Feeling

1048 Kata
"Mona ...." panggil pria itu seraya memberikan tatapan lembut. Jantung Mona berdegup kencang karena dia baru saja mendengar pernyataan sang atasan dari dalam hatinya. 'Katakan saja, Arsen! Katakan kalau kamu menyukainya!' ucap pria itu pada dirinya sendiri. 'Ya Tuhan ... Apa benar kata-kata Pak Arsen barusan bahwa dia menyukaiku?' Mona pun ikut bertanya di dalam hatinya. Tiba-tiba saja ponsel Arsen berdering. Pria itu segera meraih ponsel yang berada di dalam saku jasnya. Saat melihat nama orang yang menghubunginya, kedua matanya melebar. "Maaf, Mona. Aku angkat telfon dulu," ujarnya. "Silakan, Pak." Segera saja pria itu menerima panggilan tersebut. "Assalamualaikum. Ada apa, Pah?" tanya Arsen pada seseorang di ujung panggilan. "Apa, Bi? Baiklah. Aku segera ke sana," ucapnya kemudian dengan wajah yang berubah panik. Arsen menutup panggilannya. Pria itu lalu menatap wajah Mona yang masih menunggu. "Mona. Maaf. Aku harus segera pulang," ucap Arsen. "Iya, Pak. Tidak apa-apa." 'Maafkan aku karena aku nggak jadi mengungkapkan perasaanku padamu, Mona,' imbuhnya dalam hati. "Kalau gitu sampai jumpa lagi di kantor. Assalamualaikum," ucap pria itu sembari berlalu pergi. Meninggalkan kamar kostan Indah nomor dua. "Waalaikumussalam." Mona menatap kepergian sang atasan. Punggungnya yang lebar kini menghilang di balik kaca hitam taksi yang masih menunggunya. Arsen pun pergi meninggalkan Mona dengan jantungnya yang tak henti-hentinya berpacu. "Ya Allah. Apa bener tadi perasaannya Pak Arsen?" gumam gadis itu setelah kepergian sang atasan. Segera saja Mona masuk ke dalam konstannya. Kini ia bersandar pada pintu dan tangannya diletakkan pada dadanya sehingga dia bisa merasakan debaran jantungnya. "Deg-degan banget tadi ...." imbuhnya sembari menarik napas berat. Di tempat lain, Arsen tengah duduk dengan gelisah di bangku penumpang. Taksi tersebut pun melaju dengan pasti melintasi jalan raya yang cukup padat. Pria itu menuju ke sebuah rumah sakit di kotanya. Setelah mendapatkan telepon tadi, dia tak henti-hentinya terus memikirkan keadaan sang ayah. Setelah beberapa belas menit kemudian, mobil tersebut berhenti di depan sebuah rumah sakit. Dengan segera Arsen mengambil kopernya dan sebuah totebag. "Terima kasih, Pak. Kembaliannya buat Bapak saja," ucapnya seraya membayar. Sang sopir pun menerima uang tersebut. "Terima kasih banyak, Pak Arsen. Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga ayah Bapak lekas sembuh," tutur sopir tersebut dengan sopan. Arsen tersenyum lembut. "Iya, Pak. Amiin. Terima kasih." Pria tampan itu bergegas memasuki rumah sakit. Dia langsung bertanya pada resepsionis mengenai kamar sang ayah. Dengan mudahnya Arsen mampu menemukan kamar rawat ayahnya. Kini pria itu memasuki sebuah kamar VIP. Pandangannya langsung menangkap seorang pria paruh baya yang terbaring di sebuah tempat tidur. Pria itu menatap sang putra yang tengah menutup pintu kamarnya. "Pah. Gimana keadaan Papah?" tanya pria itu. Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan menghampiri Arsen. "Pak Willy sudah mendingan, Den," ucapnya. "Alhamdulillah kalau gitu, Bi. Terima kasih karena sudah memberi tahuku," balas Arsen sembari tersenyum. "Kalau begitu saya permisi dulu, Den. Saya akan kembali lagi nanti. Dan barang bawaan Den Arsen biar Bibi saja yang bawa pulang," tawar wanita tersebut. "Iya, Bi. Terima kasih." "Iya, Den. Pak Willy, saya permisi," ucap sang asisten rumah tangga pada William, ayah Arsen. "Iya, Mae. Terima kasih," balas William dengan suara lemah. Arsen pun duduk pada sebuah kursi di sebelah sang ayah. Setelah kepergian Maemunah, kini gilirannya untuk menjaga sang ayah. Jas