Setelah semua masalah selesai, Mona dan Arsen dapat bernapas lega. Kini dua orang tersebut hendak kembali ke apartemen mereka. Arsen benar-benar senang karena pernikahannya ia yakin akan berjalan mulus tanpa halangan. "Nggak usah senyum-senyum!" celetuk Mona. Arsen yang tengah mengemudi, tak dapat menyembunyikan rasa leganya. Dia benar-benar bangga dengan kakasihnya itu. Memiliki kekasih yang bisa membaca pikiran ternyata sangat membantu. Tak henti-hentinya pria itu terus memuji Mona lewat pikirannya. "Apaan sih?" sungut Mona dengan wajah tersipu. "Hehe. Makasih banget ya, Sayang," ucap Arsen sembari mengusap lembut pipi gadis yang duduk di sampingnya. "Hm." Sunyi sesaat. Mona kembali mendengarkan pikiran me.sum sang atasan. 'Oh, Mona. Aku semakin nggak sabar dengan hari pernikahan k

