Arsen membuka pintu ruangannya. Pria itu masuk terlebih dahulu kemudian menahan pintu tersebut dan membiarkan Mona ikut masuk. Kedua orang itu kini berada di dalam ruangan sang CEO.
Arsen segera menuju ke meja kerjanya. Mona hanya diam mematung menunggu intruksi dari sang atasan.
'Akhirnya aku bisa membawa Mona kemari,' batin pria itu. Mona menelan ludahnya sendiri dengan gugup. Mau apa pria itu?
"Ehem." Dehaman Arsen mengejutkan gadis itu.
"Mona. Duduklah kemari!" perintah sang CEO sembari menunjuk sebuah kursi di hadapannya.
"Ba-baik, Pak," balas Mona gugup. Gadis itu segera melangkahkan kakinya dan duduk di hadapan Arsen. Dokumen yang sedari tadi dia bawa pun diletakkan di atas meja.
"Jadi begini, aku mau minta tolong kamu buat memeriksa dokumen ini. Tolong cek apakah sudah benar dengan yang ada di catatan!" Pria itu kembali memberikan perintah. Sebuah tumpukan catatan pun dia serahkan pada Mona untuk segera diperiksa.
"Baik, Pak," balas Mona.
Suasana di dalam ruangan pun hening. Arsen mulai menyibukkan dirinya dengan mengecek perkembangan perusahaan melalui layar komputernya. Pria itu sesekali melirik dan memperhatikan gadis cantik di hadapannya.
'Tuhan. Mona benar-benar cantik meski dengan wajah serius seperti itu,' batin Arsen. Mona merasa tersanjung.
'Hahhh. Kita kembali terjebak di satu ruangan. Aku jadi grogi. Tenanglah diriku. Kita cuma kerja, nggak ngapa-ngapain. Tenangkan dirimu Arsen! Meski Mona cantik dan seksi, kau tak boleh macam-macam padanya!' Pria itu kembali berceloteh dalam diam.
Dahi Mona mengernyit. Gadis itu sebenarnya penasaran mengapa sang atasan bisa memiliki pikiran kotor semacam itu terhadap dirinya.
Suasana kembali hening. Hanya ada suara detak jarum jam dinding serta suara pikiran Arsen yang terdengar oleh Mona. Gadis itu pun diam-diam memeriksa pakaian yang ia kenakan. Masih aman karena tak terlalu ketat dan masih menyembunyikan bentuk tubuhnya.
'Andai saja Mona merias diri dan memakai gaun yang cantik, aku yakin dia akan bertambah cantik dan seksi. Apa lagi kalau ... Ah! Shi.t! Lagi-lagi aku teringat dengan waktu itu.'
Mona bergidik geli kembali. Gadis itu semakin gelisah berada satu ruangan saja dengan sang atasan yang me.sum. Kenapa pria itu tidak bekerja saja dan malah memikirkan hal kotor tentang dirinya?
'Tunggu! Memangnya Pak Arsen teringat dengan apa?' batin Mona yang memikirkan kalimat terakhir sang atasan. Dia ingin tahu.
'Mona. Andai saja kamu tahu ... Tapi aku takut kamu akan marah padaku ....'
Gadis itu tanpa sadar mendongak dan menatap pria di hadapannya. Keduanya pun saling bertatapan untuk beberapa saat. Kira-kira apa yang akan membuat dirinya marah?
Arsen tersenyum manis. "Ada apa, Mona? Apa ada kesulitan?" tanya pria itu.
Mona kembali tersadar. Dia pun menggeleng pelan. "Ah. Tidak, Pak. Sampai saat ini belum ada kesulitan," jawabnya.
"Baiklah." Arsen berpura-pura menghadap komputernya lagi. Dia sedari tadi memperhatikan karyawannya itu terus menerus.
Keduanya kembali mengerjakan pekerjaan mereka. Lalu ponsel Arsen tiba-tiba berbunyi. Menandakan sebuah pesan masuk. Pria itu segera meraih ponselnya.
Kedua alis tebal Arsen bertaut saat membaca pesan yang ia terima. Pria itu pun tampak berpikir sejenak sebelum membalas pesan tersebut.
"Emmm. Mona," panggil pria itu.
"Ya, Pak?"
"Aku butuh bantuanmu. Begini, sebenarnya aku harus mengikuti meeting ke Singapura besok. Jadi ... untuk dokumen ini kamu bawa saja ke mejamu. Siang ini aku harus bersiap-siap," tuturnya.
"Baik, Pak."
Mona membereskan dokumen-dokumen tersebut.
Arsen pun segera beranjak dari duduknya. 'Hahhh. Kenapa malah besok, sih? Padahal hari ini aku mau ngajak Mona pulang bareng mumpung bisa dekat,' batin pria itu sebelum berdiri.
"Ka-kalau begitu saya kembali ke meja saya, Pak," ucap gadis itu.
"Ya, silakan."
Mona segera keluar dari ruangan sang atasan. Tak nyaman jika hanya berdua saja dengan pria yang memiliki pikiran me.sum seperti itu. Gadis itu pun bernapas lega. Apa lagi di hari berikutnya sang atasan akan berada di Singapura untuk beberapa waktu.
Mona kembali duduk di kursi kerjanya. Lusi tentu saja menatapnya dengan tidak senang.
'Dih. Nyebelin banget. Kenapa juga dia senyum-senyum gitu setelah keluar dari ruangan Pak Arsen,' gerutunya dalam hati. Namun, Mona tak peduli. Yang terpenting dia bebas dari Arsen meski hanya beberapa hari.
Beberapa saat kemudian, sang CEO keluar dari ruangannya untuk menemui beberapa pemimpin perusahaan. Pria itu juga akan mempersiapkan untuk pertemuannya esok hari.
"Mona," panggil Satria.
Gadis itu pun menoleh. "Ya, Mas?"
"Denger-denger lu udah lama kenal sama Pak Arsen, ya?" tanya pria itu.
"Iya, Mas."
"Sudah sejak kapan?" tanya Arsen penasaran. Lusi hanya berpura-pura tidak mendengar.
"Emmm. Sebenarnya Pak Arsen itu kakak kelasku waktu SMA, Mas. Jadi dulu waktu aku kelas satu, Pak Arsen kelas tiga," jelas Mona.
"Oh ... Pantesan," ujar Satria sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Pantesan kenapa?" tanya Mona yang penasaran karena Satria bahkan tak memikirkan kelanjutan dari ucapannya.
"Pantesan kalian kaya deket gitu. Pasti waktu SMA elu juga deket sama Pak Arsen," ujar pria itu lagi.
Mona tersenyum kaku. "Nggak terlalu deket sih sebenarnya. Tapi yah ... kita memang cukup akrab waktu itu."
"O-oh ...."
"Udah deh. Kalian kerja! Jangan malah ngobrol. Atau aku laporin ke Pak Brian," ancam Lusi dengan tatapan tajam yang tak menyenangkan.
"Ih. Nggak asyik Mbak Lusi. Apa-apa diaduin," balas Satria. Namun, pria itu memutar kursi dan kembali menghadap komputernya.
Mona pun melakukan hal yang sama. Gadis itu akan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
'Dasar. Kukira dia cuma kenal doang sama Pak Arsen. Ternyata cukup akrab. Sejauh apa sih hubungannya? Ah. Tapi pasti ya cuma kakak kelas populer sama adik kelas kucel,' ledek Lusi dalam hati sembari terkekeh pelan.
Mona menautkan kedua alisnya. Dia kesal karena dihina perempuan kucel oleh sang senior. Andai saja Lusi tahu tentang masa lalunya dengan sang atasan serta bagaimana kedekatan mereka semasa remaja, dia pasti akan bungkam. Namun, Mona bukanlah tipe orang yang akan menceritakan masa lalunya pada orang lain. Apa lagi jika harus mengenang kisah memilukan mengenai kedua orang tuanya yang telah tiada.
Berbeda dengan Arsen, pria itu tengah menemui beberapa pimpinan. Dia kemudian teringat akan sesuatu.
'Sial! Kenapa tadi aku malah lupa nggak minta nomornya Mona? Bodoh banget. Padahal tadi kita berduaan. Ya sudahlah. Aku akan minta nomornya nanti ke Pak Brian setelah pulang dari Singapura,' sungutnya dalam hati.
"Pak Arsen, apa ada masalah, Pak?" tanya seorang pria.
"Tidak, Pak. Tidak ada. Emmm. Karena pertemuan ini sudah clear, maka saya permisi dulu," ucap Arsen dengan sopan.
"Iya, Pak Arsen. Silakan."
***