kembali mengalihkan perhatiannya ke luar jendela mobil.
‘Yah. Padahal tadi aku cuma mau bilang kalau besok aku mau ngajak dia makan siang,’ batin pria itu lagi.
Mobil pun kembali melaju dengan kesunyian suara kedua orang di dalamnya. Hanya saja Mona masih bisa mendengarkan pikiran-pikiran Arsen yang terkadang memujinya secara berlebihan. Gadis itu tak mengira bahwa dirinya lah yang menjadi sasaran fantasi sang CEO me.sum itu. Namun, hati kecilnya bersorak ria saking senangnya saat tahu pria itu menganggapnya cantik.
Setelah beberapa belas menit lamanya di dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan berlantai dua. Arsen menghentikan mobilnya setelah mendapatkan aba-aba dari Mona.
“Berhenti di sini aja, Pak,” ucap Mona. Gadis itu segera melepaskan sabuk pengamannya. Ia tak mau terlalu dekat dengan Arsen seperti sebelumnya.
“Oh. Oke,” balas Arsen sembari mematikan mesin mobil.
“Terima kasih sudah mau mengantarkan saya, Pak Arsen,” ucap gadis itu sembari tersenyum.
‘Ya Allah. Manisnya ....’
“Ah. Iya. Sama-sama.” Arsen pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis dengan karyawannya.
“Emmm. Ka-kalau begitu saya turun, ya, Pak. Sekali lagi terima kasih atas tumpangannya,” ucap Mona.
Gadis itu sesekali mengangguk dengan sopan sebagai tanda hormatnya pada sang atasan. Kemudian ia membuka pintu dan segera turun. Arsen pun ikut turun dari mobilnya.
“Loh. Bapak kenapa ikut turun?” tanya Mona yang curiga. Mau apa atasannya itu? Pikirnya.
Arsen menatap Mona dengan penuh tanya. “Aku mau buka bagasi. Mau mengambilkan belanjaan kamu,” jawab pria itu.
“O-oh ... iya. Saya hampir lupa,” balas Mona.
Gadis itu tersenyum kikuk. Gara-gara terus mendengarkan pikiran kotor sang atasan dia jadi melupakan barang belanjaannya. Baru saja dia juga berpikir jika Arsen akan ikut mengantarnya sampai ke dalam kostan. Sungguh. Sepertinya pikiran Mona sendiri sudah mulai diracuni oleh pria me.sum itu.
Arsen segera membuka bagasi mobilnya. Pria itu pun menyerahkan barang belanjaan milik Mona. Dengan tangan terjulur, Mona menerimanya dengan malu-malu.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya.
“Sama-sama, Mona. Emmm.” Pria itu tiba-tiba kembali menggaruk hidungnya yang mancung.
‘Duh. Apa, ya? Sayang banget kalau langsung pulang,’ batinnya membuat Mona merinding. Apa maksud pria itu?
“Ini.” Tiba-tiba saja Arsen menyerahkan sebuah kantong plastik putih pada gadis di hadapannya.
“A-apa ini, Pak?” tanya gadis itu sebelum menerimanya.
“Ini beberapa keripik yang aku beli tadi,” jawabnya.
Dahi Mona mengernyit. “Tapi itu kan punya Bapak.”
“Aku ... sebenarnya aku sengaja mau memberikannya untukmu.”
“Untuk saya? Kenapa?” tanya gadis itu lagi.
“Terima saja dulu!” Arsen menarik salah satu tangan Mona dan segera menyerahkan kantong berisi beraneka macam camilan.
“Pak ....”
“Ini sebagai ucapan selamat untukmu, Mona. Selamat ya sudah diterima di PT Midfast. Semoga kamu bisa betah bekerja bersamaku,” tutur pria itu dengan senyuman tulus. “Maaf kalau aku telat memberikannya. Seharusnya beberapa hari yang lalu saat kamu baru masuk kerja aku ingin merayakannya pas makan siang. Tapi kamu sudah sibuk,” imbuhnya kembali menggaruk hidung.
Mona terkejut mendengar pengakuannya. Gadis itu pun menarik pelan tangan kanannya yang masih digenggam oleh Arsen. Pria itu pun langsung menarik tangannya kembali.
“Ah. Sorry.”
“Nggak papa, Pak. Terima kasih, ya. Saya benar-benar senang menerimanya,” balas Mona ikut tersenyum dengan wajah yang mulai bersemu.
‘Shi.t! Dia tersenyum lagi. Aku benar-benar nggak tahan ingin menciumnya,’ batin Arsen lagi dengan wajah yang masih sama seperti sebelumnya. Kalem dan berkharisma. Menutupi keme.sumannya itu.
Ekspektasi Mona kembali luruh. Wajahnya semakin memerah mendengar pikiran sang atasan. Sebagai seorang gadis yang belum pernah berpacaran, tentulah hal tersebut sangat sulit ia terima.
“Sekali lagi terima kasih, Pak! Dan selamat malam,” ucap Mona.
Gadis itu menunduk sejenak lalu segera berlari kecil untuk memasuki kostannya. Wajahnya benar-benar sudah merah padam. Dia tak sanggup jika membayangkan pikiran Arsen benar-benar terjadi padanya. Mona pun segera membuka pintu dan segera menutupnya. Tubuhnya kini bersandar pada pintu diikuti dengan suara degupan jantungnya yang tak beraturan.
‘Ya Tuhan ... Kenapa Pak Arsen memikirkan hal seperti itu? Nggak tahu apa kalau hatiku mau meledak!’ sungut Mona sembari memegangi bibirnya. Kantong kresek yang dia bawa pun sudah jatuh ke lantai.
‘Tapi dia me.sum banget. Kenapa tadi sampai turn on segala? Apa maksudnya coba? Apa pakaianku terlalu ketat?’ Mona pun becermin pada cermin besar di dekat pintu. Memeriksa pakaiannya.
Tidak ketat dan terhitung tertutup. Ternyata memang pikiran Arsen lah yang bermasalah.
Di luar kostan, Arsen tersenyum lebar saat menatapi pintu sudah kembali tertutup. Pria itu kini tahu di mana salah satu karyawannya tinggal.
“Kostan Indah kamar nomor dua,” gumamnya sembari memainkan kunci mobil.
Pria itu segera beranjak dari tempatnya. Dia pun menyalakan mesin mobil dan kembali melajukannya kembali ke rumah. Arsen sudah cukup senang mengantarkan Mona ke tempat tinggal gadis itu. Dalam keheningan malam, pria itu masih saja memikirkan betapa manisnya gadis yang baru saja ia antar pulang.
***