Rasa Kangen

1018 Kata
Keesokan harinya, Arsen benar-benar pergi ke luar negeri. Perjalanannya itu sudah direncanakan beberapa minggu yang lalu. Pria itu pun pergi meninggalkan kantor tempatnya bekerja serta meninggalkan Mona untuk sementara waktu. Mona pun kini tengah sibuk melanjutkan tugas yang diberikan oleh sang atasan. Sebelum pria itu pergi, dia meninggalkan setumpukan dokumen untuknya agar diperiksa. Gadis itu pun dengan tenang mampu menyelesaikannya dengan waktu yang terbilang cepat. Kini setelah semua pekerjaannya selesai, Mona dapat bernapas lega. Selama beberapa hari ke depan dia tak akan berjumpa dengan si pria me.sum itu lagi. Hingga beberapa hari kemudian, Mona merasa ada yang hilang. Jika biasanya dia akan melihat senyuman ramah Arsen dari jauh, kini dia sama sekali tak dapat menyaksikan senyuman hangat itu. 'Tunggu! Kenapa aku malah kepikiran sama si CEO me.sum itu? Ingatlah Mona, bos-mu itu nggak beres! Meski dia cinta pertamamu, tapi dia berbeda dari yang kamu pikirkan!' batin gadis itu memperingatkan dirinya sendiri. Setelah empat hari, Arsen sudah kembali ke bandara internasional di negaranya. Pria itu kini tengah berjalan menuju ke mobil yang menjemputnya. Langkahnya begitu tegap dan mantap. Penampilannya pun tak pernah mengecewakan para kaum hawa yang memandangnya, begitu sempurna. 'Mona ... Aku kangen sama kamu. Meski kita baru beberapa hari tak bertemu, rasanya sudah seperti tiga tahun.' Pria itu berkata dalam hati sembari melangkahkan kaki. "Selamat sore, Pak Arsen. Saya yang akan mengantar Bapak pulang ke rumah," sapa seorang pria paruh baya yang merupakan sopir dengan ramah. "Baik, Pak," balas Arsen tak kalah ramahnya. Mobil itu pun segera melaju meninggalkan bandara. Arsen kembali terdiam. Dia kembali teringat dengan gadis yang dia rindukan. Ingatannya menerawang. 'Mona ... Jika waktunya tiba, aku akan menyatakan perasaanku padamu,' ucapnya dalam hati. Ingatan Arsen kini menuju pada saat dirinya masih kelas tiga SMA. Pria itu sudah menjadi populer di usia mudanya. Meski dia merupakan siswa populer, namun dia sama sekali tidak senang. Pasalnya para gadis hanya menyukai ketampanan wajahnya saja. Mereka bahkan tak peduli dengan prestasi yang dia raih dengan usaha keras. Hingga suatu hari dia bertemu seorang gadis cantik dengan rambut panjang berombak. Dia adalah Mona. Gadis itu bahkan menghindarinya. Dulu Mona belum mengenakan kacamata. Mona merupakan gadis yang tergolong cantik dan cerdas. "Mas. Tolong kalau mau duduk jangan di situ!" ucap Mona remaja pada Arsen. Laki-laki itu tengah duduk di tangga. Sedangkan Mona hendak turun menuju ke kelasnya. Arsen yang tengah bersantai dari kejaran para perempuan pun kaget dengan kemunculan Mona. "Ah. Sorry. Lewat aja!" balas Arsen dengan santai. Dia lebih memilih bersandar pada tembok dan memberikan jalan pada sang adik kelas. Mona pun tak mau ambil pusing. Gadis itu melewati Arsen begitu saja dengan memeluk dua buah buku. Karena tak terlalu memperhatikan, Mona tidak sadar jika tali pada salah satu sepatunya lepas. Alhasil gadis itu pun jatuh terjerembab di hadapan Arsen. "Ish. Sakit ...." rintihnya pelan. Arsen yang menyaksikan bagaimana gadis itu terjatuh pun akhirnya beranjak dari duduknya yang nyaman. Dia membantu Mona dengan mengulurkan tangannya. "Kamu nggak papa?" tanya Arsen remaja. Mona mendongak untuk melihat wajah laki-laki yang hendak menolongnya. Bukannya meraih tangan Arsen, gadis itu malah langsung berdiri meski lututnya terasa sakit. "Aku