Lusi terkejut mendengar ajakan tersebut. Gadis itu menelan ludahnya. Namun, dia harus tetap tenang dan memikirkan cara lain agar Arsen tak membawanya ke rumah sakit. "Kenapa Bapak bilang begitu? Apa Bapak nggak percaya? Apa Pak Arsen nggak mau mengakui darah daging Bapak sendiri?" Gadis itu mencoba mengalihkan masalahnya dengan pertanyaan. Namun, nampaknya usaha tersebut tak berpengaruh pada sang atasan. Arsen sudah tak mau lagi percaya padanya. "Bagaimana aku bisa percaya dia darah dagingku padahal aku belum pernah menyentuhmu?" ucapnya dingin. Lusi membisu. Semua pandangan tertuju ke arah mereka berdua. Suara Lusi yang cukup keras sudah menarik perhatian para karyawan di ruangan tersebut. Padahal Arsen sudah mengajaknya dengan suara cukup pelan. "Kalau kamu nggak mau ikut, aku akan