abu-abu yang sedari tadi ia kenakan pun ia tanggalkan bersama dasinya. Kemudian ia gantungkan pada sandaran kursi dan kembali menatap sang ayah. "Gimana keadaan Papah sekarang? Apa masih ada yang sakit?" tanya Arsen dengan penuh perhatian. "Aku sudah mendingan, Ars. Tadi juga sudah diperiksa dan diberi obat sama Dokter," jawab William sembari menatap anaknya. "Alhamdulillah kalau sudah baik-baik saja, Pah. Lagian kenapa Papah bisa sakit gini? Papah pasti kelelahan," ucap pemuda itu. William menatap lurus ke arah putranya. "Kemarin lusa aku bertemu beberapa kolega, Ars. Dan mereka mengajakku main golf." "Nah. Papah pasti sakit karena kecapekan main golf sama teman-teman Papah," ucap sang anak. "Bukan. Papah kan memang udah lama sakit, Ars. Lagi pula aku juga ingin sekali-sekali jalan-jalan keluar," tutur William. Arsen melihat wajah murung sang ayah. Setelah kepergian ibunya, William memang menjadi sering sakit-sakitan. Pemuda itu pun mengusap pelan tangan ayahnya yang hangat. "Iya, Pah. Aku ngerti. Gimana kalau pas aku libur kerja kita jalan-jalan? Kita ke makam Mamah juga?" tanya Arsen dengan senyumannya yang lembut. William menatap putra tunggalnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian pria paruh baya itu melepaskan genggaman tangan anaknya. "Dari pada itu, Papah ingin melihatmu menikah," tuturnya yang beralih menatap langit-langit kamar. Arsen tak terkejut mendengarnya. Sang ayah memang sudah terlalu sering memintanya untuk segera menikah. Hanya saja dia selalu mengelak dari permintaan sang ayah. William sangat ingin melihat calon menantu yang dibawa oleh putranya. Namun, Arsen sama sekali belum pernah memperkenalkan satu orang pun. "Pah. Aku akan segera membawakan calon mantu buat Papah," ucap pemuda tersebut dengan tatapan sungguh-sungguh. Yang ada di dalam pikirannya kini adalah wajah manis Mona yang tersenyum padanya. Bahkan aroma manis gadis itu pun seolah tercium di indera penciumannya. William menoleh. Ia menatap tak percaya pada ucapan putranya. Padahal sebelumnya Arsen selalu membuat alasan. Putranya selalu bilang bahwa ia belum menemukan seseorang yang cocok. Bahkan saat hendak dijodohkan pun dirinya selalu menolak dengan keras. "Benarkah ucapanmu itu, Ars?" tanya William penuh harap. "Iya, Pah. Akhirnya aku menemukan gadis yang selama ini aku cintai," jawabnya. "Jadi, maksudmu kamu bertemu dengan cinta masa SMA-mu itu?" Arsen mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya pria itu memang sudah bertahun-tahun terobsesi pada Mona Sandrina, adik kelasnya yang manis. Baginya Mona berbeda dengan para perempuan yang selalu mengejarnya karena ketampanannya saja. Mona selalu melihat sisi lain dirinya dan tahu bagaimana dirinya berjuang untuk menjadi seseorang yang berprestasi. "Baguslah kalau begitu. Kapan-kapan ajak dia! Papah ingin bertemu dengannya," ucap William. "Iya, Pah. Aku akan segera mengajaknya. Tapi Papah harus sembuh dulu." Arsen menyelimuti tubuh sang ayah. Pria itu kembali teringat dengan gadis yang baru saja ia temui. Apakah Mona mau menerima dirinya? Padahal dulu dia pernah menjauhi Mona karena takut perasaannya akan diketahui gadis itu. Dia juga menjauhi Mona karena kesalahannya yang tak sengaja pernah mengintip gadis itu. Kini setelah sekian lama, dia bertemu kembali dengan Mona. 'Apa kamu mau maafin aku, Mona? Kalau kamu tahu aku pernah ngintip kamu, kamu pasti anggep aku cowok me.sum. Tapi ... setelah kejadian itu aku nggak bisa lupain tubuhmu,' pikir Arsen kembali dengan ingatannya tentang Mona. 'Aku harus melakukan sesuatu. Setidaknya aku akan mengungkapkan perasaanku padamu,' tegasnya dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN