Mona dapat merasakan debaran jantung sang atasan. Jarak mereka begitu dekat. Lengan kekar Arsen terasa hangat di tubuhnya. 'Ah. Akhirnya aku bisa memelukmu, Mona,' batin Arsen sembari mengeratkan pelukannya. "Mas Arsen ...." cicit gadis itu malu. Aroma maskulin pria yang mendekapnya tercium semakin kuat. Hal ini dikarenakan oleh keringat yang membuat aroma parfum Arsen menguar dari tubuh pria itu. "Mona. Biarkan seperti ini dulu. Aku benar-benar sudah menahan perasaanku sejak lama," bisik Arsen tepat di telinga kanan gadisnya. Mona tak berani menatap pria yang memeluknya. Gadis itu memilih menunduk menatap kedua sepatunya. Keduanya pun diam untuk beberapa saat. 'Aku ingin seperti ini lebih lama. Kuharap kamu siap menjadi istriku,' batin Arsen kembali memikirkan rencananya. Sepertinya

