Pagi kembali menyapa. Mona terbangun karena suara bising dari alarm ponselnya. Gadis itu segera membuka mata, lalu beranjak dari kasurnya dan segera membersihkan diri.
Wajahnya yang sayu sehabis bangun tidur menatap cermin di depannya. Ia kembali teringat dengan sasaran fantasi sang atasan. Pertanyaan pun muncul di dalam benaknya.
"Kenapa Pak Arsen bisa memiliki pemikiran seperti itu? Apa Pak Arsen juga berlaku sama dengan perempuan lain?" Mona bergidik geli dengan sifat asli atasannya itu.
Setelah selesai sarapan, gadis itu segera merias wajahnya yang sebenarnya sudah cantik alami. Polesan make up tipis begitu sempurna di wajahnya. Tak lupa ia kembali memakai kacamatanya. Segera setelah itu, Mona bergegas keluar kostan dan berjalan menuju tepi jalan untuk menghadang bis.
Tak perlu waktu lama, bis yang biasanya ia tumpangi sudah tiba. Segera saja gadis itu masuk dan bergabung dengan beberapa orang yang juga hendak berangkat kerja maupun sekolah. Mona terdiam saat ia kembali mendengarkan berbagai macam pikiran orang yang berada di dekatnya.
Beberapa menit setelah kepergian Mona, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan kamar kost Mona. Kaca hitamnya pun diturunkan, menampakkan seorang pria tampan seperti aktor ternama dari negeri Sakura.
Pria itu menatap pintu kostan Indah nomor dua dari dalam mobilnya. Kemudian dia segera meraih ponsel dan hendak mengirimkan sebuah pesan.
'Oh shi.t! Aku kan nggak punya nomornya Mona,' umpat Arsen sembari meletakkan kembali ponselnya. Dia benar-benar bodoh karena tak menyimpan nomor salah satu karyawannya itu.
Arsen kemudian segera turun dari mobilnya. Pria itu membuka pagar besi dan segera berjalan menuju kamar nomor dua. Dia segera mengetuk pintu kamar tersebut.
"Assalamu'alaikum, Mona!" panggil pria itu.
Namun, setelah ketukan ketiga, masih tak terdengar jawaban dari dalam. Arsen pun menilik arlojinya.
"Apa mungkin dia sudah berangkat, ya?" gumamnya.
Pria itu segera meninggalkan kostan tersebut dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Arsen lalu segera melajukan mobilnya menuju kantor. Selama di dalam perjalanan dia menyesal karena tak dapat menjemput Mona lebih pagi. Dia ingin berangkat ke kantor bersama gadis yang sudah lama menarik perhatiannya itu.
Sesampainya di kantor, Arsen bergegas menuju ke lift. Berharap dia akan kembali berpapasan dengan Mona lagi seperti beberapa hari sebelumnya. Namun sayang, tepat setelah ia melangkah masuk ke dalam gedung, Mona sudah menghilang ke dalam lift terlebih dahulu bersama beberapa karyawan lain.
'Hah. Sial,' umpat Arsen dalam hati.
Mona tak sadar jika dia sedang diikuti oleh atasannya. Gadis itu seperti biasa akan memulai pekerjaannya. Kembali ke depan layar monitor yang terpantul oleh kacamatanya.
'Beruntung aku nggak bertemu Pak Arsen lagi. Sepertinya dia memang tipe orang yang suka berangkat mendekati jam masuk kerja,' batin Mona.
"Selamat pagi, Mona," sapa Arsen tepat setelah gadis itu baru saja bernapas lega.
Mona mendongak. Gadis itu selalu bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya yang manis mencoba tersenyum ramah. Kini Arsen berdiri tepat di hadapannya dengan deru napas yang terdengar tak beraturan. Nampaknya Arsen baru saja berlari.
"Pagi, Pak Arsen," balas gadis itu.
'Senyuman yang manis,' batin Arsen.
"Oh iya. Tadi aku ke kostanmu. Ternyata kamu sudah berangkat lebih dulu. Ternyata kamu memang karyawan teladan, ya," puji pria itu dengan senyuman penuh kharisma.
"Hehe. Iya, Pak," balas Mona. Gadis itu masih saja merasa tak nyaman setelah tahu bahwa dirinya yang dijadikan sasaran fantasi sang atasan.
"Oh iya. Nanti ...."
"Ah! Maaf, Pak. Saya mau ke belakang dulu," ucap Mona memotong ucapan pria yang masih berdiri di hadapannya.
"Baiklah."
Gadis itu segera beranjak dari duduknya. Dia langsung melesat keluar ruangan untuk menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Apa itu tadi? Pak Arsen ke kostan aku dulu sebelum ke kantor?" gumam gadis itu tak percaya.
"Argh. Padahal aku mau menghindarinya dulu. Memangnya kenapa, sih? Kenapa aku juga yang dijadikan fantasi liarnya? Nggak ada cewek lain apa?" sungut gadis itu masih dengan suara pelan.
Hingga siang hari, Mona mencoba tetap fokus pada pekerjaannya. Beruntung ada Satria dan Kila yang mau bercengkerama dengannya sehingga dia sedikit lupa dengan sifat asli sang atasan.
"Sudah jam istirahat. Kita makan siang bareng, yuk!" ajak Satria pada tiga wanita yang berada di hadapannya.
"Ayo, Mas," balas Mona setuju.
"Aku nggak ikut. Kalian duluan aja," ujar Lusi dengan tatapan malas.
"Ya udah. Kita bertiga aja. Ayo!" Satria beranjak dari duduknya diikuti Kila dan Mona.
Lusi pun kembali berpura-pura sibuk dengan komputernya. Padahal gadis itu hanya sedang menunggu Arsen keluar dari ruangannya untuk diajak makan siang bersama. Mona tentu saja tahu dengan rencana di dalam isi kepala Lusi. Namun, gadis itu membiarkannya. Toh, dia memang sedang ingin menghindari Arsen.
*****
Sudah dua hari berlalu. Arsen selalu gagal menjemput Mona. Bahkan saat hendak mengajaknya pulang bersama, Mona selalu bersama Satria dan Kila. Pria itu jadi tak bisa bebas mengajak gadis incarannya.
Bahkan Arsen sadar jika dirinya tengah dihindari oleh Mona. Pria itu pun bingung dengan perubahan sikap salah satu karyawannya. Seandainya dia tahu bahwa Mona menghindar dari pikiran kotornya, maka pasti Arsen akan menjaga isi pikirannya itu.
Arsen pun mendapatkan sebuah ide. Saat masih dalam jam kerja, dia menghampiri meja kerja Mona dengan membawa sebendel dokumen. Lalu dengan sengaja pria itu meletakkannya di depan Mona.
Gadis berkacamata itu mendongak untuk melihat siapa yang memberikannya sebendel dokumen. Ternyata Arsen si pria me.sum.
'Semoga ini berhasil,' batin pria itu yang langsung didengar oleh Mona.
"Mona. Aku minta kamu membantuku untuk menyelesaikan dokumen ini!" ujar Arsen sembari mengetuk-ngetuk dokumen tersebut dengan jari telunjuknya.
"Sa-saya, Pak?"
"Iya. Kamu kan karyawan baru, jadi aku ingin mengetesmu sekalian," balas pria itu memberikan alasan.
'Tidak, Mona. Aku hanya ingin bersamamu,' batin Arsen yang lainnya.
Kenapa juga pria itu ingin bersamanya? Apakah dia tak tahu bahwa jantung Mona selalu meledak-ledak saat bersamanya?
"Pak Arsen. Biar saya saja yang membantu. Bukankah Mona karyawan baru? Jadi dia belum tahu bagaimana caranya," ucap Lusi yang tiba-tiba ikut campur. Padahal wanita itu hanya iri dengan Mona.
"Tidak, Lusi. Terima kasih. Justru karena Mona adalah karyawan baru, makanya aku memintanya. Sekalian belajar," balas Arsen dengan keramahannya yang khas namun tegas.
"Baiklah, Pak," cicit Lusi yang kecewa.
"Ayo, Mona! Kita nggak punya banyak waktu!" ajak Arsen sembari memutar tubuhnya.
"Ba-baik, Pak." Mona tak dapat menolak. Bagaimana pun juga ini merupakan perintah sang atasan.
Lalu gadis itu segera beranjak dari duduknya dan berjalan mengekor sang pria tampan yang berkharisma. Ia merasa usahanya menghindar akan berakhir sia-sia. Kini mereka pun berada di depan pintu ruangan sang CEO.
***