nggak papa." jawabnya. Arsen menunduk dan dia melihat ada darah yang keluar dari lutut Mona. Kedua alisnya pun saling bertaut. Gadis itu segera pergi meninggalkan Arsen dengan buku-bukunya. Namun, Arsen berhasil menghentikannya. "Kakimu berdarah," ucap Arsen. Mona menoleh menatap remaja laki-laki yang lebih tua darinya. Gadis itu sejenak menatap datar, lalu dia menunduk dan melihat kakinya sudah berdarah tanpa dia ketahui. Kembali dia menatap wajah Arsen dan kali ini dengan wajah yang sedikit memucat. "Kenapa malah dibilangin ...." cicitnya membuat Arsen bingung. "Ya udah kamu cepetan ke UKS biar diobatin!" balas laki-laki itu. Wajah Mona semakin memucat. Gadis itu pun tiba-tiba pingsan. Beruntung Arsen langsung menangkapnya. Kini kembali ke Arsen dewasa. Pria itu tersenyum saat teringat Mona yang begitu takut dengan darah. Dia yang awalnya mengira Mona sama dengan gadis lain, mengetahui sisi lain dari gadis pendiam itu. Hanya Mona-lah yang tak menilai dia dari penampilannya. Namun, saat mendekati hari kelulusan Arsen, Mona malah menghindari dirinya. 'Padahal waktu itu aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku belum berani. Apa lagi dulu aku hampir ketahuan saat sembunyi di ruang ganti dari kejaran para perempuan. Kamu pasti akan marah kalau tahu aku pernah tak sengaja mengintipmu,' batin Arsen sembari menutupi wajahnya sendiri. Dan inilah awal mula kenapa Arsen tak dapat melupakan Mona. Remaja itu terus menerus memikirkan gadis yang memang telah mencuri perhatiannya sejak lama. "Pak," panggil pria itu kemudian pada sang sopir. "Ya, Pak?" "Sebelum saya pulang, bolehkah saya minta diantar ke suatu tempat?" tanya Arsen. "Boleh, Pak. Pak Arsen mau ke mana?" Sang sopir bertanya balik. "Saya mau menemui teman saya, tolong antarkan saya ke kostan Indah, ya, Pak! Nanti saya tunjukkan jalannya," jawab pria itu sembari tersenyum lebar. "Baik, Pak." Arsen sudah rindu dengan karyawan barunya itu. Dia akan mulai mendekati Mona lagi. Pelan-pelan dia yakin pasti bisa mendapatkan hati gadis itu. Karena hanya bersama Mona-lah dia tak bisa mengendalikan pikiran kotornya. Setelah beberapa puluh menit berlalu, akhirnya mobil yang ditumpangi pria itu berhenti di depan sebuah kostan berlantai dua. Arsen pun segera turun dan menuju ke kamar kostan nomor dua tempat di mana Mona tinggal. Pria itu bersandar di depan pintu masuk. Sesekali dia memeriksa arlojinya. Sore itu tepat dengan waktu pulang bekerja. Selang beberapa menit kemudian, muncullah gadis yang ia tunggu-tunggu. Mona begitu terkejut karena melihat sang atasan sudah menunggunya di depan pintu kostan. 'Pak Arsen ngapain di sini?' tanya gadis itu dalam hati. Sang atasan langsung senang ketika melihat kepulangannya. Pria itu pun tersenyum saat menghampiri Mona. 'Akhirnya kamu pulang juga,' batin Arsen. "Loh, Pak Arsen kok udah di sini?" tanya Mona yang tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Arsen menggaruk hidungnya. "Aku memang tengah menunggumu. Ini," ujarnya sembari memberikan sebuah totebag pada Mona. Gadis itu menerimanya dengan bingung. "Itu oleh-oleh untukmu," imbuh Arsen kemudian. "Te-terima kasih, Pak," balas Mona. "Ya. Sama-sama. Emmm ...." Pria itu menggantungkan kalimatnya. 'Mona, aku menyukaimu,' sambungnya dalam hati namun masih dapat didengar oleh gadis di hadapannya. Mona tentu saja terkejut mendengar isi pikiran dari sang atasan. Akan tetapi dia mencoba tetap tenang. "Mona ...." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN